Guru dan Penyuluh Agama: Penjaga Akal, Penuntun Hati, Pewaris Misi Rahmatan lil-‘Alamin

Gambar Ilustrasi

Dua profesi yang sering kali luput dari sorotan gemerlap media, namun memikul tugas yang bersifat kosmik, adalah Guru dan Penyuluh Agama. Mereka merupakan arsitek jiwa dan penjaga tatanan sosial. Guru merawat semesta melalui transfer pengetahuan, penanaman karakter, dan praktik cinta, sementara Penyuluh Agama merawat masyarakat dengan bimbingan spiritual dan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin, yaitu rahmat bagi seluruh alam. Meski beroperasi dalam keheningan, dampak kolektif mereka membentuk moralitas, menopang peradaban, dan menjaga keseimbangan kehidupan sosial dari jurang kerusakan. Tulisan ini mendiskusikan kedudukan luhur kedua profesi ini secara filosofis, spiritual, pedagogis, dan budaya.

Guru: Pahlawan yang Merawat Semesta dengan Cinta dan Pengetahuan
Guru sejati bukan sekadar penyampai informasi, melainkan seorang ‘Pahlawan Senyap’ yang merawat tatanan semesta melalui pembentukan manusia yang utuh.
1. Guru sebagai Penjaga Kesadaran Kritis dan Tatanan Kosmik
Dalam perspektif filosofis, peran guru adalah mengarahkan esensi manusia menuju kebenaran dan kebaikan. Menurut Plato dalam The Republic, pendidikan adalah proses menggerakkan jiwa dari kegelapan menuju cahaya. Dalam konteks ini, guru menjadi penjaga tatanan kosmik dengan membimbing jiwa (mikrokosmos) menuju keteraturan dan kebijaksanaan (makrokosmos).
– Agen Kesadaran Kritis:
Guru adalah pahlawan yang membangun fondasi peradaban melalui:
– Ilmu: Sebagai sarana mencapai kebijaksanaan.
– Keteladanan: Menjadi model perilaku etis (berdasarkan filosofi Jawa: Digugu lan Ditiru).
– Karakter: Pilar moralitas individu dan sosial.
– Cinta: Energi utama dalam bimbingan.
– Pembebasan Freire:
Paulo Freire menekankan bahwa guru adalah agen kesadaran kritis (conscientização), yang mengajak murid untuk tidak hanya mengetahui, tetapi juga sadar akan realitas dan keadilan.
2. Cinta sebagai Energi Pendidikan dan Pilar Merawat Semesta
Guru merawat semesta dengan menanamkan kesadaran tentang pentingnya lingkungan. Pendidikan sebagai praktik cinta, menurut Bell Hooks, mencakup:
– Ketulusan (Agape): Kepedulian tanpa pamrih.
– Kesediaan Mendengar: Menghargai suara dan pengalaman otentik murid.
– Kehendak untuk Membimbing: Memfasilitasi pertumbuhan.
Nilai-nilai luhur Nusantara, seperti prinsip Sunda: Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, sejalan dengan praktik cinta ini. Guru yang meninternalisasi nilai-nilai ini menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.
3. Guru sebagai Penanam Benih Peradaban yang Berkelanjutan
John Dewey menyatakan bahwa pendidikan adalah metode fundamental bagi masyarakat untuk mempertahankan dan memperbarui diri. Guru berfungsi sebagai pelaksana metode ini dalam membentuk manusia yang etis dan beradab.

Penyuluh Agama: Merawat Masyarakat dengan Rahmatan lil-‘Alamin
Penyuluh Agama adalah penerus misi profetik yang berfokus pada ranah spiritual, sosial, dan etika. Mereka bertugas menyebarkan kasih sayang universal yang tercantum dalam Al-Qur’an.
1. Memahami Rahmatan lil-‘Alamin secara Universal:
Konsep ini mengedepankan kasih sayang yang tidak terikat pada kelompok tertentu, melainkan mencakup seluruh umat manusia. Penyuluh Agama berperan sebagai mediator sosial, pengajar, dan pendorong harmoni dalam masyarakat.
2. Tugas Penyuluh Agama sebagai Perawat Harmoni Sosial:
Dalam literatur resmi Kementerian Agama RI, penyuluh agama digariskan sebagai agen pencerahan dan penjaga harmoni, bertugas untuk:
– Menyampaikan edukasi keagamaan yang menenangkan.
– Memberikan bimbingan moral bagi keluarga dan komunitas rentan.
– Mendorong moderasi dalam beragama.
– Menawarkan solusi atas konflik sosial dan ketidakharmonisan lainnya.
3. Rahmatan lil-‘Alamin sebagai Paradigma Kerja:
Nilai ini harus diterapkan dalam praktik nyata, menjadikan kehadiran penyuluh agama sebagai berkah bagi masyarakat.

Titik Temu: Penjaga Kehidupan dan Pelayan Peradaban
Guru dan Penyuluh Agama, meski berada di bidang berbeda, bersatu dalam satu pengabdian: menjaga kehidupan. Keduanya bertujuan membentuk manusia yang utuh (insan kamil), di mana Guru mempertajam akal melalui ilmu dan cinta, sedangkan Penyuluh Agama melunakkan hati melalui rahmat dan spiritualitas.

Pahlawan Senyap yang Menopang Peradaban
Mereka merupakan fondasi tak terlihat dalam masyarakat, mencegah kerusakan moral, menjaga tatanan etis, dan menciptakan masyarakat yang beradab. Dalam senyap, mereka berjuang untuk kebaikan tanpa pamrih, menyelamatkan dunia melalui kekuatan pengetahuan, cinta, dan doa. Guru merawat semesta dengan cinta, dan Penyuluh Agama merawat masyarakat dengan rahmatan lil-‘alamin. Dua profesi ini memastikan peradaban manusia tidak tersesat dalam kegelapan ketidaktahuan dan intoleransi, dan merekalah yang meninggalkan jejak kebaikan serta menjaga kehidupan.

Refrensi

Dewey, John. (1916). Democracy and Education: An Introduction to the Philosophy of Education. New York: The Free Press.
Freire, Paulo. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
hooks, bell. (2003). Teaching Community: A Pedagogy of Hope. New York: Routledge.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (mis. 2017).
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama serta Pedoman Penyuluhan Agama (berbagai edisi resmi).
Magnis-Suseno, Franz. (1997). Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia.
Suryalaga, H. (2009). Filsafat Sunda: Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh. Bandung: Kiblat Buku Utama.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment