True Inner Liberation, When Praise and Blame Turn to Dust

الحُرِّيَّةُ القَلْبِيَّةُ الحَقِيقِيَّةُ, حِينَمَا يَصِيرُ المَدْحُ وَالذَّمُّ هَبَاءً

Mutiara hikmah dari Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari :             

‏مَتَى أَلَمَكَ عَدَمُ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَيْكَ أَوْ تَوَجُّهُهُمْ بِالذَّمِّ إِلَيْكَ، فَارْجِعْ إِلَى عِلْمِ اللهِ فِيكَ، فَإِنْ كَانَ لَا يُقْنِعُكَ عِلْمُهُ فَمُصِيبَتُكَ بِعَدَمِ قَنَاعَتِكَ بِعِلْمِهِ أَشَدُّ مِنْ مُصِيبَتِكَ بِوُجُودِ الْأَذَى مِنْهُمْ.

“Kala engkau sakit hati karena orang-orang tidak menghiraukanmu, atau mereka acuh diikuti dengan tindakan mencelamu, maka kembalikanlah kepada ilmu Allah tentang dirimu. Apabila engkau masih belum puas dengan ilmu-Nya, maka derita yang menimpamu karena tidak puas dengan ilmu-Nya itu jauh lebih besar daripada derita yang menimpamu akibat celaan mereka.”[1]

Kalam hikmah ini berakar kuat pada konsep Kecukupan Allah (Al-Kifayah) dan pandangan bahwa penilaian makhluk tidak sebanding dengan penilaian Khaliq.  Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an

‏أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِن دُونِهِ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakutimu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah maka tidak seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (QS. Az-Zumar [39]: 36)[2]

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Said bin Jubair, bahwa orang-orang kafir Quraisy menakut-nakuti Nabi Muhammad SAW dengan berkata, “Berhentilah mencaci maki tuhan-tuhan kami (berhala), atau jika tidak, tuhan-tuhan kami akan membuatmu gila atau menimpakan penyakit kusta kepadamu.” Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai penegasan bahwa perlindungan dan ilmu Allah atas hamba-Nya sudah lebih dari cukup, sehingga celaan dan ancaman manusia tidak perlu dirisaukan.[3]

‏عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ: “…وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

” Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Suatu hari aku berada di belakang Nabi SAW, lalu beliau bersabda: ‘…Ketahuilah, jika seandainya umat manusia bersatu untuk memberikan ragam manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberinya kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakaimu, mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering’.” (HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadis Hasan Shahih).[4]

Hadis ini disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada Ibnu Abbas yang saat itu masih remaja (ghulam). Nabi SAWingin menanamkan fondasi tauhid yang kokoh sejak dini agar jiwa seorang mukmin merdeka dari ketergantungan psikologis kepada makhluk (baik pujian maupun celaan) dan hanya menyandarkan rasa aman pada ilmu serta ketetapan Allah.[5]

Syekh Ibnu Ajiba (Ulama Thariqah Syadziliyah)

Dalam kitabnya Iqadh al-Himam, beliau menjelaskan: “Sakit hati timbul karena engkau masih melihat adanya makhluk yang memiliki daya. Jika engkau menyaksikan bahwa gerak dan diamnya makhluk berada di tangan Allah, maka pujian mereka tidak akan membuatmu terbang, dan celaan mereka tidak akan membuatmu tumbang. Menolak mencukupkan diri dengan ilmu Allah adalah tanda tipisnya makrifat.”[6]

Syekh Abdul Qadir al-Jailani (Pendiri Thariqah Qadiriyah)

Dalam Futuhul Ghaib, beliau menekankan pentingnya mematikan pandangan terhadap makhluk: “Keluarlah engkau dari diri sendiri dan dari manusia. Pandanglah celaan dan pujian mereka seperti debu yang ditiup angin. Ketika engkau ridha dengan pengetahuan Allah tentang dirimu, engkau telah mencapai kemerdekaan batin yang sejati.”[7]

Syekh Muhammad Said Ramadan al-Bouthi

Dalam syarahnya terhadap Al-Hikam, beliau mengaitkannya dengan realitas sosial modern:

“Manusia modern hidup untuk mencari ‘citra’ di mata manusia. Ketika citra itu rusak oleh celaan, mereka depresi. Ibnu Atha’illah memberikan obat: Allah tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Jika Allah rida, apa ruginya dunia membencimu? Dan jika Allah murka, apa gunanya seluruh dunia memujimu?”[8]

Novelty : “Orisinalitas pemikiran Ibnu Atha’illah dalam hikmah ini terletak pada rekonstruksi radikal atas akar penderitaan psikologis, di mana beliau menggeser sumber rasa sakit dari faktor eksternal (celaan manusia) ke faktor internal, yaitu krisis ketidakpuasan spiritual atau cacat tauhid terhadap ilmu Allah. Melalui diagnosa “musibah ganda” (double calamity), beliau menegaskan bahwa ketidakpuasan terhadap pengetahuan Allah atas diri kita merupakan penderitaan teologis yang jauh lebih besar ketimbang luka emosional akibat penolakan sosial. Sebagai solusinya, hikmah ini menawarkan sebuah terapi kognitif berbasis makrifat yang berfungsi sebagai penyembuh mental (mental healing) bagi kecemasan sosial modern, dengan cara mengalihkan ketergantungan ego pada validasi makhluk menuju kedamaian mutlak di dalam pengawasan Khaliq.”

Referensi

[1] Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Al-Hikam, Mesir: Dar al-Ma’arif, t.th., Halaman 45. [2] Al-Qur’anul Karim, Surah Az-Zumar, Ayat 36. [3] Jalaluddin as-Suyuthi, Lubah an-Nuquul fi Asbaab an-Nuzuul, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, Halaman 184. [4] Abu Isa Muhammad al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, Kitab Sifat al-Qiyamah wa al-Wara’ wa al-Zuhd, Hadis No. 2516, Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1998, Juz 4, Halaman 246. [5] Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, Kairo: Dar al-Hadits, 2008, Halaman 210. [6] Ibnu Ajiba al-Hasani, Iqadh al-Himam fi Syarh al-Hikam, Kairo: Dar al-Ma’arif, t.th., Halaman 112. [7] Abdul Qadir al-Jailani, Futuh al-Ghaib, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005, Halaman 34. [8] Muhammad Said Ramadan al-Bouthi, Al-Hikam al-Atha’illah: Syarh wa Tahlil, Damaskus: Dar al-Fikr, 2003, Juz 2, Halaman 78.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment