لَا تَكُنْ أُنْبُوبًا صَدِئًا, يَجْرِي فِيهِ الْمَاءُ الطَّهُورُ وَلَا يَذُوقُ عُذُوبَتَهُ
Mutiara hikmah dari kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari :
الْعِبَارَاتُ قُوتٌ لِعَائِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ، وَلَيْسَ لَكَ إِلَّا مَا أَنْتَ لَهُ آكِلٌ
“Tutur kata yang bijak itu ibarat hidangan makanan bagi mereka yang mendengarkan, dan jatahmu hanyalah apa yang engkau makan darinya.”
Ungkapan ini merupakan tamparan spiritual bagi para pembicara, dai, maupun penasihat. Kalimat ini mengingatkan bahwa keindahan retorika hanya akan menjadi pemuas dahaga spiritual orang lain. Bagi si pembicara, ucapan itu tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah kecuali sejauh mana ia mengamalkan dan menginternalisasikan ucapannya sendiri.
Allah SWT berfirman dalam Surah As-Saff (61) ayat 2-3:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”[1]
Dalam riwayat Imam At-Tirmidzi dari Abdullah bin Salam RA, disebutkan bahwa beberapa sahabat Rasulullah SAW berkumpul dan saling berkata: “Seandainya kita tahu amalan apa yang paling dicintai oleh Allah, niscaya kita akan mengamalkannya.”
Namun, setelah Allah menurunkan syariat jihad (sebagai salah satu amalan yang paling dicintai), sebagian dari mereka justru merasa berat dan enggan melaksanakannya. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai teguran keras bagi mereka yang lisannya mudah berazam atau menasihati, namun tindakannya tidak selaras.[2]
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Usamah bin Zaid RA, Rasulullah SAW bersabda:
« يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ »
“Akan didatangkan seorang pria pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka. Maka ususnya terburai di dalam neraka, lalu dia berputar-putar dengannya sebagaimana keledai berputar mengitari alat gilingannya. Penduduk neraka pun berkumpul mengelilinginya dan bertanya: ‘Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah kamu dahulu menyuruh kami berbuat makruf dan melarang kami dari kemungkaran?’ Pria itu menjawab: ‘Dahulu aku menyuruh kalian berbuat makruf tapi aku sendiri tidak mendataginya (mengamalkannya), dan aku melarang kalian dari kemungkaran tapi aku sendiri melakukannya.'”[3]
Hadis ini disampaikan oleh Rasulullah SAW sebagai peringatan keras (tahdzir) kepada para sahabat tentang bahaya “penyakit lisan” para pemegang otoritas agama (ulama dan pemberi nasihat) di kalangan umat-umat terdahulu (seperti Bani Israil). Mereka pandai merangkai kata dan hukum untuk orang lain, namun membebaskan diri mereka sendiri dari beban hukum tersebut.[4]
Syaikh Ibnu Atha’illah Al-Iskandari
Dalam syarah Al-Hikam, beliau menekankan bahwa kata-kata yang keluar dari seorang hamba itu membawa “pakaian” atau energi dari kondisi spiritual (hal) si pembicara: “Setiap ucapan yang keluar itu mengenakan pakaian hati tempat ucapan itu berasal.”[5]. Jika hati si pembicara kosong dari rasa takut kepada Allah dan hanya mencari pujian makhluk (memberi makan pendengar), maka ucapan itu adalah racun bagi dirinya sendiri, meskipun menjadi obat bagi orang lain.
Imam Al-Ghazali (Hujjatul Islam)
Dalam kitab monumentalnya, Imam Al-Ghazali memberikan analogi yang sangat relevan dengan ungkapan di atas: “Perumpamaan seorang pemberi nasihat yang tidak mengamalkan ucapannya adalah seperti sebatang lilin. Ia membakar dirinya sendiri demi memberikan cahaya dan penerangan bagi orang lain.”[6]. Beliau menambahkan bahwa “Keluarga pendengar” mengambil manfaat dari ilmu yang disampaikan karena ilmu itu sendiri suci, namun si pembicara tidak mendapatkan pahala esensial jika tujuannya melenceng dari keikhlasan.[7]
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Pendiri Tarekat Qadiriyah ini dalam kitab Fathur Rabbani menegaskan: “Wahai anak muda, janganlah kamu menjadi orang yang fasih lisannya namun bodoh hatinya. Kamu mengajak orang lain kepada Allah, sementara kamu sendiri lari dari-Nya.”[8]
Novelty: ungkapan ini menegaskan bahwa kata-kata bijak berwujud metafisik sebagai makanan pokok (qut) yang hanya bisa diserap oleh ruhani si pembicara jika ia memiliki “alat pencernaan” berupa pengamalan nyata; tanpa itu, sang pembicara hanyalah saluran pipa karatan yang mengalirkan air bersih ke rumah orang lain tanpa pernah merasakan kesegaran air itu sendiri.
Referensi
[1] Al-Qur’an Al-Karim, Surah As-Saff (61): 2-3. [2] Imam At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur’an, Bab Wa Min Surati As-Saff, Hadis No. 3309, Juz 5, hal. 407. [3] Imam Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqaiq, Bab Uqubatu Man Ya’muru bil Ma’rufi wa La Yaf’aluhu, Hadis No. 2989, Juz 4, hal. 2290. [4] Imam An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, Dar Ihyaut Turats Al-Arabi, Beirut, Juz 18, hal. 118. [5]: Ibnu Atha’illah Al-Iskandari, Kalamul Hikam, Hikmah ke-214, Cetakan Darul Ma’arif, Mesir, hal. 89. [6] Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Kitab Al-Ilm, Bab Afat Al-Ilm wa Bayan Ulama Al-Akhirah, Dar Al-Ma’rifah, Beirut, Juz 1, hal. 62. [7] Ibid., Juz 1, hal. 64. [8] Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, Al-Fathur Rabbani wal Faidhur Rahmani, Majelis ke-12, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut, hal. 54.





Comment