Kajian Kitab Al-Hikam Penuh Hikmah #Maqolah XVII

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ بِكُلِّ شَيْءٍ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلِّ شَيْءٍ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلِّ شَيْءٍ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ قَبْلَ وُجُودِ كُلِّ شَيْءٍ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ أَظْهَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الْوَاحِدُ الَّذِي لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَلَوْلَاهُ مَا كَانَ وُجُودُ كُلِّ شَيْءٍ. يَا عَجَبًا كَيْفَ يَظْهَرُ الْوُجُودُ فِي الْعَدَمِ أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الْحَادِثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ الْقَدَمِ.

“Bagaimana bisa terbayangkan ada sesuatu yang menutupi Allah, padahal Dialah yang menampakkan segala sesuatu? Bagaimana bisa ditutupi, padahal Dialah yang tampak dengan segala sesuatu, tampak di dalam segala sesuatu, dan tampak bagi segala sesuatu? Dialah yang tampak sebelum wujud segala sesuatu, lebih nyata dari segala sesuatu, Yang Maha Esa tanpa sekutu, lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu, dan tanpanya tidak akan ada wujud segala sesuatu. Alangkah mengherankannya, bagaimana wujud bisa muncul dari ketiadaan, atau bagaimana sesuatu yang baru (makhluk) bisa bersanding tetap dengan Zat yang bersifat kekal (Al-Qadim)?”

Inilah pertanyaan mendalam yang disampaikan Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari untuk menggugah kesadaran hati manusia. Beliau mengajak kita merenungkan bahwa Allah Swt. tidak pernah jauh, tidak pernah tersembunyi, dan tidak pernah terhalang oleh apa pun. Justru manusialah yang sering kali terhijab dari Allah karena terlalu terpikat oleh makhluk dan kehidupan dunia.

Allah Swt. menciptakan alam semesta dengan segala keindahannya. Langit yang terbentang luas, bumi yang terhampar, gunung-gunung yang kokoh, lautan yang dalam, tumbuh-tumbuhan yang menghijau, serta kehidupan manusia yang penuh warna, semuanya merupakan tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Akan tetapi, tidak sedikit manusia yang berhenti pada keindahan ciptaan dan melupakan Sang Pencipta. Mereka begitu terpesona oleh dunia, tetapi tidak mampu melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang terpancar melalui ciptaan-Nya. Padahal, setiap makhluk sesungguhnya memberikan kesaksian tentang keberadaan, kekuasaan, kebijaksanaan, dan keagungan Allah Swt.

Ibarat seseorang yang melihat sebuah bangunan megah, tentu akal sehatnya akan menunjukkan bahwa bangunan tersebut tidak mungkin berdiri dengan sendirinya. Pasti ada yang merancang, membangun, dan mengaturnya. Demikian pula alam semesta yang jauh lebih luas dan sempurna. Mustahil semua itu terjadi tanpa kehendak, kekuasaan, dan pengaturan Allah Swt. Oleh karena itu, persoalannya bukanlah Allah tersembunyi dari manusia, melainkan hati manusia yang tertutup oleh kelalaian, kesombongan, kecintaan berlebihan terhadap dunia, dan ketergantungan kepada selain-Nya.

Bagaimana mungkin Allah Swt. terhijab oleh sesuatu, padahal Dia tampak dalam segala sesuatu? Maksudnya, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini menjadi tanda yang menunjukkan kebesaran Allah. Keberadaan makhluk menunjukkan bahwa ada Sang Pencipta. Keteraturan alam menunjukkan adanya pengaturan Yang Maha Sempurna. Keindahan ciptaan menunjukkan kesempurnaan hikmah dan kebijaksanaan-Nya.

Ketika melihat seorang ibu yang begitu besar kasih sayangnya kepada anak-anaknya, ketahuilah bahwa kasih sayang Allah jauh melampaui kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Ketika menyaksikan seseorang yang memiliki sifat dermawan, rela memberikan sebagian hartanya untuk membantu orang lain, ketahuilah bahwa kemurahan Allah jauh lebih luas daripada kemurahan seluruh makhluk-Nya. Ketika melihat matahari yang terus memberikan cahaya, hujan yang menyuburkan tanah, dan udara yang memungkinkan manusia bernapas, renungkanlah bahwa semua itu merupakan bagian dari nikmat Allah yang tidak terhitung jumlahnya.

