Banyak di antara kita yang merasa bahwa tugas mengajak pada kebaikan hanyalah milik mereka yang bergelar Ustaz, Kiai, atau Ulama. Padahal, jika kita menyelami hakikat iman, dakwah adalah denyut nadi setiap muslim. Ia adalah manifestasi rasa syukur atas hidayah yang telah kita terima.
Setiap muslim memikul tanggung jawab ganda: saleh secara pribadi (beribadah kepada Allah) dan saleh secara sosial (mengajak orang lain kepada kebaikan). Inilah esensi sejati dari keberagaman kita.
Perkataan Terbaik di Sisi Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kedudukan yang sangat istimewa bagi mereka yang mau meluangkan waktu dan lisannya untuk menyeru kepada jalan-Nya. Allah berfirman:
وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?'” (QS. Fuṣṣilat [41]: 33)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada retorika atau ucapan yang lebih mulia di kolong langit ini selain ajakan untuk kembali kepada Allah. Dakwah bukan sekadar orasi di mimbar, tapi juga mencakup perilaku nyata (dakwah bil hal) yang mencerminkan identitas keislaman yang kuat.
Investasi Pahala Tanpa Batas
Mengajak seseorang pada satu kebaikan kecil seperti mengajak shalat berjamaah atau sekadar berbagi ilmu yang bermanfaat adalah investasi yang tidak akan pernah merugi. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
”Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim: 2674)
Hadits ini adalah “kabar gembira” sekaligus “peringatan”. Setiap satu orang yang tergerak hatinya karena lisan atau perbuatan kita, maka pahala ibadah orang tersebut akan mengalir pula ke rekening akhirat kita, tanpa mengurangi haknya sedikit pun.
Dakwah Sesuai Kapasitas
Dakwah tidak harus menunggu kita menjadi ahli tafsir. Prinsipnya sederhana:
“Sampaikan dariku walau satu ayat.”
Seorang Ayah berdakwah kepada anak istrinya dengan keteladanan.
Seorang Pengusaha berdakwah dengan kejujuran dalam berdagang.
Seorang Pemuda berdakwah melalui konten positif di media sosial.
Memulai dari lingkungan terkecil dengan cara yang santun (hikmah) adalah langkah paling efektif. Jika kita diam melihat kemungkaran, maka kegelapanlah yang akan menang. Namun jika setiap orang beriman menyalakan satu lilin kebaikan, maka dunia akan terang benderang dengan cahaya Islam.
Dakwah adalah tanda cinta. Kita mengajak orang lain ke surga karena kita tidak ingin masuk ke dalamnya sendirian. Mari jadikan sisa usia kita sebagai sarana menebar manfaat, agar pahala terus mengalir deras bahkan ketika raga kita sudah bersatu dengan tanah.





Comment