حِينَ يَحُلُّ المَلِكُ فِي القَلْبِ: إِدْرَاكُ المَعْرِفَةِ عِنْدَ قُصُورِ العَمَلِ
Sering kali seorang hamba merasa kecil hati ketika amal ibadahnya terasa sedikit atau tidak sempurna. Namun, Syekh Ibnu Atha’illah mengingatkan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar jumlah amal, yaitu Ma’rifat (pengenalan) yang Allah SWT. tanamkan di dalam hati.
إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ، فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَهُوَ يُرِيْدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ. أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مَوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَالْأَعْمَالَ أَنْتَ مُهْدِيْهَا إِلَيْهِ؟ وَأَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مَوْرِدُهُ عَلَيْكَ؟
“Apabila Allah membukakan bagimu suatu jalan untuk mengenal-Nya (ma’rifat), maka janganlah engkau peduli dengan sedikitnya amalmu. Sebab, Allah tidak membukakan jalan itu kecuali karena Dia hendak memperkenalkan diri-Nya kepadamu. Tidakkah engkau tahu bahwa perkenalan itu adalah pemberian Allah kepadamu, sedangkan amal-amalmu adalah persembahanmu kepada-Nya? Maka di manakah nilai persembahanmu jika dibandingkan dengan pemberian Allah kepadamu?” [1]
Allah SWT menegaskan bahwa hidayah dan pengenalan kepada-Nya adalah murni hak prerogatif-Nya:
يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Dia menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Ali Imran: 74)
Ayat ini turun ketika kaum Yahudi dan Nasrani mengklaim bahwa kenabian dan rahmat Allah hanya milik kelompok mereka. Allah menurunkan ayat ini untuk menegaskan bahwa rahmat dan pengenalan kepada-Nya (ma’rifat) tidak bisa dibatasi oleh logika manusia atau jumlah amal, melainkan murni karunia Allah kepada siapa pun yang Dia kehendaki. [2]
Rasulullah SAW bersabda mengenai ketidakberdayaan amal manusia untuk “membeli” surga atau rahmat Allah:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ. قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
“Tidak seorang pun yang masuk surga karena amalnya. Sahabat bertanya: ‘Termasuk engkau, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku’.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini disampaikan untuk mendidik para sahabat agar tidak bersandar (i’timad) pada kekuatan amal lahiriah mereka. Rasulullah ingin mengalihkan fokus hamba dari memandang “diri yang beramal” menjadi memandang “Allah yang memberi taufik untuk beramal.” [3]
Beliau menjelaskan bahwa jalan mengenal Allah (ta’arruf) bisa datang dalam berbagai bentuk, terkadang melalui musibah yang membuat hati tunduk, atau melalui kekhusyukan saat berzikir. Menurut beliau, jika hati sudah merasa dekat dengan Allah, jangan lagi merasa gundah dengan jumlah rakaat yang sedikit, karena satu detik ma’rifat lebih berharga daripada seribu tahun ibadah tanpa kehadiran hati. [4]
Syekh Ibnu Ajibah (Iqazhul Himam)
Beliau membedakan antara Amal dan Warid (limpahan ketuhanan). Amal berasal dari hamba (makhluk), sedangkan Warid atau Ma’rifat berasal dari Al-Haq (Pencipta). Beliau berkata: “Sesuatu yang berasal dari-Nya untukmu lebih mulia daripada sesuatu yang berasal dari dirimu untuk-Nya. Karena pemberian-Nya adalah bukti cinta-Nya, sementara amalmu sering kali masih bercampur dengan pamrih atau kelalaian.” [5]
Imam Al-Ghazali (Hujjatul Islam)
Dalam kitab Ihya, beliau menekankan bahwa tujuan akhir dari seluruh ibadah adalah ma’rifatullah. Jika seseorang sudah sampai pada tujuan tersebut, maka amal lahiriahnya telah mencapai ruhnya. Beliau mengibaratkan amal sebagai “pelayan” dan ma’rifat sebagai “Raja”. Jika Sang Raja sudah hadir, jangan lagi merisaukan jumlah pelayan yang sedikit. [6]
Hikmah ini mengajarkan kita tentang Fikih Prioritas Hati:
Jangan Meremehkan Ma’rifat: Jika Anda merasa tiba-tiba mencintai Allah, merasa diawasi-Nya, atau merasa rendah hati di hadapan-Nya, itu adalah harta karun yang jauh lebih besar daripada sekadar tumpukan amal ritual.
Amal adalah Kendaraan, Ma’rifat adalah Tujuan: Jangan sampai Kita sibuk memikirkan “kendaraan” (amal) hingga melupakan “Tujuan” (Allah).
Syukur atas Pengenalan: Bersyukurlah karena Allah memilih Kita untuk mengenal-Nya melalui pintu yang Dia bukakan, bukan melalui pintu yang Kita paksakan sendiri.
Referensi
[1]: Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Kitab Al-Hikam, (Kairo: Dar al-Ma’arif), hal. 10. [2]: Jalaluddin as-Suyuthi, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, (Kairo: Dar al-Fajr), hal. 65. [3]: Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab al-Mardha, No. 5673; Muslim, No. 2816. [4]: Ahmad Zarruq, Syarah Al-Hikam, (Surabaya: Al-Haramain), hal. 14. [5]: Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarh al-Hikam, (Libanon: Dar al-Fikr), hal. 35. [6]: Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid IV, Bab Al-Mahabbah wa Al-Ma’rifah, (Beirut: Darul Fikr), hal. 310.





Comment