Allah Swt. berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ ۝ وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 20–21).

Ayat ini mengingatkan bahwa tanda-tanda kebesaran Allah tidak hanya terdapat di alam semesta, tetapi juga ada dalam diri manusia sendiri.

Coba renungkan bagaimana jantung bekerja tanpa kita perintahkan, bagaimana mata dapat melihat, bagaimana akal dapat berpikir, dan bagaimana kehidupan berlangsung melalui sistem yang begitu sempurna. Semua itu seharusnya mengantarkan manusia kepada kesadaran bahwa dirinya senantiasa berada dalam kekuasaan dan pemeliharaan Allah.

Orang yang memiliki mata hati tidak hanya melihat sesuatu dengan pandangan lahiriah, tetapi juga mampu mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Ia tidak sekadar melihat hujan, tetapi merenungkan rahmat Allah. Ia tidak sekadar melihat kehidupan, tetapi menyadari karunia Allah. Ia tidak sekadar menyaksikan kematian, tetapi mengingat bahwa seluruh makhluk akan kembali kepada-Nya.

Bagaimana mungkin Allah Swt. terhijab oleh sesuatu, padahal Dia telah ada sebelum segala sesuatu? Allah adalah Al-Awwal, Yang Maha Awal. Tidak ada sesuatu pun sebelum keberadaan-Nya. Dia tidak diciptakan, tidak bergantung kepada siapa pun, dan tidak membutuhkan apa pun untuk mempertahankan keberadaan-Nya. Berbeda dengan seluruh makhluk yang memiliki permulaan. Manusia dilahirkan, tumbuh, menjadi dewasa, kemudian menua dan akhirnya meninggal dunia. Begitu pula seluruh benda dan kehidupan di alam semesta, semuanya berada dalam ketentuan dan kehendak Allah.

Allah Swt. berfirman:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid: 3).

Allah adalah Yang Awal karena tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Nya. Dia adalah Yang Akhir karena tidak ada sesuatu pun yang kekal selain Dia. Dia adalah Yang Zahir karena tanda-tanda kekuasaan-Nya begitu nyata melalui ciptaan-Nya, dan Dia adalah Yang Batin karena hakikat Dzat-Nya tidak dapat dijangkau oleh penglihatan dan pemahaman makhluk.

Maka, bagaimana mungkin sesuatu yang baru diciptakan dapat menjadi penghalang bagi Dzat Yang Maha Awal? Dunia yang kita tempati ini memiliki batas waktu. Kekayaan yang kita kumpulkan akan ditinggalkan. Jabatan yang kita banggakan akan berakhir. Kekuatan tubuh yang kita andalkan akan melemah. Bahkan orang-orang yang paling kita cintai suatu saat akan berpisah dengan kita. Sementara Allah Swt. tetap kekal dan tidak mengalami perubahan sebagaimana makhluk-Nya. Kesadaran inilah yang seharusnya membuat manusia tidak terlalu bergantung kepada sesuatu yang fana, tetapi menggantungkan seluruh harapan kepada Dzat Yang Maha Kekal.

Bagaimana mungkin Allah Swt. terhijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih nyata daripada segala sesuatu? Maksudnya, keberadaan Allah merupakan hakikat yang paling pasti, sedangkan keberadaan makhluk bersifat bergantung. Tidak ada satu pun makhluk yang mampu berdiri sendiri tanpa pertolongan dan kehendak-Nya. Manusia sering kali menganggap dunia sebagai sesuatu yang paling nyata karena dapat dilihat, disentuh, dimiliki, dan dinikmati. Harta benda terasa nyata karena dapat dihitung. Jabatan terasa nyata karena dapat memberikan kekuasaan. Popularitas terasa nyata karena dapat mendatangkan pujian. Namun, manusia sering melupakan bahwa semua itu tidak memiliki kekuatan yang berdiri sendiri.

Harta tidak dapat memberikan manfaat kecuali dengan izin Allah. Jabatan tidak dapat menjamin keselamatan seseorang. Kekuasaan tidak dapat menolak kematian. Bahkan ilmu dan kemampuan manusia tidak akan pernah terwujud tanpa karunia Allah. Di sinilah letak kekeliruan manusia: sesuatu yang sebenarnya bergantung kepada Allah justru dianggap sebagai sumber kekuatan utama.

