تَطَوُّرُ التَّفَكُّرِ, مِنَ النَّظَرِ الْعَقْلِيِّ إِلَى الشُّهُوْدِ الْقَلْبِيِّ
Mutiara Hikah dari Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari.
اَلْفِكْرَةُ فِكْرَتَانِ: فِكْرَةُ تَصْدِيْقٍ وَإِيْمَانٍ، وَفِكْرَةُ شُهُوْدٍ وَعِيَانٍ. فَالْأُوْلَى لِأَرْبَابِ الْاِعْتِبَارِ، وَالثَّانِيَةُ لِأَرْبَابِ الشُّهُوْدِ وَالْاِسْتِبْصَارِ.
“Pikiran (tafakur) itu ada dua macam: pikiran yang timbul dari pembenaran (tashdiq) dan keimanan, serta pikiran yang timbul dari penyaksian langsung (syuhud) dan kasat mata batin (ʼiyan). Yang pertama adalah konsumsi bagi orang-orang yang mencari iktibar (mengambil pelajaran), sedangkan yang kedua adalah bagian bagi orang-orang yang telah mencapai penyaksian dan keterbukaan mata batin.”[1]
Uraian di atas sesuai dengan firman Allah SWT :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulul albab). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali ‘Imran: 190-191)[2]
Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dari jalur Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah SAW menangis semalaman suntuk ketika ayat ini turun. Ketika Bilal bertanya mengapa beliau menangis padahal dosanya telah diampuni, Rasulullah SAW bersabda: “Celakalah bagi orang yang membaca ayat ini namun tidak mau merenungkan (bertafakur) atas maknanya.”[3]
Hadis yang melandasi Fikratu Syuhudin wa ‘Iyan (pandangan mata batin) adalah Hadis Jibril yang sangat populer mengenai maqam Ihsan:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya (Syuhud/’Iyan), jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu (Muraqabah).” (HR. Muslim)[4]
Hadis ini disabdakan oleh Rasulullah SAW di akhir masa kenabian beliau ketika Malaikat Jibril datang dalam wujud seorang laki-laki berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam, lalu duduk di hadapan Nabi untuk mengajarkan kepada umat Islam tentang pilar-pilar agama mereka: Islam, Iman, dan Ihsan. [5]
Syekh Ibnu ‘Ajibah (Ulama Thariqah Shadziliyah)
Dalam kitab syarahnya, beliau menjelaskan bahwa: Fikir Level 1 (Tashdiq wa Iman): Jalannya para Salikin (orang yang baru berjalan menuju Allah). Mereka berpindah dari makhluk untuk melihat adanya Al-Khaliq (dalil Atsar ke Muatsir). Fikir Level 2 (Syuhud wa ‘Iyan): Jalannya para Majdzub/Arifin (orang yang telah sampai). Mereka tidak lagi mencari Allah lewat makhluk, melainkan melihat Allah terlebih dahulu, baru melihat makhluk sebagai manifestasi kekuasaan-Nya. “Kaum iktibar berpindah dari ciptaan menuju Sang Pencipta, sementara kaum istibshar menyaksikan Sang Pencipta terlebih dahulu, baru melihat ciptaan-Nya tenggelam dalam keagungan-Nya.”[6]
Imam Al-Ghazali (Hujjatul Islam)
Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menegaskan: “Ketahuilah, buah dari tafakur adalah ilmu dan tersingkapnya makrifat. Ketika makrifat itu telah menetap di dalam hati, keadaan hati akan berubah (ahwal), dan ketika hati berubah, amalan anggota tubuh pun akan ikut berubah.”[7]
Novelty : Maqolah Ibnu Atha’illah ini jika ditarik ke dalam epistemologi modern dan psikologi spiritual adalah Dua Jalur Kognisi Spiritual (Two Tracks of Spiritual Cognition). Ibnu Atha’illah berhasil merekonstruksi bahwa “berpikir” dalam Islam tidak mandek pada olah rasio semata (intellectual exercise), melainkan berevolusi menjadi alat penangkap cahaya ketuhanan (spiritual vision).
Referensi
[1] Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Al-Hikam, (Kairo: Dar al-Ma’arif, t.th.), hlm. 64, Maqolah No. 221. [2] Al-Qur’an al-Karim, Surah Ali ‘Imran [3]: 190-191. [3] Ibnu Hibban, Shahih Ibn Hibban, Juz 2, (Beirut: Muassasatar-Risalah, 1993), hlm. 386, Hadis No. 620. [4] Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, Juz 1, (Kairo: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, 1955), hlm. 36, Hadis No. 8. [5] Abu Zakariya An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, Juz 1, (Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi, 1392 H), hlm. 140. [6] Ibnu ‘Ajibah al-Hasani, Iqadz al-Himam fi Syarh al-Hikam, Juz 2, (Kairo: Musthafa al-Babi al-Halabi, 1961), hlm. 210-211. [7] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, Juz 4, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, t.th.), hlm. 423.





Comment