مَرْفَأُ السَّلَامِ: وِجْدَانُ اللهِ خَلْفَ صَخَبِ الدُّنْيَا
Dunia sering kali diibaratkan sebagai samudera yang penuh dengan gelombang ujian, hiruk-pikuk syahwat, dan kebisingan yang melalaikan. Di tengah riuhnya eksistensi ini, jiwa manusia sering kali merasa terombang-ambing dan kehilangan arah. Thoriqoh hadir sebagai sebuah “Dermaga Kedamaian” sebuah tempat perhentian spiritual di mana seorang hamba menambatkan hatinya hanya kepada Allah SWT, guna meraih ketenangan yang hakiki.
Mencari Kedamaian di Balik Riuhnya Dunia
Allah SWT telah menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk meraih ketenangan di tengah badai kehidupan adalah dengan berdzikir (mengingat-Nya).
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
” (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28). [1]
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna tathma’innu qulubuhum adalah hati yang merasa ridha kepada Allah sebagai Pelindungnya, sehingga rasa haus akan ketenangan terobati. Thoriqoh mengajarkan metode agar dzikir tidak hanya di lisan, tetapi meresap ke dalam Latifah (titik halus spiritual) sehingga dunia yang riuh tidak lagi mampu mengguncang kedalaman batin sang hamba. [2]
Menemukan Kedekatan dalam Kesunyian
Di balik riuhnya dunia, Allah menanti hamba-Nya dalam kedekatan yang personal. Hal ini dijelaskan dalam sebuah Hadits Qudsi:
يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. Bukhari & Muslim). [3]
Hadits ini disampaikan Rasulullah SAW untuk memotivasi para sahabat agar senantiasa memiliki Raja’ (harapan) yang tinggi kepada Allah. Dalam konteks “Dermaga Kedamaian”, hadits ini menunjukkan bahwa meski dunia begitu gaduh (mala’ / perkumpulan), seorang hamba bisa menciptakan “ruang sunyi” di dalam batinnya (fi nafsihi). Di ruang sunyi inilah, Allah hadir memberikan kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh makhluk mana pun. [4]
Menghadap Allah di Tengah Kesibukan
Seorang ahli Thoriqoh tidak berarti harus meninggalkan dunia secara fisik, namun “meninggalkan” dunia dari hatinya. Allah berfirman:
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat…” (QS. An-Nur [24]: 37). [5]
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang ketika mendengar suara adzan, jika mereka sedang memegang timbangan atau alat perniagaan, mereka segera meletakkannya dan berdiri untuk shalat. [6] Secara esensi, ayat ini menggambarkan sosok yang telah menemukan “Dermaga Kedamaian”; tangannya sibuk dengan urusan dunia, namun hatinya tertambat erat di dermaga ketuhanan.
Thoriqoh Sebagai Navigasi
Hakikat hidup adalah perjalanan kembali kepada Allah (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Tanpa Thoriqoh (jalan/metode), manusia akan tersesat di tengah riuhnya fatamorgana dunia. Dengan bimbingan seorang Mursyid dan konsistensi dalam wirid, jiwa akan menemukan pelabuhannya yang sejati sebuah kondisi di mana hati merasa cukup dengan Allah (Qana’ah) dan tenang dalam dekapan kasih-Nya.
Refernsi
[1]: Al-Qur’an al-Karim, Surah Ar-Ra’d (13), Ayat 28. [2]: Isma’il bin Umar Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Azhim, Jilid 4, (Kairo: Dar al-Hadits), hal. 453. [3]: Hadits Riwayat al-Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675. [4]: Syekh Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Luma’ fi Asbab Wurud al-Hadith, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), berkaitan dengan hadits dzikrullah. [5]: Al-Qur’an al-Karim, Surah An-Nur (24), Ayat 37. [6]: Al-Wahidi an-Naisaburi, Asbabun Nuzul, (Riyadh: Dar al-Mughni), Penjelasan mengenai Surah An-Nur ayat 37.





Comment