Orang yang mengenal Allah tidak akan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupannya. Ia boleh memiliki harta, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh harta. Ia boleh memiliki jabatan, tetapi tidak menyombongkan jabatan. Ia boleh mendapatkan kedudukan tinggi, tetapi tetap menyadari bahwa semua itu hanyalah titipan. Baginya, dunia adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sesuatu yang menjauhkan dirinya dari Allah.

Bagaimana mungkin Allah Swt. terhijab oleh sesuatu, padahal Dia adalah Dzat Yang Maha Esa? Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Dia tidak memiliki sekutu, tidak memiliki anak, tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya.

Allah Swt. berfirman:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ ۝ اَللّٰهُ الصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1–4).

Inilah dasar tauhid yang harus tertanam kuat dalam hati setiap orang beriman. Jangan sampai seseorang mengakui Allah sebagai Tuhan dengan lisannya, tetapi dalam kehidupannya justru menjadikan makhluk sebagai tempat bergantung yang paling utama.

Ada orang yang merasa hidupnya akan hancur apabila kehilangan jabatan. Ada yang merasa tidak memiliki kebahagiaan apabila kehilangan harta. Ada pula yang begitu takut kehilangan kedudukan di hadapan manusia sehingga rela mengorbankan prinsip-prinsip agamanya. Padahal, semua itu hanyalah makhluk yang tidak memiliki kekuasaan mutlak.

Tauhid bukan sekadar mengucapkan bahwa Allah itu Esa, tetapi juga membebaskan hati dari penghambaan kepada selain-Nya. Hati yang bertauhid tetap berikhtiar, bekerja, berusaha, dan berhubungan dengan sesama manusia, tetapi tidak menjadikan semua itu sebagai sandaran mutlak. Ia mengetahui bahwa hanya Allah tempat bergantung, tempat memohon pertolongan, dan tempat menyerahkan segala urusan.

Bagaimana mungkin Allah Swt. terhijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih dekat kepada manusia daripada segala sesuatu? Kedekatan Allah bukanlah kedekatan jarak sebagaimana kedekatan antara satu makhluk dengan makhluk lainnya. Allah Maha Suci dari batas ruang dan ukuran. Kedekatan-Nya adalah kedekatan ilmu, pengawasan, kekuasaan, dan pemeliharaan terhadap seluruh makhluk-Nya. Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati manusia. Dia mengetahui sesuatu yang tidak mampu diungkapkan oleh lisan. Dia mengetahui kegelisahan yang disembunyikan di balik senyuman, kesedihan yang tidak diceritakan kepada siapa pun, serta doa yang hanya terucap di dalam hati. Bahkan, ketika manusia berada sendirian dalam kegelapan malam, tidak ada satu pun keadaan dirinya yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.

Allah Swt. berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16).

Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.

Oleh karena itu, jangan pernah merasa sendirian ketika menghadapi kesulitan. Jangan mengira bahwa tidak ada yang mengetahui kesedihan Anda. Jangan pula merasa bahwa doa yang dipanjatkan dalam kesunyian tidak didengar oleh Allah. Mungkin manusia tidak memahami penderitaan sesama, tetapi Allah Maha Mengetahui. Mungkin manusia tidak melihat perjuangan Sesama, tetapi Allah Maha Melihat. Mungkin manusia tidak menghargai kebaikan Sesama, tetapi tidak ada satu pun amal yang luput dari pengetahuan-Nya. Inilah yang seharusnya melahirkan ketenangan dalam hati seorang mukmin.

Bagaimana mungkin Allah Swt. terhijab oleh sesuatu, padahal seandainya bukan karena-Nya, segala sesuatu tidak akan pernah ada? Inilah hakikat yang paling mendasar dalam mengenal Allah. Seluruh alam semesta bergantung kepada-Nya. Tidak ada satu pun makhluk yang mampu menciptakan dirinya sendiri.

Manusia tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Ia tidak menentukan kapan jantungnya mulai berdetak. Ia tidak menciptakan udara yang dihirupnya. Ia juga tidak memiliki kekuasaan mutlak untuk mempertahankan kehidupannya. Segala sesuatu berlangsung berdasarkan kehendak dan ketentuan Allah.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Yasin: 82).

Ayat ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi kehendak-Nya. Setan sekalipun tidak berada di luar kekuasaan Allah. Demikian pula seluruh makhluk, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, semuanya berada di bawah ketentuan-Nya. Maka, bagaimana mungkin makhluk yang keberadaannya saja bergantung kepada Allah justru dianggap mampu menghalangi Allah? Sesungguhnya, yang perlu kita khawatirkan bukanlah Allah terhijab dari kita, melainkan hati kita sendiri yang terhijab dari mengenal-Nya.

