Dr. KARMUJI, S.Sy., M.Sy
(Penyuluh Agama Kemenag Kab. Tuban)
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْانِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah
Mari kita awali khutbah ini, dengan senantiasa mengungkapkan syukur dan terimakasih kepada Allah swt, dengan kalimat alhamdulillâhilladzi bi ni’matihi tatimmusshalihat, yang telah mempertemukan kita semua pada momentum yang sangat luar biasa dan sakral, yaitu Hari Raya Idul Adha. Mudah-mudahan hari raya ini bisa menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba yang suci, diampuni segala dosa dan diterima semua amal ibadah oleh-Nya.
Shalawat dan salam tak henti-hentinya kita haturkan, kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alih wa sahbih, sebagai manusia terbaik dan utusan terbaik. Karena berkah dakwah dan perjuangannya-lah, kita semua bisa berkumpul saat ini dalam keadaan iman dan Islam. Semoga kita semua diakui sebagai umatnya dan bisa mendapatkan syafaatnya, kelak pada hari kiamat. Amin ya rabbal alamin.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah
Dari atas mimbar yang penuh berkah ini, di tengah momentum yang teramat istimewa, mari kita hadirkan kesadaran penuh untuk memperbarui janji setia kita kepada Sang Khaliq. Mari kita ukir ketakwaan yang baru; sebuah pengabdian yang melampaui batas-batas ritual formalitas. Ketakwaan yang kita dambakan adalah ia yang mampu menjelma menjadi energi kasih sayang, kepekaan sosial yang hidup, dan empati tanpa batas, sehingga kehadiran kita di dunia ini menjadi pelipur lara dan pembawa damai bagi setiap jiwa di sekitar kita.
Dalam momentum yang teramat agung ini, marilah kita hadirkan kesadaran penuh untuk terus memupuk benih keimanan di dalam jiwa. Idul Adha adalah panggilan untuk mengasah ketakwaan yang nyata; sebuah pengabdian yang tercermin dari kesediaan kita untuk peduli dan berbagi rasa dengan mereka yang membutuhkan. Semoga setiap langkah kita senantiasa diiringi semangat kepedulian sosial, sebagai wujud syukur yang paling tulus kepada Allah SWT.
Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah
Sesungguhnya menghadirkan kelembutan hati dan empati terhadap sesama adalah cerminan iman yang paling benderang dalam keseharian kita. Saat kita memupuk kepedulian yang tulus, kita sesungguhnya sedang menyentuh inti sari kemanusiaan yang menjadi ruh dalam nafas ajaran Islam. Semoga melalui ketulusan hati ini, Allah membimbing kita menjadi hamba yang tidak hanya khusyuk dalam sujud pribadi, namun juga mampu menjadi telaga yang meneduhkan dan tangan yang meringankan beban mereka yang membutuhkan.
Menghadirkan manfaat dan menebar kepedulian terhadap sesama bukan sekadar anjuran, melainkan sari pati dari indahnya ajaran Islam. Dalam jalinan iman kita, terpatri sebuah pesan luhur bahwa kemuliaan sejati seorang hamba diukur dari seberapa besar keberadaannya mampu menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa lainnya. Dengan menjadi sumber kebaikan, kita sesungguhnya sedang melukis senyum dan harapan dalam kehidupan orang lain. Sebagaimana mutiara hikmah yang dipesankan oleh Baginda Rasulullah SAW:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain.” (HR ad-Daru Quthni dan al-Baihaqi).
Hari Raya Idul Adha hadir sebagai ruang suci bagi kita untuk membumikan pesan luhur Rasulullah tersebut. Bagi setiap jiwa yang telah dianugerahi kelapangan rezeki, ibadah kurban menjadi undangan cinta untuk merunduk patuh di hadapan Allah SWT. Namun, lebih dari sekadar ritual pendekatan diri (taqarrub), kurban adalah jembatan hati untuk menyemai benih kepedulian dan memeluk sesama dengan empati yang tulus. Mengenai kemuliaan ibadah ini, Allah SWT telah memberikan penegasan-Nya dalam Al-Qur’an:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (QS Al-Kautsar [108]: 2).
Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah
Sesungguhnya hari raya yang suci ini tidak hanya hadir melalui gema takbir dan rukuk-sujud kita semata, melainkan juga sebagai sarana luhur untuk merajut kembali tali persaudaraan sesama hamba. Melalui ibadah kurban, kita tidak hanya melangitkan syukur dan kepatuhan kepada Allah SWT, tetapi juga sedang membumikan kasih sayang. Di dalam setiap kurban yang kita persembahkan, tersimpan makna sosial yang mendalam sebuah jembatan empati untuk merasakan duka sesama yang kurang beruntung, sekaligus mempererat ikatan kebersamaan dalam indahnya berbagi rezeki.
Oleh karena itu, selayaknya ibadah kurban kita semai di atas landasan kesadaran yang dalam serta ketulusan empati bagi saudara-saudara kita yang tengah diuji dengan keterbatasan. Dengan begitu, setiap helai kebaikan yang dikurbankan akan lahir dari keikhlasan murni yang hanya mengharap keridaan Allah semata. Sesungguhnya, semua keindahan amal ini tidak akan mampu kita rengkuh tanpa adanya akar ketakwaan yang menghunjam kuat di dalam dada. Sebagaimana pesan cinta Allah yang terabadikan dalam firman-Nya:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS Al-Hajj, [22]: 37).
Begitu pula dalam bentangan ayat-ayat cinta-Nya, Allah SWT menitipkan pesan luhur agar kita senantiasa merajut kepedulian terhadap kerabat, saudara, serta saudara-saudara kita yang dhuafa. Seruan kasih sayang dan kedermawanan sosial ini telah Allah abadikan dalam Surah An–Nisa’, di mana Dia berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki.” (QS An-Nisa’, [4]: 36).
Melampaui pesan ayat tersebut, Baginda Rasulullah SAW juga menitipkan peringatan yang sangat dalam bagi nurani kita. Beliau menegaskan bahwa keimanan seseorang belumlah mencapai puncaknya jika ia membiarkan dirinya terbuai dalam kekenyangan, sementara di saat yang sama ia menutup mata terhadap rintihan lapar saudara maupun tetangganya. Melalui riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah SAW menyampaikan pesannya dengan begitu indah:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ
“Tidaklah beriman, orang yang selalu kenyang, sementara tetangganya lapar sampai ke lumbungnya.” (HR Al-Baihaqi).
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah
disinilah letak keindahan Idul Adha sebagai ruang bagi kita untuk membumikan iman melalui kepedulian dan empati yang tulus. Mari kita jadikan ibadah kurban sebagai jembatan untuk merajut kasih sayang dengan sesama. Dengan demikian, hari raya yang suci ini tidak hanya kita maknai sebagai rutinitas ibadah di atas sajadah, melainkan sebuah aksi nyata dalam menebar manfaat dan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan.
Maka dari itu, marilah kita peluk momentum Idul Adha ini dengan sepenuh jiwa, menjadikannya sebagai jalan untuk menyemai benih kebahagiaan dan kepedulian yang tulus. Mari kita hadirkan empati yang mendalam bagi saudara-saudara kita yang tengah diuji dalam keterbatasan, agar melalui ketulusan berbagi ini, Allah SWT berkenan memeluk kita dalam dekapan cinta dan rida-Nya sebagai hamba yang dicintai.
Demikianlah untaian khutbah Idul Adha mengenai hakikat kurban dan indahnya kepedulian sosial yang dapat kami sampaikan. Teriring doa, semoga setiap pesan yang terucap mampu menjadi embun penyejuk bagi sanubari dan mendatangkan keberkahan yang melimpah bagi kehidupan kita semua. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
الْخُطْبَةُ الثَّانِيَّةُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ





Comment