عِنْدَمَا يَخْبُو مِصْبَاحُ الْقَلْبِ, لِمَاذَا يُوَاجِهُ الْإِنْسَانُ الْمُعَاصِرُ التَّيْهَ الرُّوحِيَّ فِي ظِلِّ الْفَيْضِ الْمَعْلُومَاتِيِّ
Mutiara Hikah dari Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari
الفِكْرَةُ سِرَاجُ القَلْبِ، فَإِذَا ذَهَبَتْ فَلَا إِضَاءَةَ لَهُ
“Berpikir (tafakur) adalah lentera hati. Jika ia padam, maka tidak ada lagi cahaya baginya.”[1]
Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap aktivitas fikr (tafakur) sebagai jalan menghidupkan hati dalam QS. Ali ‘Imran (3): 190-191:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulul albab). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…”[2]
Ibnu Abi Hatim dan At-Thabarani meriwayatkan dari Ibnu Abbas dkk, bahwa orang-orang Quraisy mendatangi kaum Yahudi dan bertanya: “Mukjizat apa yang dibawa Musa kepada kalian?” Mereka menjawab: “Tongkat dan tangannya yang putih bersinar.” Lalu mereka mendatangi kaum Nasrani dan bertanya hal yang sama tentang Isa, dijawab: “Menyembuhkan orang buta, sopak, dan menghidupkan orang mati.”
Setelah itu, mereka mendatangi Rasulullah SAW dan menuntut: “Berdoalah kepada Tuhanmu agar bukit Shafa ini diubah menjadi emas untuk kami.” Maka Rasulullah SAW berdoa, lalu turunlah ayat ini (QS. Ali ‘Imran: 190-191) sebagai jawaban bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta (yang menuntut tafakur) jauh lebih besar daripada sekadar mukjizat material yang mereka minta.[3]
Rasulullah bersunyi-sunyi (tahannuts) dan menangis saat ayat di atas turun. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ummul Mukminin Aisyah
وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهَا وَلَمْ يَتَفَكَّرْ فِيهَا
“Celakalah bagi orang yang membaca ayat ini (QS. Ali ‘Imran: 190) namun tidak mau memikirkannya (merenungkannya).”[4]
Bilal bin Rabah datang menemui Rasulullah SAW untuk mengumandangkan azan subuh. Bilal melihat beliau sedang menangis tersedu-sedu hingga membasahi janggut dan tempat sujudnya. Bilal bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang?”
Beliau menjawab: “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur? Sungguh, malam ini telah turun kepadaku sebuah ayat…” Kemudian beliau membaca ayat 190-191 surat Ali ‘Imran tersebut dan menyambungnya dengan sabda di atas: “Celakalah bagi orang yang membaca ayat ini namun tidak mau memikirkannya.”[5]
Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari (W. 709 H)
Dalam kitab monumentalnya, Al-Hikam, beliau secara eksplisit menuliskan hikmah yang mirip dan menjelaskan maknanya secara mendalam:
الفِكْرَةُ سَيْرُ القَلْبِ فِي مَيَادِينِ الأَغْيَارِ
“Fikir itu adalah perjalanan hati mengarungi medan-medan selain Allah (untuk melihat keagungan pencipta-Nya).” Beliau juga menyatakan bahwa fikirlah yang menyinari hati: “Fikir adalah lentera hati, jika ia hilang, maka hati tidak memiliki cahaya.”[6]
Imam Al-Ghazali (W. 505 H)
Dalam Ihya Ulumuddin, dalam Kitab At-Tafakkur, Hujjatul Islam menjelaskan: “Ketahuilah bahwa buah dari tafakur adalah al-ma’rifah (pengenalan) dan al-ahwal (perubahan kondisi spiritual). Ketika cahaya tafakur menyinari hati, maka hati akan melihat hakikat dunia yang fana dan akhirat yang kekal. Jika lentera fikir ini padam, hati menjadi buta (fala idha’ata lahu), ia akan meraba-raba dalam kegelapan syahwat.”[7]
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani (W. 561 H)
Dalam kitab Sirr al-Asrar, Sultanul Auliya menjelaskan bahwa tafakur terbagi dua: Pertama, Tafakur Zhahir (memikirkan ciptaan Allah untuk melihat sifat-sifat-Nya). Kedua, Tafakur Bathin (memikirkan gerak-gerik hati agar selalu sinkron dengan Allah). Beliau menyebut bahwa matinya fikiran bathin ini akan menggelapkan ruhani dari nur ilahi.[8]
Novelty: “Hikmah ini menegaskan bahwa kegelapan spiritual yang melanda manusia modern bukan disebabkan oleh defisit informasi atau ketertinggalan sains dan teknologi, melainkan akibat redupnya fungsi lentera hati yaitu tafakur substantif. Manusia kontemporer terjebak dalam arus “berpikir kalkulatif” (calculative thinking) yang mekanis, namun kehilangan kemampuan untuk “berpikir meditatif” (meditative/spiritual thinking) yang mendalam.”
Referensi
[1] Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari, Syarah Al-Hikam oleh Syeikh Ahmad Zarruq, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, hal. 142. [2] Al-Qur’anul Karim, Surah Ali ‘Imran [3] 190-191. [3]: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an (Tafsir At-Thabari), Dar Hijr, Kairo, Jilid 6, hal. 305. [4] Abu Hatim Muhammad bin Hibban (Ibnu Hibban), Shahih Ibnu Hibban, Al-Risalah, Beirut, Jilid 2, No. Hadis 620, hal. 386. (Status: Shahih menurut Syu’aib al-Arnaut). [5] Abu Bakar Ahmad bin Husain Al-Baihaqi, Shu’ab al-Iman, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, Jilid 4, hal. 120. [6] Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari, Kitab Al-Hikam, Mathba’ah Al-Istiqamah, Kairo, hal. 68. [7] Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, Dar al-Ma’rifah, Beirut, Jilid 4, Kitab At-Tafakkur, hal. 421. [8] Abdul Qadir Al-Jailani, Sirr al-Asrar fima Yahtaju ilaihi al-Abrar, Dar al-Sanabil, Damaskus, hal. 89.





Comment