Kajian Kitab Al-Hikam Penuh Hikmah #Maqolah XIV

كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ صُوَرُ الْأَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِي مِرْآتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللَّهِ وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابَةِ غَفَلَاتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْجُو أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الْأَسْرَارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ؟

“Bagaimana mungkin hati akan bersinar, sementara bayangan dunia (makhluk) masih melekat pada cerminnya? Bagaimana mungkin ia berjalan menuju Allah, sedangkan ia masih dibelenggu oleh syahwatnya? Bagaimana ia berharap dapat masuk ke hadirat Allah, padahal ia belum bersuci dari janabah kelalaiannya? Dan bagaimana ia mendambakan dapat memahami rahasia-rahasia mendalam (makrifat), sementara ia belum bertobat dari kesalahan-kesalahannya?”

Hikmah ini mengajarkan bahwa perjalanan seorang hamba menuju Allah Swt. tidak cukup hanya dengan memperbanyak amal lahiriah, tetapi harus disertai dengan kesungguhan membersihkan hati. Sebab, hati merupakan tempat tumbuhnya keimanan, keikhlasan, kecintaan, dan kesadaran seorang hamba terhadap Tuhannya.

Hati ibarat cermin yang memantulkan cahaya. Apabila cermin tersebut bersih, cahaya dapat memancar dengan terang. Namun, apabila permukaannya dipenuhi debu dan kotoran, cahaya yang seharusnya dipantulkan menjadi redup bahkan tidak terlihat. Demikian pula hati manusia. Ketika hati dipenuhi kecintaan berlebihan terhadap dunia, diperbudak hawa nafsu, tenggelam dalam kelalaian, dan terus-menerus melakukan dosa, maka kejernihan batinnya akan tertutup.

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ

“Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19).

Ayat ini memberikan peringatan bahwa melupakan Allah dapat menyebabkan manusia kehilangan kesadaran terhadap hakikat dirinya dan tujuan kehidupannya. Ia sibuk mengurus kepentingan dunia, tetapi lupa mempersiapkan bekal untuk akhirat. Ia mengetahui banyak hal tentang kehidupan, tetapi lalai memahami untuk apa sebenarnya kehidupan itu diberikan.

Oleh karena itu, hikmah ini mengajak kita melakukan empat hal penting: membersihkan hati dari ketergantungan kepada dunia, melepaskan belenggu hawa nafsu, menyucikan diri dari kelalaian, dan bertobat dari segala kesalahan.

Bagaimana mungkin hati akan mendapatkan cahaya Allah Swt., apabila di dalamnya masih dipenuhi bayangan dunia dan ketergantungan kepada makhluk? Bagaimana mungkin hati dapat merasakan kedekatan dengan Allah, apabila perhatian, kecintaan, dan pengharapan justru lebih banyak tertuju kepada selain-Nya?

Yang dimaksud dengan bayangan dunia dalam hikmah ini bukanlah keberadaan harta, keluarga, pekerjaan, jabatan, atau berbagai kenikmatan yang Allah berikan. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan yang boleh dimiliki dan dinikmati oleh manusia. Akan tetapi, persoalannya terletak pada ketika dunia tidak lagi sekadar berada di tangan, melainkan telah menguasai hati.

Seseorang boleh memiliki harta yang banyak, tetapi jangan sampai hatinya menjadi budak harta. Ia boleh memiliki jabatan dan kedudukan, tetapi jangan sampai jabatan membuatnya sombong dan melupakan Allah. Ia boleh mencintai keluarga, tetapi jangan sampai kecintaan tersebut menjadikannya lalai terhadap kewajiban kepada Sang Pencipta.

Ketika dunia telah menguasai hati, seseorang akan lebih mengutamakan kepentingan duniawi daripada ketaatan kepada Allah Swt. Ia mungkin mengerjakan shalat, tetapi dalam hatinya masih mengharapkan pujian manusia. Ia bersedekah, tetapi yang diharapkan bukan semata-mata keridaan Allah, melainkan penghargaan dan pengakuan dari orang lain. Bahkan, ketika menunaikan ibadah haji, terkadang yang lebih diinginkan justru gelar, kehormatan, dan kedudukan sosial di tengah masyarakat.

