Di era digital saat ini, hilal Ramadhan tidak hanya tampak di ufuk langit, tapi juga muncul lebih awal di beranda media sosial kita. Foto sajian buka puasa yang estetik, video tadarus dengan lighting sempurna, hingga update lokasi salat Tarawih menjadi pemandangan sehari-hari.
Namun, muncul sebuah pertanyaan besar di balik layar ponsel kita: Apakah konten tersebut merupakan syiar untuk menginspirasi, atau sekadar ajang pamer (riya) demi validasi?
Niat: Garis Tipis Antara Pahala dan Sia-sia
Media sosial adalah pedang bermata dua. Satu unggahan bisa menjadi amal jariyah jika niatnya mengajak pada kebaikan, namun bisa juga menghanguskan pahala jika tujuannya hanya ingin dipuji manusia.
Rasulullah SAW telah memperingatkan kita tentang bahaya riya yang sangat halus:
إِنَّ أَخْوفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya: “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya (pamer).” (Hadis Riwayat Ahmad)
Allah SWT juga berfirman tentang kerugian orang yang beramal hanya karena ingin dilihat orang lain:
(٤) فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
(٥) الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
(٦) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya.” QS. Al-Ma’un: 4-6
Menjadikan Konten sebagai Syiar (Inspirasi)
Bukan berarti kita harus benar-benar “menghilang” dari media sosial selama Ramadhan. Islam mencintai keindahan dan menganjurkan kita untuk saling memberi tahu dalam kebaikan. Jika unggahan jadwal kajian atau kutipan ayat Quran Anda membuat orang lain tergerak untuk beribadah, maka itu adalah Inspirasi. Allah SWT berfirman:
إِن تُبْدُوا۟ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِىَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّـَٔاتِكُمْ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu…” QS. Al-Baqarah: 271
Ayat ini mengajarkan bahwa menampakkan amal saleh diperbolehkan selama tujuannya adalah untuk contoh yang baik (uswah) dan hati tetap terjaga dari kesombongan.
Tips Menjaga Hati di Media Sosial Selama Ramadhan:
- Audit Niat Sebelum Klik ‘Share’: Tanyakan pada diri sendiri, “Kalau postingan ini tidak ada yang memberi ‘Like’, apakah saya tetap merasa bahagia karena telah berbagi kebaikan?”
- Prioritaskan Kualitas Ibadah Realita: Jangan sampai waktu untuk mengedit video aesthetic lebih lama daripada waktu untuk membaca Al-Qur’an itu sendiri.
- Jaga Perasaan Orang Lain: Saat mengunggah kemewahan berbuka, ingatlah ada saudara kita yang mungkin berbuka dengan sangat sederhana.
- Gunakan Fitur ‘Hidden’: Terkadang, ada ibadah-ibadah “rahasia” yang jauh lebih manis jika hanya Allah yang tahu.
Ramadhan di media sosial adalah tentang manajemen hati. Mari kita ubah jempol kita menjadi jembatan hidayah bagi orang lain, bukan sekadar etalase kesalehan pribadi.
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ
“Siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu perbuatan itu diikuti oleh orang lain, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)





Comment