Dr. Karmuji, S.Sy., M.Sy
(Penyuluh Agama Islam Kabupaten Tuban )
Hari Raya Idul Adha kembali menyapa umat Muslim di seluruh dunia pada tahun 2026. Di tengah deru dunia modern yang bergerak serba cepat, instan, dan individualis, ibadah qurban hadir bukan sekadar sebagai ritual tahunan menyembelih hewan ternak.
Lebih dari itu, qurban adalah sebuah refleksi spiritual yang mendalam sebuah upaya untuk menapak tilas jejak keikhlasan agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, lalu menerjemahkannya ke dalam konteks kehidupan syariat dan sosial hari ini.
Akar Sejarah: Puncak Keikhlasan Ayah dan Anak
Akar dari ibadah qurban adalah kisah yang tertulis abadi dalam QS. As-Saffat ayat 102. Nabi Ibrahim AS diuji dengan perintah yang secara logika manusia sangat berat: menyembelih putra tercintanya, Ismail, yang telah dinantikannya selama bertahun-tahun.
Namun, respons dari keduanya sungguh di luar nalar kemanusiaan biasa. Nabi Ibrahim menyampaikan perintah itu dengan kelembutan, dan Nabi Ismail menjawabnya dengan keteguhan iman:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Ketika pisau sudah berada di leher dan keikhlasan keduanya telah mencapai puncaknya, Allah SWT menggantikan Ismail dengan seekor domba yang besar. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa Allah tidak menginginkan darah atau daging manusia, melainkan menguji ketaatan, ketakwaan, dan kerelaan untuk melepaskan ego.
Tantangan Kehidupan Modern: Apa “Ismail” Kita Hari Ini?
Di era modern tahun 2026 ini, kita tidak lagi diminta untuk menyembelih anak kandung kita. Namun, setiap dari kita pasti memiliki “Ismail-Ismail” modern di dalam hati kita.
“Ismail” modern itu bisa berbentuk:
- Harta dan Kekayaan: Keinginan untuk terus menumpuk materi demi status sosial.
- Jabatan dan Reputasi: Rasa haus akan pengakuan, pujian, dan popularitas di media sosial (flexing).
- Waktu dan Kenyamanan: Keengganan untuk keluar dari zona nyaman demi membantu orang lain.
Berqurban di zaman modern berarti kesediaan untuk “menyembelih” sifat egois, keserakahan, dan keterikatan yang berlebihan pada duniawi. Di saat inflasi, ketidakpastian ekonomi, dan gaya hidup konsumtif menjerat masyarakat, mengeluarkan sebagian harta untuk membeli hewan qurban adalah bukti nyata bahwa cinta kita kepada Sang Pencipta jauh melampaui cinta kita pada materi.
Reaktualisasi Makna Qurban di Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, ibadah qurban mengalami transformasi dalam hal kemudahan pelaksanaan, namun esensinya tetap sama. Ada dua dimensi besar yang harus kita jaga:
Dimensi Vertikal (Hablum minallah)
Ibadah qurban adalah sarana mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Nilai yang sampai kepada Allah bukanlah fisik hewan qurbannya, melainkan ketakwaan yang mendasari ibadah tersebut.
Keikhlasan + Ketaatan =Takwa yang Diterima
Dimensi Horizontal (Hablum minannas)
Modernisasi memberikan kita fasilitas seperti Digital Qurban (qurban online via aplikasi). Hal ini sangat positif karena mempermudah distribusi daging qurban ke daerah-daerah pelosok, rawan pangan, atau wilayah bencana yang jarang tersentuh.
Qurban menjadi jembatan sosial yang meruntuhkan sekat antara si kaya dan si miskin. Setahun sekali, masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi dapat menikmati hidangan yang sama, menumbuhkan rasa syukur, dan mempererat tali persaudaraan (ukhuwah Islamiyah).
Kesimpulan: Menjadi “Ibrahim” di Era Digital
Meneladani jejak keikhlasan Nabi Ibrahim di tahun 2026 bukan berarti kita harus mengasingkan diri dari modernitas. Sebaliknya, kita ditantang untuk menggunakan segala kemudahan modern ini sebagai alat untuk memperluas dampak kebaikan.
Saat kita menyaksikan hewan qurban disembelih pada Idul Adha 2026 ini, tanyakan pada diri sendiri:
- “Sifat buruk apa yang hari ini harus saya sembelih?”
- “Kebaikan apa yang bisa saya bagikan?”
Semoga ibadah qurban kita tahun ini tidak hanya menjadi gugur kewajiban, melainkan menjadi momentum transformasi spiritual yang membersihkan jiwa dan menyejahterakan sesama.
Selamat Hari Raya Idul Adha 2026.





Comment