Inilah penyakit hati yang harus diwaspadai, yaitu riya, sum’ah, dan cinta terhadap kedudukan. Amal lahiriah memang terlihat sebagai ibadah, tetapi niat yang tersembunyi justru mengarah kepada makhluk.

Padahal, hakikat ibadah adalah menghadapkan seluruh jiwa dan pengharapan hanya kepada Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An’am: 162).

Ayat ini mengajarkan bahwa seluruh kehidupan seorang mukmin seharusnya diarahkan untuk mencari keridaan Allah. Bukan hanya ketika berada di masjid, ketika berzikir, atau ketika sedang beribadah, melainkan juga dalam bekerja, mencari nafkah, mendidik keluarga, membantu sesama, dan menjalankan tanggung jawab sosial.

Karena itu, luruskanlah niat sebelum melakukan setiap amal kebaikan. Jangan menjadikan pujian manusia sebagai tujuan. Jangan pula menjadikan keuntungan duniawi sebagai ukuran keberhasilan ibadah.

Ingatlah, dunia yang berada di tangan dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Namun, dunia yang telah menguasai hati dapat menjadi penghalang perjalanan menuju-Nya.

Harta boleh memenuhi rumah, tetapi jangan sampai memenuhi hati. Jabatan boleh meninggikan kedudukan, tetapi jangan sampai merendahkan kehambaan kepada Allah.

أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ؟

“Bagaimana mungkin ia berjalan menuju Allah, sedangkan ia masih dibelenggu oleh syahwatnya?”

Perjalanan menuju Allah Swt. adalah perjalanan spiritual yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan perjuangan melawan hawa nafsu. Seseorang tidak akan mampu menempuh perjalanan tersebut dengan baik apabila dirinya masih diperbudak oleh keinginan-keinginan yang tidak terkendali.

Hawa nafsu merupakan salah satu ujian terbesar dalam kehidupan manusia. Ia dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya diketahui sebagai kesalahan. Ia dapat membuat seseorang lebih mencintai kesenangan sesaat daripada kebahagiaan yang kekal.

Ketika tidak memiliki harta, seseorang mungkin terus-menerus gelisah memikirkan dunia. Ia merasa bahwa kebahagiaan hanya dapat diperoleh apabila memiliki kekayaan. Namun, ketika Allah memberinya harta yang melimpah, ia justru semakin sibuk menikmati kekayaannya hingga lupa bersyukur dan mengingat Sang Pemberi nikmat.

Ketika belum memiliki jabatan, ia berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara. Namun, setelah jabatan berada di tangannya, ia justru takut kehilangan kedudukan tersebut. Ia sibuk mempertahankan kekuasaan, mengejar penghormatan, dan mencari pengakuan manusia. Akhirnya, sesuatu yang semula diharapkan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi belenggu yang mengikat kehidupannya.

Inilah yang dimaksud dengan seseorang yang dibelenggu oleh syahwatnya. Ia tidak lagi mampu menentukan arah kehidupannya berdasarkan petunjuk Allah, melainkan selalu mengikuti dorongan keinginan yang muncul dalam dirinya.

Hawa nafsu ibarat benalu yang perlahan-lahan melekat pada pohon kehidupan. Pada awalnya mungkin terlihat kecil dan tidak membahayakan. Namun, apabila dibiarkan tumbuh tanpa dikendalikan, benalu tersebut akan semakin kuat dan menghambat pertumbuhan pohon yang ditumpanginya.

Demikian pula hawa nafsu. Ketika keinginan kecil selalu dituruti, lama-kelamaan ia dapat berkembang menjadi keserakahan. Ketika keserakahan dibiarkan, tumbuhlah ketidakpuasan. Ketika ketidakpuasan menguasai hati, seseorang tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dimilikinya.

Ia selalu menginginkan lebih banyak, lebih tinggi, lebih kaya, dan lebih dihormati. Akibatnya, kehidupan dipenuhi persaingan, kecemasan, dan ketidaktenangan.

Allah Swt. berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41).

Ayat ini mengajarkan bahwa kemuliaan seorang hamba tidak terletak pada kemampuannya memenuhi seluruh keinginan, melainkan pada kesanggupannya mengendalikan hawa nafsu demi menaati Allah Swt.

Oleh karena itu, apabila ingin berjalan menuju Allah, belajarlah mengendalikan keinginan. Jangan memperturutkan setiap dorongan hati. Tidak semua yang diinginkan harus dimiliki, tidak semua yang disukai harus dilakukan, dan tidak semua kesempatan harus dimanfaatkan apabila bertentangan dengan ketentuan Allah.

Kebebasan sejati bukanlah ketika manusia mampu memenuhi seluruh keinginannya, melainkan ketika ia mampu mengendalikan hawa nafsunya dan tunduk kepada kehendak Allah Swt.

أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللَّهِ وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابَةِ غَفَلَاتِهِ؟

“Bagaimana ia berharap dapat masuk ke hadirat Allah, padahal ia belum bersuci dari janabah kelalaiannya?”

Ungkapan janabah kelalaian dalam hikmah ini merupakan perumpamaan spiritual yang sangat mendalam. Sebagaimana seseorang harus bersuci dari hadas besar sebelum melaksanakan ibadah tertentu, demikian pula hati membutuhkan penyucian dari kelalaian agar mampu mendekatkan diri kepada Allah dengan kesadaran dan kehadiran batin.

Kelalaian merupakan keadaan ketika seseorang jauh dari kesadaran mengingat Allah Swt. Ia mungkin masih menjalankan aktivitas kehidupan, bekerja, berbicara, mencari nafkah, dan berinteraksi dengan masyarakat, tetapi hatinya tidak lagi terhubung dengan Allah.

Lisannya mungkin mengucapkan kalimat-kalimat kebaikan, tetapi hatinya tidak menghadirkan kesadaran tentang kebesaran Allah. Tubuhnya mungkin berada di dalam masjid, tetapi pikirannya justru sibuk memikirkan urusan dunia. Ia mengerjakan shalat, tetapi tidak memahami makna penghambaan yang terkandung di dalamnya. Inilah bentuk kelalaian yang harus diwaspadai.

Kelalaian tidak selalu berarti seseorang meninggalkan ibadah secara keseluruhan. Terkadang seseorang tetap melaksanakan shalat, membaca Al-Qur’an, dan mengikuti kegiatan keagamaan, tetapi hatinya tidak sungguh-sungguh hadir dalam ibadah tersebut. Ia menjalankan kewajiban hanya sebagai rutinitas, bukan sebagai bentuk penghambaan dan kerinduan kepada Allah Swt.

Padahal, ibadah seharusnya menjadi sarana untuk membangun hubungan yang semakin dekat dengan Allah. Shalat bukan sekadar gerakan berdiri, rukuk, dan sujud, melainkan pernyataan ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya. Zikir bukan sekadar menggerakkan lisan, melainkan usaha menghadirkan kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi kehidupan manusia.

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf: 205).

Ayat ini mengingatkan agar seorang mukmin senantiasa menjaga kesadaran batinnya. Jangan sampai kehidupan dunia membuatnya lupa kepada Allah. Sebab, semakin seseorang terbiasa dalam kelalaian, semakin sulit baginya merasakan ketenangan dan kekhusyukan dalam beribadah.

Oleh karena itu, bersihkanlah kelalaian dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, menjaga salat, menghadiri majelis ilmu, dan membiasakan diri melakukan muhasabah.

Ketika salat, hadirkan kesadaran bahwa Anda sedang berdiri di hadapan Allah. Ketika berdoa, rasakan bahwa Anda sedang menyampaikan segala kelemahan dan kebutuhan kepada Zat Yang Maha Mendengar. Ketika membaca Al-Qur’an, renungkan makna dan pesan yang terkandung di dalamnya.

Jangan biarkan ibadah hanya menjadi gerakan tubuh tanpa kesadaran hati. Tubuh yang bersih memudahkan seseorang melaksanakan ibadah, tetapi hati yang bersih menjadikan ibadah lebih bermakna dan menghadirkan kedekatan kepada Allah Swt.

أَمْ كَيْفَ يَرْجُو أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الْأَسْرَارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ؟

“Bagaimana ia mendambakan dapat memahami rahasia-rahasia mendalam, sementara ia belum bertobat dari kesalahan-kesalahannya?”

Bagian terakhir dari hikmah ini menjelaskan hubungan antara kebersihan hati dan kemampuan seseorang menerima pemahaman spiritual yang mendalam atau makrifat kepada Allah Swt.

Makrifat bukan sekadar pengetahuan yang diperoleh melalui banyak membaca kitab atau mendengarkan berbagai ceramah keagamaan. Makrifat juga berkaitan dengan kedalaman kesadaran hati dalam mengenal kebesaran Allah, menyadari kehadiran pengawasan-Nya, memahami hikmah di balik ketentuan-Nya, serta menumbuhkan rasa cinta dan ketundukan kepada-Nya.

Seseorang mungkin memiliki pengetahuan agama yang luas, mampu menjelaskan berbagai persoalan keilmuan, bahkan menguasai banyak kitab. Namun, apabila pengetahuan tersebut tidak menjadikannya semakin rendah hati, semakin takut kepada Allah, dan semakin baik akhlaknya, maka masih ada sesuatu yang harus diperbaiki dalam dirinya.

Salah satu penghalang kejernihan hati adalah dosa dan kemaksiatan. Dosa yang dilakukan secara terus-menerus dapat mengurangi kepekaan batin seseorang. Kesalahan yang dahulu membuatnya merasa bersalah, lama-kelamaan dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Nasihat yang dahulu mampu menyentuh hatinya, kini tidak lagi memberikan pengaruh. Bahkan, ia mungkin merasa tidak perlu memperbaiki diri karena sudah terbiasa hidup dalam kesalahan.

Padahal, hati yang terus-menerus dikotori dosa akan semakin sulit menerima nasihat dan kebenaran.

Allah Swt. berfirman:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14).

Ayat ini menjelaskan bahwa perbuatan buruk yang dilakukan secara terus-menerus dapat menutupi hati manusia. Ketika hati telah tertutup oleh dosa, seseorang akan semakin sulit membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Ia mungkin mengetahui mana yang benar, tetapi tidak memiliki kesungguhan untuk mengikutinya.

Oleh sebab itu, jalan untuk membersihkan hati adalah dengan bertobat kepada Allah melalui tobat nasuha.

Tobat nasuha bukan sekadar mengucapkan istigfar dengan lisan, melainkan sebuah kesungguhan untuk kembali kepada Allah dengan sepenuh hati. Di dalamnya terdapat penyesalan atas dosa yang telah dilakukan, kesediaan meninggalkan kemaksiatan, dan tekad kuat untuk tidak mengulanginya kembali.

Apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka hak itu harus dikembalikan atau diselesaikan dengan cara yang dibenarkan.

Jangan pernah merasa bahwa dosa yang telah dilakukan terlalu banyak sehingga tidak mungkin mendapatkan ampunan Allah. Jangan pula menunda-nunda pertobatan dengan alasan masih ingin menikmati kehidupan dunia.

Sebab, tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang menjemput.

Allah Swt. berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53).

Ayat ini memberikan harapan bahwa pintu ampunan Allah senantiasa terbuka bagi hamba yang benar-benar ingin kembali kepada-Nya.

Apabila suatu saat kembali tergelincir dalam kesalahan, jangan berputus asa. Segeralah bertobat dan memperbaiki diri. Jangan menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk terus berada dalam kemaksiatan.

Sebab, perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan orang-orang yang merasa dirinya tidak pernah berdosa, melainkan perjalanan orang-orang yang senantiasa menyadari kesalahan dan tidak pernah berhenti kembali kepada-Nya.

Jangan menunggu menjadi manusia sempurna untuk bertobat. Justru dengan bertobat, Anda sedang memulai perjalanan menuju kesempurnaan penghambaan kepada Allah Swt.

Dari keseluruhan hikmah tersebut, dapat dipahami bahwa hati manusia memiliki kedudukan yang sangat penting dalam perjalanan spiritual menuju Allah Swt.

Hati merupakan tempat tumbuhnya keimanan, keikhlasan, ketakwaan, dan kecintaan kepada Allah. Apabila hati bersih, seseorang akan lebih mudah menerima kebenaran, lebih peka terhadap kesalahan, dan lebih ringan menjalankan perintah agama.

Sebaliknya, apabila hati dipenuhi kecintaan berlebihan kepada dunia, diperbudak hawa nafsu, tenggelam dalam kelalaian, dan terus-menerus melakukan dosa, maka hati akan semakin jauh dari kejernihan spiritual.

Ibarat cermin, hati membutuhkan perawatan dan pembersihan secara terus-menerus. Cermin yang hari ini telah dibersihkan dapat kembali berdebu apabila tidak dijaga. Demikian pula hati. Seseorang yang hari ini telah bertobat tetap harus menjaga dirinya agar tidak kembali terjerumus dalam kemaksiatan.

Membersihkan hati bukan pekerjaan yang selesai dalam satu malam. Ia merupakan proses sepanjang kehidupan. Setiap hari manusia harus berjuang memperbaiki niat, menjaga perilaku, mengendalikan hawa nafsu, dan memperbanyak amal kebaikan.

Ada beberapa amalan yang dapat dilakukan untuk menjaga kejernihan hati.

Pertama, memperbanyak istigfar dan tobat. Jangan biarkan dosa menumpuk tanpa disertai penyesalan dan usaha memperbaiki diri. Biasakan mengevaluasi perbuatan setiap hari.

Kedua, memperbanyak zikir kepada Allah. Zikir menjadi sarana untuk menghidupkan kesadaran hati agar tidak tenggelam dalam kesibukan dunia. Dengan mengingat Allah, seorang hamba menyadari bahwa seluruh kehidupan berada dalam pengawasan-Nya.

Ketiga, menjaga keikhlasan dalam beramal. Biasakan melakukan kebaikan tanpa harus diketahui dan dipuji manusia. Jangan menjadikan penghargaan sebagai tujuan utama dalam beribadah.

Keempat, mengendalikan hawa nafsu. Belajarlah menahan keinginan yang berlebihan, menjaga pandangan, mengendalikan lisan, serta menjauhi perbuatan yang dapat merusak hati.

Kelima, memperbanyak membaca dan merenungkan Al-Qur’an. Jangan hanya mengejar kelancaran membaca, tetapi berusahalah memahami pesan-pesan Allah dan mengamalkannya dalam kehidupan.

Keenam, melakukan muhasabah. Luangkan waktu untuk mengevaluasi diri. Tanyakan kepada hati sendiri: apakah hari ini semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh? Apakah amal yang dilakukan benar-benar ikhlas atau masih mengharapkan pujian? Apakah kehidupan yang dijalani sudah membawa manfaat bagi sesama?

Dengan cara demikian, seseorang akan senantiasa memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri dan tidak mudah merasa puas dengan amal yang telah dilakukan.

Satu hal penting yang perlu dipahami dari hikmah ini adalah bahwa membersihkan hati dari dunia bukan berarti meninggalkan seluruh urusan duniawi.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mengabaikan pekerjaan, meninggalkan keluarga, menjauhi masyarakat, atau tidak berusaha memperoleh kehidupan yang layak. Seorang muslim justru diperintahkan untuk bekerja, mencari rezeki yang halal, menjaga keluarga, membantu sesama, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Namun, semua aktivitas tersebut harus ditempatkan dalam kerangka pengabdian kepada Allah Swt.

Bekerjalah, tetapi jangan sampai pekerjaan membuat Anda meninggalkan salat. Carilah kekayaan, tetapi jangan sampai kekayaan menjadikan Anda sombong dan kikir. Raihlah jabatan, tetapi jangan sampai jabatan membuat Anda menyalahgunakan amanah. Berbuat baiklah kepada manusia, tetapi jangan sampai kebaikan itu hanya dilakukan demi mendapatkan pujian.

Inilah keseimbangan yang harus dibangun oleh seorang mukmin: hidup di tengah dunia, tetapi hatinya tetap tertuju kepada Allah.

Dunia adalah tempat menanam amal, sedangkan akhirat adalah tempat memetik hasilnya. Karena itu, jangan sampai seseorang terlalu sibuk menghiasi kehidupan dunia, tetapi lupa memperindah kehidupan akhirat.

Harta dapat habis, jabatan dapat berakhir, penghormatan manusia dapat hilang, dan usia akan terus berkurang. Namun, amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi bekal yang berharga di hadapan Allah Swt.

Maka, jadikanlah setiap aktivitas kehidupan sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Hikmah Ibnu Athaillah ini mengingatkan kita bahwa perjalanan menuju Allah Swt. membutuhkan hati yang bersih. Tidak mungkin seseorang berharap memperoleh kejernihan batin apabila hatinya masih dipenuhi bayangan dunia. Tidak mungkin seseorang berharap sampai kepada Allah apabila langkahnya masih dibelenggu hawa nafsu. Tidak mungkin seseorang mengharapkan kedekatan dengan-Nya apabila hidupnya masih tenggelam dalam kelalaian. Dan tidak mungkin seseorang mendambakan kedalaman makrifat apabila tidak pernah bersungguh-sungguh membersihkan diri melalui tobat.

Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan lahiriah, tetapi lupakan keadaan batin. Jangan hanya memperbanyak amal yang terlihat oleh manusia, tetapi abaikan keikhlasan yang tersembunyi di dalam hati. Jangan hanya mengejar kehormatan di hadapan makhluk, tetapi melupakan kemuliaan di hadapan Allah Swt.

Sesungguhnya, perjalanan paling berat bukanlah perjalanan menuju tempat yang jauh, melainkan perjalanan membersihkan hati dari segala sesuatu yang menghalangi kedekatan kepada Allah.

Terkadang yang membuat seseorang jauh dari Allah bukan karena ia tidak mengetahui jalan menuju-Nya, melainkan karena ia terlalu mencintai sesuatu yang membuatnya enggan melangkah. Ia mengetahui bahwa dunia bersifat sementara, tetapi hatinya masih menggantungkan kebahagiaan kepadanya. Ia mengetahui bahwa dosa harus ditinggalkan, tetapi hawa nafsunya masih mengajak untuk mengulanginya.

Maka, mulailah dari sekarang. Luruskan niat, bersihkan hati, kendalikan hawa nafsu, tinggalkan kelalaian, dan perbanyaklah bertobat. Jangan menunggu datangnya musibah untuk mengingat Allah. Jangan menunggu kehilangan sesuatu untuk menyadari nikmat-Nya. Dan jangan menunggu usia senja untuk memulai perjalanan kembali kepada-Nya.

Sebab, sebaik-baik perjalanan adalah perjalanan seorang hamba yang semakin hari semakin dekat kepada Allah, semakin rendah hati kepada sesama, semakin bersih niatnya, dan semakin baik akhlaknya.

Pada akhirnya, bukan dunia yang harus sepenuhnya kita tinggalkan, melainkan kecintaan berlebihan terhadap dunia yang harus kita lepaskan. Bukan keinginan yang harus dihilangkan, melainkan hawa nafsu yang harus dikendalikan. Bukan sekadar lisan yang harus beristigfar, melainkan hati yang harus sungguh-sungguh bertobat.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment