The Gateway to Mahabbatullah, The Essence of Tawakkal from Luqman al-Hakim to Al-Hikam

بَوَّابَةُ مَحَبَّةِ اللهِ: حَقِيقَةُ التَّوَكُّلِ مِنْ وَصَايَا لُقْمَانَ الْحَكِيمِ إِلَى الْحِكَمِ الْعَطَائِيَّةِ

Tawakal bukan sekadar melepaskan usaha, melainkan sebuah pencapaian spiritual di mana hati bersandar penuh kepada Sang Khaliq. Wasiat Luqman Al-Hakim kepada puteranya memberikan fondasi bahwa tawakal adalah pintu gerbang menuju cinta Allah (Mahabbatullah).

Luqman Al-Hakim berkata kepada puteranya:

وَمِنَ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ : التَّوَكَّلُ عَلَى اللهِ، فَإِنَّ التَّوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ يُحِبُّ الْعَبْدَ، وَإِنَّ التفويض إلى اللهِ مِنْ هَدْيِ اللهِ وَبِهَدْيِ اللهِ يُوَافِقُ الْعَبْدُ رِضْوَانَ اللَّهِ، وَبِمُوَافَقَةِ رضوانِ اللهِ يَسْتَوْجِبُ الْعَبْدُ كَرَامَةَ اللَّهِ

“Dan dari keimanan kepada Allah Azzawajalla adanya tawakkal kepada Allah, karena sesungguhnya bertawakkal kepada Allah membawa cinta Allah pada hambaNya. Dan sesungguhnya menyerahkan diri kepada Allah adalah datang dari petunjukNya. Dan dengan petunjuk Allah itu bersesuaian (si hamba) dengan keridhaan Allah Ta’ala berarti membawa si hamba itu dengan pasti kepada kemuliaan yang dikurniakan Allah. [1]

Allah SWT menegaskan kedudukan mulia bagi mereka yang memasrahkan urusannya kepada-Nya:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Perang Uhud. Meskipun hasil musyawarah membawa risiko, Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat untuk tetap bertawakal setelah berikhtiar. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal dilakukan setelah adanya azam (tekad usaha), dan cinta Allah adalah upah tertingginya. [2]

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa tawakal yang sejati akan mendatangkan kecukupan sebagaimana burung yang mencari makan:

‏ لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا ‏

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini disampaikan Nabi ﷺ untuk mendidik para sahabat agar tidak terlalu cemas terhadap urusan duniawi tanpa mengabaikan ikhtiar (seperti burung yang tetap “pergi” terbang mencari makan). [3]

Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari

Dalam kitab Al-Hikam, Syekh Ibnu Atha’illah (yang sering disebut dalam literatur Nusantara sebagai Syekh Ibnu Atha’illah as-Samarkandi/as-Sakandari) merumuskan tentang pentingnya menyerahkan pengaturan diri kepada Allah:

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ أَنْتَ لِنَفْسِكَ

“Istirahatkan dirimu (fikiranmu) dari ikut mengatur (urusanmu). Sebab, apa yang telah dijamin oleh selainmu (Allah) untukmu, tidak perlu engkau sibuk memikirkannya.” [4]

Ibnu Atha’illah menekankan bahwa tawakal adalah bentuk “istirahat batin”. Ketika seorang hamba istiqamah dalam menghadapkan hati (Al-Istiqqaamatu fit-tawajjuhi), maka lidah, hati, dan perbuatan jasmaninya akan sejalan. Tujuan utama tawakal bukanlah tercapainya keinginan duniawi, melainkan hilangnya “kepanasan hajat” dalam hati, sehingga yang tersisa hanyalah keridhaan atas takdir Allah, baik yang bersifat wujud (ada) maupun ‘adam (tidak ada). [5]

Imam Al-Ghazali (Ihya Ulumuddin)

Beliau menyatakan bahwa tawakal adalah maqam (kedudukan) yang terdiri dari ilmu, hal (keadaan), dan amal. Ilmu adalah keyakinan bahwa tidak ada pelaku selain Allah (Tauhidul Af’al). [6]

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Dalam kitab Futuhul Ghaib, beliau menegaskan bahwa hamba yang bertawakal adalah hamba yang telah “fana” dari kehendak dirinya dan masuk ke dalam kehendak Allah. Inilah puncak kemuliaan hamba. [7]

Apabila hamba memiliki:

Tawakal (Penyandaran batin), Hidayah (Mengikuti petunjuk Allah), Istiqamah dalam Tawajuh (Konsistensi menghadap Allah dengan lidah, hati, dan jasmani).

Alurnya:

Tawakal melahirkan Ketenangan → Ketenangan memudahkan datangnya Hidayah → Hidayah menguatkan tekad untuk Istiqamah → Istiqamah mengantarkan pada Ridha Allah → Ridha Allah adalah sumber Kemuliaan.
Dalam kondisi ini, hamba tersebut telah “fana” dari pengaturannya sendiri (tadbir) dan masuk ke dalam pengaturan Allah. Ia tidak lagi pusing dengan “ada” atau “tiadanya” sesuatu, karena baginya, Allah sudah cukup sebagai saksi dan pengurus segala urusan.

Seseorang yang memiliki ketiganya seperti seorang nahkoda kapal yang cerdas: Ia memiliki jangkar yang kuat (Tawakal), memiliki kompas dan bintang penunjuk arah (Hidayah), dan ia memegang kemudi dengan stabil tanpa melepaskannya meski badai menerjang (Istiqamah). Kapal tersebut pasti akan sampai ke pelabuhan kemuliaan dengan selamat. Maka Allah akan memberikan Kemuliaan dan Ridha. Sebagaimana wasiat Luqman, keridhaan Allah adalah pangkal utama bagi seorang hamba untuk mencapai derajat yang mulia di sisi-Nya.

Referensi

[1]: Disarikan dari Wasiat Luqman Al-Hakim kepada Puteranya, sebagaimana dikutip dalam Hakikat Hikmah Tauhid dan Tasawuf, Jilid 1, hal. 112. [2]: Jalaluddin as-Suyuthi, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, (Kairo: Dar al-Fajr), hal. 62. [3]: Abu Isa At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, No. 2344. [4]: Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Al-Hikam, Hikmah ke-4, (Kairo: Dar al-Ma’arif), hal. 15. [5]: Syekh Ahmad Zarruq, Syarah Al-Hikam, (Semarang: Toha Putra), hal. 45. [6]: Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid 4, Bab At-Tauhid wa At-Tawakkul, (Beirut: Dar al-Fikr), hal. 240. [7]: Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Futuhul Ghaib, Risalah ke-7, (Mesir: Mustafa al-Babi), hal. 32.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment