Pernahkah telinga kita menangkap kalimat, “Wes Jowo ta uripe?” Secara harfiah, dalam percakapan sehari-hari, ungkapan ini kerap disederhanakan sebagai pertanyaan tentang identitas suku atau asal-usul geografis. Namun, bagi para pewaris kearifan lokal, makna yang terkandung di baliknya jauh lebih agung dan esensial. Mereka meyakini: JAWA bukanlah sekadar label etnis atau nama pulau, melainkan suatu kondisi jiwa (batin) yang telah mencapai kematangan spiritual dan kebijaksanaan. Ini adalah panggilan untuk mencapai kesadaran tertinggi dalam menapaki kehidupan.
Membedah Filsafat Bahasa: Apa Sebenarnya “JAWA” Itu?
Untuk memahami kedalaman konsep ini, kita perlu kembali pada etimologi dan kosmologi Jawa kuno. Analisis leksikal menunjukkan bahwa kata JAWA terdiri dari dua unsur fundamental yang merepresentasikan dualitas spiritual:
Ja Merujuk pada Jati, yang dapat diartikan sebagai cahaya (pencerahan, nur), esensi, atau kebenaran sejati.
Wa Merujuk pada Wadah, Wisesa, atau Wiyata, yang dapat dipahami sebagai ruang, wadah, semesta, atau tempat bernaung.
Apabila kedua unsur ini digabungkan, istilah JAWA dapat ditafsirkan sebagai:
“Cahaya yang menyadari ruangnya,” atau “Kesadaran (pencerahan) yang telah mekar dan mampu menata hidup dalam ruang semesta dengan penuh welas asih (kasih sayang agung).”
Konsep filosofis inilah yang kemudian melahirkan sifat-sifat fundamental “njawani” (bersikap seperti orang Jawa sejati), yang merupakan perwujudan kematangan jiwa:
Tenang (Tentram Batin): Stabilitas emosi yang berasal dari penguasaan diri.
Rikat (Cepat Tanggap): Cepat merespons kebutuhan sesama, bukan cepat bertindak tanpa pertimbangan.
Empan-Papan (Empati dan Proporsionalitas): Kemampuan menempatkan diri dan bersikap sesuai konteks, didasari oleh empati mendalam.
Wicaksana (Bijaksana): Pengambilan keputusan yang adil dan tercerahkan.
Prinsip ini menegaskan universalitasnya melalui peribahasa klasik:
“Wong Jawa ora kudu lair Jawa.” (Tidak harus lahir di Jawa untuk menjadi Jawa.)
Ini berarti, siapa pun, dari suku mana pun, yang telah mencapai kematangan jiwa, mengamalkan welas asih, dan hidup dalam harmoni, pantas disebut telah mencapai kondisi ‘Jawa’.
Implementasi “Wes Jowo” dalam Etika Kehidupan
Ungkapan “Wes Jowo” bukanlah sekadar penanda usia, melainkan deklarasi bahwa seseorang telah “Rampung” atau selesai dalam tahap pencarian jati diri yang paling mendasar. Istilah ini secara praktis berarti:
Sudah Memahami Rasa (Ngerti Roso): Memiliki sensitivitas terhadap perasaan, kebutuhan, dan kesulitan orang lain.
Sudah Mengetahui Tempatnya (Ngerti Papan): Sadar akan posisi, tanggung jawab, dan batasan diri dalam hierarki sosial dan alam semesta.
Mampu Meng-emong (Merawat dengan Kebijaksanaan): Bukan hanya merawat secara fisik, tetapi membimbing, melindungi, dan menjadi penyejuk bagi sesama tanpa mendominasi.
Tidak Dikuasai Ego (Nepi Ing Pamrih): Tindakan yang didasari oleh ketulusan, bukan kepentingan pribadi.
Tindakan yang Halus dan Penuh Kasih (Alus Ing Solah Bawa): Perilaku yang mencerminkan kedalaman batin dan penghargaan terhadap martabat manusia.
