Ramadan kembali menyapa. Di balik kemeriahan lampu hias, aroma takjil yang menggoda, dan riuhnya agenda buka bersama, terselip sebuah refleksi mendalam bagi setiap muslim: Mengapa kita berpuasa?
Apakah lapar dan dahaga ini adalah bentuk pengabdian yang sadar, atau sekadar rutinitas tahunan karena semua orang di sekitar kita melakukannya? Memahami perbedaan antara puasa karena iman dan puasa karena ikut-ikutan adalah kunci untuk meraih hakikat ibadah yang sesungguhnya.
Puasa Sebagai Fondasi Taqwa
Tujuan utama puasa bukanlah untuk menyiksa fisik, melainkan untuk melatih jiwa. Allah SWT secara eksplisit menyebutkan “Taqwa” sebagai tujuan akhir dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Taqwa adalah sebuah kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi. Seseorang yang berpuasa atas dasar taqwa tidak akan membatalkan puasanya meski sedang sendirian di kamar yang sejuk dengan air dingin yang tersedia, karena ia tahu Allah Maha Melihat. Inilah kejujuran spiritual yang murni.
Bahaya Puasa “Ikut-ikutan” (Imma’ah)
Fenomena ikut-ikutan atau Imma’ah adalah kondisi di mana seseorang melakukan ibadah hanya karena tren sosial atau rasa sungkan terhadap lingkungan. Tanpa pondasi ilmu dan niat yang benar, puasa hanya akan menjadi beban fisik tanpa nilai pahala.
Rasulullah SAW telah memperingatkan tentang kerugian ini dalam sebuah hadis:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga “ (HR. Ahmad & An-Nasa’i)
Mengapa hal ini terjadi? Karena hati mereka kosong dari Muhasabah (evaluasi diri). Mereka menahan lapar, namun lisan tetap bergibah, mata tetap memandang yang haram, dan hati tetap dipenuhi dengki. Mereka hanya ikut berhenti makan, tapi tidak ikut berhenti maksiat.
Syarat Agar Puasa Berbuah Ampunan
Agar puasa kita tidak terjebak dalam arus “ikut-ikutan”, kuncinya terletak pada dua pilar: Iman (Keyakinan) dan Ihtisab (Mengharap pahala hanya dari Allah).
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
| Aspek | Puasa Ikut-ikutan | Puasa Ketaqwaan |
| Motivasi | Malu pada manusia / Tradisi | Kewajiban kepada Allah |
| Fokus | Kapan waktu berbuka | Perbaikan akhlak dan ibadah |
| Hasil | Rasa haus dan lapar saja | Kedekatan diri kepada Sang Pencipta |
| Sikap | Mengeluh akan beratnya hari | Menikmati setiap detik ibadah |
Menemukan Makna di Balik Lapar
Puasa yang berkualitas adalah puasa yang mengubah perilaku. Ia adalah madrasah (sekolah) karakter.
Sabar: Menahan diri dari yang halal (makan/minum) untuk melatih diri menahan yang haram.
Empati: Merasakan penderitaan mereka yang kekurangan setiap harinya.
Integritas: Melatih kejujuran antara hamba dan Tuhannya.
Jangan biarkan Ramadan tahun ini berlalu sebagai ritual kosong. Berhentilah sejenak, perbaharui niat di tengah malam, dan katakan pada diri sendiri: “Aku berpuasa bukan karena dunia sedang berpuasa, tapi karena aku merindukan ridha Tuhanku.”
Mari kita jadikan setiap tegukan air saat berbuka sebagai bentuk syukur, dan setiap detik menahan lapar sebagai bentuk kesetiaan. Pilihlah jalan ketaqwaan, karena jalan ikut-ikutan hanya akan membawa kita pada kelelahan tanpa makna.





Comment