Karmuji_Penyuluh Agama Islam KUA Tuban
Segala puji bagi Allah SWT yang telah mengutus Baginda Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah dengan tugas utama menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada beliau, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang istiqamah di jalan kebenaran.
Membangun karakter berarti membangun manusia seutuhnya. Untuk mencapai derajat tersebut, setiap individu harus memahami empat dimensi dalam dirinya. Syekh Abdul Qadir al-Jaelani mengibaratkan dimensi ini seperti “supermarket” atau perusahaan besar. Penulis meyakini bahwa diri manusia adalah sebuah entitas produksi yang dituntut menghasilkan “komoditas” amal yang baik dan benar.
Di bulan Ramadan ini, efisiensi produksi amal kita diuji. Setiap hasil produksi akan tercatat akurat dalam dokumen khusus bernama Tha’irah, yang terhubung langsung dengan pusat data Illiyin di sisi Allah SWT. Kelak, seluruh laporan ini akan diaudit oleh “Badan Pemeriksa Amal”. Mereka yang mampu memproduksi amal saleh di atas 50% sesuai standar operasional prosedur (SOP) Al-Qur’an dan Al-Hadis, akan menerima buku laporan dengan tangan kanan dan dianugerahi istana megah di akhirat. Sebaliknya, kegagalan mencapai target produksi amal akan berujung pada catatan tangan kiri, kecuali bagi mereka yang mendapatkan amnesti (syafaat) dari Sang Raja Maha Adil.
Berikut adalah empat “divisi perusahaan” dalam diri manusia yang harus dikelola untuk memproduksi amal berkualitas, dengan Allah SWT sebagai Pembeli utamanya:
1. Perusahaan Jasmani (Raga): Divisi Syariat
Jasmani bertugas memproduksi “Kebenaran Level Pertama”, yaitu amal-amal lahiriah yang berkaitan dengan Syariat Islam: Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji. Di bulan Ramadan, divisi raga ini bekerja ekstra melalui ibadah puasa, tadarus, dan qiyamul lail.
Setiap gerak-gerik jasmani dipantau 24 jam tanpa jeda. Mereka yang konsisten memproduksi amal syariat yang murni—sesuai tuntunan Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan empat mazhab (Maliki, Hanafi, Syafi’i, Hambali)—akan dianugerahi pangkat kewalian atau karamah sebagai bentuk “penghargaan perusahaan”. Di akhirat, mereka akan menempati Surga Ma’wa.
Peringatan: Iblis dan setan hanya diizinkan mengganggu di wilayah operasional syariat ini. Mereka berusaha menyabotase produksi amal agar manusia meninggalkan kewajiban atau memproduksi “barang palsu” berupa dosa (syirik, maksiat, dll). Senjata utama melawan sabotase ini adalah kalimat Tauhid La ilaha illallah dan Istighfar. Agar senjata ini tajam, kita memerlukan bimbingan dari seorang “Empu Ruhani” (Mursyid) guna menghadapi Jihad Akbar melawan nafsu.
2. Perusahaan Jiwa (Qalbu): Divisi Akhlak
Wilayah hati jauh lebih luas dan dalam. Tugasnya adalah memproduksi “Kebenaran Level Kedua”, yakni karakter mulia (Akhlakul Karimah). Esensinya adalah Takhalluq bi Akhlaqillah—meneladani sifat-sifat Allah (Asmaul Husna) dalam batas kemanusiaan.
Ramadan adalah momentum internalisasi nama-nama Allah ke dalam jiwa. Melalui zikir, riyadhah (latihan spiritual), dan kontemplasi, kita menanam bibit Syajarah Thayyibah—pohon kebaikan yang akarnya menghunjam kuat dan buahnya bermanfaat bagi sesama. Jika jiwa telah “hidup”, ia akan memasuki Alam Malakut dan meraih Surga An-Na’im. Inilah misi utama pendidikan nasional dan esensi didirikannya NKRI: membentuk bangsa yang berkarakter.
3. Perusahaan Pikiran (Al-Fuad): Divisi Makrifat
Al-Fuad adalah pikiran yang menyala oleh cahaya kebenaran. Tugasnya memproduksi “Kebenaran Level Ketiga” berupa ilmu pengetahuan yang benar (Makrifat). Pikiran yang terhubung dengan jiwa yang bersih tidak hanya menghasilkan analisis akademik, tetapi juga ilmu Ladunni yang bermanfaat bagi peradaban.
Inilah level para filosof dan ulama besar yang ucapannya menjadi hikmah bagi dunia. Mereka adalah penghuni Alam Jabbarut dan kelak menempati Surga Firdaus. Tanpa sinar Ilahi (terutama di bulan penuh cahaya ini), pikiran hanya akan memproduksi informasi yang kering dan rawan salah arah.
4. Perusahaan Rasa (Sirr): Divisi Hakikat
Sirr adalah dimensi terdalam manusia. Tugasnya adalah berkomunikasi langsung dengan Sumber Kebenaran. Pada tahap ini, manusia tidak lagi sekadar mencari, tetapi telah “menyatu” dengan nilai-nilai kebenaran itu sendiri. Inilah kondisi Fitrah, Insan Kamil, atau manusia ideal yang menjadi cermin Tuhan di muka bumi.
Penutup: Urgensi Hierarki Pembangunan Karakter
Membangun karakter tidak bisa dilakukan secara acak. Ia harus sistematis:
- Jasmani: Memastikan produksi amal Syariat berjalan disiplin.
- Jiwa: Memproduksi karakter dan akhlak mulia.
- Pikiran: Menghasilkan ilmu pengetahuan yang benar.
- Rasa: Menjaga koneksi tanpa henti dengan Allah SWT.
Ramadan hadir sebagai waktu terbaik untuk melakukan “audit internal” dan peningkatan kapasitas produksi di keempat divisi tersebut. Semoga tulisan singkat ini menjadi tambahan wawasan yang bermanfaat dan tercatat sebagai amal jariyah di sisi Allah SWT.





Comment