Karmuji_Penyuluh Agama Islam_KUA Tuban
Bulan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri terutama dalam mengelola emosi dan menjaga hati. Di era digital, ujian itu tidak hanya hadir melalui lisan, tetapi juga melalui tulisan, komentar, unggahan, dan berbagai aktivitas di media sosial. Apa yang kita bagikan dapat menjadi ladang pahala, namun juga berpotensi menjadi sumber dosa. Karena itu, manajemen emosi menjadi kunci agar Ramadhan benar-benar menjadi bulan penyucian diri.
1. Gibah di Dunia Nyata dan Dunia Maya
Gibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang ia tidak suka jika mendengarnya, meskipun itu benar adanya. Rasulullah ﷺ menjelaskan:
Hadis (HR. Muslim):
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟
قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.
قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
“Tahukah kalian apa itu gibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak suka.”
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…”
Di media sosial, gibah sering hadir dalam bentuk komentar sinis, sindiran, membagikan aib orang lain, atau menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya. Jempol yang mengetik dapat lebih tajam daripada lisan yang berbicara.
Rasulullah ﷺ bersabda: Hadis (HR. Bukhari dan Muslim):
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
2. Riya’ di Balik Unggahan Ibadah
Ramadhan identik dengan peningkatan ibadah. Namun di balik itu, ada penyakit hati yang perlu diwaspadai, yaitu riya’—beramal karena ingin dilihat dan dipuji manusia.
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Ma’un: 4–6:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya’.”
Dalam hadis qudsi (HR. Muslim), Allah ﷻ berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal yang ia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku di dalamnya, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya.”
Tentang keistimewaan puasa, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:
Hadis (HR. Bukhari dan Muslim):
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Puasa mengajarkan keikhlasan. Maka jagalah niat, bahkan ketika beraktivitas di media sosial.
3. Bijak Bermedia Sosial: Menahan, Memilah, dan Mengarahkan
1) Menahan Diri
Rasulullah ﷺ bersabda: Hadis (HR. Bukhari dan Muslim):
الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan pula berbuat bodoh. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”
2) Memilah Informasi
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
3) Mengarahkan pada Kebaikan
Rasulullah ﷺ bersabda: Hadis (HR. Muslim):
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
Ramadhan sebagai Latihan Pengendalian Diri
Manajemen emosi di bulan Ramadhan bukan hanya tentang menahan marah, tetapi juga menjaga lisan dan jempol dari gibah, menjaga hati dari riya’, serta membiasakan diri untuk bijak dalam setiap tindakan.
Ramadhan adalah sekolah kesabaran dan keikhlasan. Jika kita mampu menjaga diri selama sebulan penuh, semoga kebiasaan itu terus terbawa setelah Ramadhan berlalu.
Karena pada akhirnya, yang kita cari bukanlah pengakuan manusia, melainkan ridha Allah ﷻ. Dan boleh jadi, dalam unggahan yang tidak pernah kita kirim dan komentar yang kita tahan, tersimpan pahala besar di sisi-Nya.





Comment