Relevansi Konsep Kematangan Jiwa di Dunia Modern
Di era modern yang serba terkotak-kotak, manusia cenderung dinilai berdasarkan indikator eksternal seperti: Agama, Suku, Golongan, atau Kekayaan. Kontrasnya, para leluhur mengedepankan penilaian berdasarkan kedalaman dan kualitas jiwa (internal):
| Parameter Penilaian Modern | Parameter Penilaian Kuno (Jawa) |
| Label Suku, Agama, Status | Kematangan Jiwa (Jawa) |
| Prestasi Materialistik | Kemampuan Meng-emong (Merawat) |
| Kekuasaan atau Dominasi | Welas Asih dan Empan-Papan |
Apabila bangsa ini kembali mengutamakan definisi kuno ini, fokus kita akan bergeser secara kolektif menuju nilai-nilai hakiki:
Welas Asih: Kasih sayang universal sebagai motor utama interaksi sosial.
Jembar Hati (Keluasan Toleransi): Kapasitas batin untuk menerima perbedaan tanpa prasangka.
Bening Pikiran (Manah Ing Kahanan): Kejernihan berpikir yang menghasilkan tindakan benar dan etis.
Dua Tingkatan Kesadaran: Jawa vs. Njawa
Filsafat Jawa membedakan antara status kesadaran yang telah dicapai dan proses yang masih berlangsung:
| Tingkatan | Makna Filosofis | Manifestasi Praktis |
| Jawa | Kesadaran Penuh (Sampun Jumeneng). Jiwa yang sudah matang, telah menemukan dan mengamalkan cahaya dalam dirinya. | Orang yang tindakannya selalu berdasarkan kasih sayang dan kebijaksanaan tanpa perlu dipaksa. |
| Njawa | Proses Menuju Kematangan (Isih Ngenger). Kondisi berusaha untuk menjadi Jawa sejati; masih dalam tahap belajar dan menempa diri. | Ungkapan: “Wis jowo” (sudah matang); “Isih njawa” (masih berusaha mencapai kematangan). |
Refleksi dan Panggilan untuk Berteduh
Kita sering kali kehilangan kebijaksanaan karena terlalu sibuk mengurus “kotak-kotak” identitas yang diciptakan oleh zaman modern. Fokus kita beralih dari kedalaman spiritual menuju batasan-batasan artifisial.
Inilah momennya untuk merenung: Apakah kita saat ini lebih menonjolkan ‘JAWA’ (kematangan jiwa) atau hanya sekadar label-label luar (suku, agama, golongan) yang memecah belah?
Marilah kita kembali ke kearifan lama: Menjadi teduh untuk diri sendiri (Tentrem Batin) dan menjadikan hidup lebih adem (sejuk dan damai) bagi orang lain (Tansah Ngemong). Karena pada hakikatnya, wong Jawa sejati adalah ia yang membawa cahaya dan kedamaian ke mana pun ia melangkah.
Referensi
Koesoemadinata, R. (1995). Filsafat Jawa: Ajaran tentang Keseimbangan Hidup. Yogyakarta: Ombak. (Mendalami pandangan dunia dan etika Jawa).
Geertz, C. (1960). The Religion of Java. Chicago: University of Chicago Press. (Kajian klasik mengenai sinkretisme dan struktur spiritual masyarakat Jawa).
Soedjatmoko, M. (2003). Jawa: Budaya dan Spiritualitas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. (Mengulas hubungan antara budaya, spiritualitas, dan nilai-nilai luhur Jawa).
Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah 2:195. (Prinsip universal Ihsan – berbuat baik dan memberi dengan keutamaan, yang selaras dengan konsep welas asih).
Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat 49:10. (Menekankan pentingnya menjaga persaudaraan (ukhuwah) dan perdamaian, yang merupakan hasil dari batin yang matang).





Comment