Syekh Ibnu ‘Athaillah kemudian mengungkapkan sebuah pertanyaan yang sangat mendalam:

“Sungguh menakjubkan! Bagaimana mungkin sesuatu yang pada mulanya tidak ada dapat menjadi penghalang bagi Dzat Yang Maha Ada? Bagaimana mungkin sesuatu yang baru dapat menetap bersama Dzat Yang Maha Dahulu?”

Pertanyaan ini mengandung pelajaran tentang perbedaan mutlak antara Khaliq dan makhluk. Allah adalah Al-Qadim, Dzat Yang Maha Dahulu dan tidak memiliki permulaan. Sedangkan seluruh makhluk adalah sesuatu yang diciptakan dan memiliki permulaan. Allah tidak membutuhkan makhluk, sedangkan makhluk membutuhkan Allah. Allah tidak bertambah kemuliaan-Nya karena adanya pujian manusia, dan tidak berkurang keagungan-Nya karena manusia mengingkari-Nya. Sebaliknya, manusialah yang membutuhkan Allah dalam setiap keadaan. Oleh sebab itu, tidak pantas manusia menyombongkan diri dengan sesuatu yang bukan miliknya secara hakiki.

Kekayaan yang dimiliki hanyalah titipan. Kecerdasan yang dibanggakan merupakan karunia. Jabatan yang diduduki adalah amanah. Bahkan kehidupan yang dijalani merupakan pemberian Allah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Jika seseorang menyadari hakikat ini, ia tidak akan mudah membanggakan diri, merendahkan orang lain, ataupun merasa paling berkuasa.Ia akan semakin rendah hati karena mengetahui bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa tanpa pertolongan Allah.

Ingatlah bahwa wujud Allah adalah wujud yang hakiki, tidak bergantung kepada siapa pun dan tidak membutuhkan sesuatu apa pun. Sementara itu, keberadaan manusia dan seluruh makhluk merupakan keberadaan yang diciptakan dan senantiasa bergantung kepada-Nya.

Manusia sering kali lupa akan kenyataan ini. Ketika sehat, ia merasa kuat. Ketika kaya, ia merasa mampu melakukan apa saja. Ketika memiliki jabatan, ia merasa dihormati dan disegani. Ketika memiliki banyak pengikut, ia merasa dirinya penting. Namun, cobalah renungkan: apa yang dapat dilakukan manusia ketika Allah mencabut kekuatan tubuhnya? Apa yang dapat dilakukan seorang raja ketika ajal datang menjemput? Apa yang dapat dilakukan seorang kaya ketika seluruh hartanya tidak lagi mampu menyelamatkan kehidupannya? Pada saat itulah manusia menyadari bahwa kekuatan yang selama ini dibanggakan ternyata sangat terbatas. Seorang raja tidak memiliki kekuasaan mutlak atas kehidupannya. Seorang penguasa tidak mampu memerintah kematian agar menjauh darinya. Seorang hartawan tidak dapat membeli tambahan waktu ketika ajal telah tiba. Sebab, seluruh kekuasaan, kehidupan, dan kepemilikan pada hakikatnya berada dalam genggaman Allah Swt.

Kesadaran ini bukan berarti manusia harus meninggalkan dunia, berhenti bekerja, atau tidak boleh memiliki kekayaan dan kedudukan. Justru manusia diperintahkan untuk berusaha, bekerja, berbuat baik, dan memakmurkan kehidupan. Akan tetapi, jangan sampai semua itu menguasai hati sehingga melupakan Allah sebagai pemilik segala sesuatu.

Miliki dunia di tangan, tetapi jangan biarkan dunia menguasai hati. Gunakan jabatan untuk mengabdi, bukan untuk menyombongkan diri. Gunakan harta untuk beribadah, bukan untuk mempertuhankan keinginan. Gunakan ilmu untuk memberikan manfaat, bukan untuk merendahkan orang lain. Sebab, kemuliaan seorang hamba bukan terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, atau besarnya penghormatan manusia, melainkan pada kedekatan hatinya kepada Allah Swt. Inilah inti terdalam dari hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari.

Sering kali manusia mengeluh bahwa dirinya sulit merasakan kedekatan dengan Allah. Ia merasa doanya belum dikabulkan, ibadahnya belum memberikan ketenangan, dan hatinya belum mampu merasakan manisnya bermunajat kepada-Nya. Padahal, Allah tidak pernah lalai terhadap hamba-Nya. Allah senantiasa mengetahui keadaan setiap makhluk. Hanya saja, hati manusia sering dipenuhi oleh berbagai penghalang yang membuatnya lalai dari mengingat Allah.

Hati dapat terhijab oleh kecintaan berlebihan terhadap harta, kesibukan mengejar kedudukan, keinginan mendapatkan pujian, kesombongan, iri hati, dengki, serta ketergantungan kepada manusia. Bahkan, amal ibadah pun dapat menjadi hijab apabila seseorang lebih sibuk membanggakan amalnya daripada menyadari karunia Allah yang telah memberinya kemampuan untuk beribadah.

Ada orang yang rajin beribadah, tetapi merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Ada orang yang banyak bersedekah, tetapi mengharapkan pujian. Ada orang yang memiliki ilmu agama, tetapi justru tumbuh kesombongan di dalam hatinya. Padahal, semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya.

Orang yang benar-benar mengenal Allah tidak akan mudah membanggakan dirinya. Ia menyadari bahwa kemampuan beribadah adalah karunia, kesempatan berbuat baik adalah anugerah, dan terbukanya pintu tobat merupakan rahmat Allah. Oleh karena itu, jangan hanya berusaha memperbaiki penampilan lahiriah, tetapi perbaikilah pula keadaan batiniah. Bersihkan hati dari kesombongan, luruskan niat dalam beramal, perbanyak zikir, renungkan kebesaran Allah, dan jangan pernah berhenti memohon petunjuk-Nya. Sebab, hati yang bersih akan lebih mudah menangkap pelajaran dari setiap peristiwa kehidupan.

Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika mendapatkan ujian, ia bersabar. Ketika melakukan kesalahan, ia segera bertobat. Ketika berhasil, ia tidak sombong. Ketika gagal, ia tidak berputus asa.

Wahai saudaraku, renungkanlah dengan hati yang jernih.

Bagaimana mungkin kita begitu sibuk mengejar dunia, sementara kita melupakan Dzat yang menciptakan dunia? Bagaimana mungkin kita begitu takut kehilangan harta, tetapi tidak merasa takut kehilangan kedekatan dengan Allah? Bagaimana mungkin kita begitu mengharapkan penghormatan manusia, tetapi tidak bersungguh-sungguh mencari keridaan Allah?

Kita sering menghabiskan waktu untuk memikirkan sesuatu yang belum tentu menjadi milik kita, tetapi begitu sedikit waktu yang kita gunakan untuk mengingat Dzat yang telah memberikan segala sesuatu kepada kita.

Kita menangis ketika kehilangan harta, tetapi terkadang tidak menangis ketika kehilangan kekhusyukan dalam salat. Kita gelisah ketika manusia menjauh, tetapi tidak merasa gelisah ketika hati semakin jauh dari Allah. Kita begitu takut kehilangan kedudukan di hadapan manusia, tetapi kurang takut kehilangan kemuliaan di hadapan-Nya. Inilah hijab yang sesungguhnya.

Bukan Allah yang tersembunyi, melainkan hati kita yang tertutup oleh kecintaan terhadap selain-Nya. Bukan Allah yang menjauh, melainkan kita yang terlalu sibuk berjalan menuju dunia hingga lupa jalan pulang kepada-Nya. Maka, jangan biarkan sesuatu yang fana menghalangi hubungan kita dengan Dzat Yang Maha Kekal. Jangan biarkan harta, jabatan, keluarga, popularitas, dan berbagai kesenangan dunia mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Allah di dalam hati.

Pada akhirnya, bukan seberapa banyak dunia yang berhasil kita miliki yang menentukan kemuliaan kita, melainkan seberapa dalam hati kita mengenal Allah. Sebab, ketika hati telah mengenal Allah, dunia tidak lagi menjadi tujuan yang memperbudak, melainkan amanah yang mengantarkan seorang hamba menuju keridaan-Nya.

Semoga Allah Swt. membersihkan hati kita dari segala hijab yang menjauhkan kita dari mengingat-Nya, menerangi batin kita dengan cahaya makrifat, dan menjadikan setiap langkah kehidupan kita sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment