Deconstructing the Spiritual Ego, Towards the Eternal Witnessing of Divine Proximity

تَفْكِيكُ الأَنَا الرُّوحِيَّةِ نَحْوَ مُشَاهَدَةِ القُرْبِ الإِلَهِيِّ الأَبَدِيِّ

Mutiara hikmah dari Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakanandari :

قُرْبُكَ مِنْهُ أَنْ تَكُونَ مُشَاهِداً لِقُرْبِهِ، وَإِلَّا فَمِنْ أَيْنَ أَنْتَ وَوُجُودُ قُرْبِهِ؟

“Kedekatanmu dengan-Nya adalah kalau engkau menyaksikan (merenungkan) kedekatan-Nya kepadamu. Kalau tidak demikian, dari mana engkau [yang fana] memiliki wujud hingga bisa mendekatkan diri pada wujud kedekatan-Nya?” [1]

Kedekatan Allah kepada hamba-Nya merupakan hakikat mutlak yang mendahului kesadaran hamba itu sendiri. Allah SWT berfirmal dalam QS. Qaf (50): 16

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” [2]

Secara khusus, mayoritas mufasir (seperti Imam Al-Wahidi dan Al-Baghawi) menyebutkan bahwa ayat ini tidak turun karena satu peristiwa kasuistik (sabab khash), melainkan sebagai penegasan teologis umum (bayan ‘am) untuk membantah kaum musyrik Mekah yang meragukan bahwa Allah mendengar bisikan hati mereka terkait hari kebangkitan, Allah SWT berfirman dalam [3].QS. Al-Baqarah (2): 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…” [4]

Imam At-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi SAW dan bertanya: “Apakah Tuhan kita itu dekat sehingga kita cukup berbisik (bermunajat), atau Jauh sehingga kita harus berteriak?” Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai jawaban bahwa Dia Maha Dekat [5].

Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari (Hadis Qudsi)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي… وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعاً، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعاً تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعاً

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku… Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa…'” [6]

Hadis ini disampaikan Nabi SAWsebagai targhib (motivasi besar) kepada para sahabat yang sering merasa minder dan merasa berdosa, menegaskan bahwa rahmat dan kedekatan Allah selalu mendahului serta melingkupi langkah taubat seorang hamba [7].

 Syekh Ibnu ‘Ajibah (Ulama Thariqah Syadziliyah)

Dalam kitab Iqadz al-Himam fi Syarh al-Hikam, beliau menjelaskan: “Kedekatan hamba kepada Allah bukanlah kedekatan secara jarak fisik (qurb al-masafah), karena Allah Mahasuci dari ruang. Kedekatan hamba adalah kesadaran batin (syuhud). Jika engkau merasa ‘akulah yang mendekat’, engkau terjebak dalam syirik khafi (merasa dirimu memiliki wujud mandiri). Hakikat kedekatan adalah engkau fana dari dirimu, dan menyaksikan bahwa Dialah yang sejak awal dekat denganmu.” [8]

Syekh Zarruq (Ulama dan Ahli Fikih-Tasawuf)

Dalam Syarh al-Hikam, beliau menekankan dimensi tauhid: “Siapa yang melihat kedekatan dirinya kepada Allah, maka ia masih melihat ego (nafs)-nya. Namun, siapa yang menyaksikan kedekatan Allah kepadanya, ego itu akan lebur, dan ia naik ke maqam ihsan (beribadah seakan-akan melihat-Nya).” [9]

Imam Al-Ghazali (Ulama Sufi Kontemplatif)

Dalam Ihya ‘Ulumuddin, beliau membagi kedekatan (al-qurb) menjadi dua: kedekatan ilmu/kekuasaan (untuk semua makhluk) dan kedekatan penyaksian/cinta (khusus untuk para wali). Ibnu Atha’illah mengajak hamba bergeser dari sekadar tahu secara kognitif menuju penyaksian spiritual (musyahadah) [10].

Novelty : Hikmah Ibnu Atha’illah ini terletak pada dekonstruksi waham kedekatan melalui pembalikan paradigma (paradigm shift) spiritual, di mana kedekatan dengan Tuhan tidak lagi dipandang sebagai hasil metabolisme amal atau “kerja keras” ego seorang hamba (bottom-up), melainkan sebuah kesadaran bahwa Allah sudah selalu dekat sejak awal (top-down). Dengan menggeser fokus dari ego yang merasa “harus mendekat” menjadi kepasrahan yang “menyaksikan kedekatan-Nya”, amalan tidak lagi menjadi beban yang memicu kecemasan eksistensial (khauf) saat amal itu sedikit, melainkan berubah menjadi penyingkap tirai (hijab) batin yang melahirkan rasa aman, cinta (mahabbah), dan ketenangan jiwa yang absolut (thumaninah).

Referensi

[1] Ibnu Atha’illah as-Sakanandari, Al-Hikam, Mesir: Dar al-Ma’arif, t.th., Halaman 42. [2] Al-Qur’an al-Karim, Surah Qaf [50]: Ayat 16. [3] Al-Wahidi al-Naisaburi, Asbab al-Nuzul, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2000, Halaman 234. 4] Al-Qur’an al-Karim, Surah Al-Baqarah [2]: Ayat 186. [5] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Kairo: Dar al-Hajr, 2001, Jilid 3, Halaman 480. [6] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Tauhid, Bab Qawl Allah Ta’ala “Wa Yahdzirukumullahu Nafsah”, Hadis No. 7405. [7] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H, Jilid 13, Halaman 384. [8] Ibnu ‘Ajibah al-Hasani, Iqadz al-Himam fi Syarh al-Hikam, Kairo: Dar al-Ma’arif, t.th., Halaman 112-113. [9] Ahmad bin Zarruq, Syarh al-Hikam al-Atha’iyyah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005, Halaman 76. [10] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, Kairo: Dar al-Hadits, 2004, Jilid 4, Halaman 321.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment