اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَتَقْصِيرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَلِيلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيرَةِ مِنْكَ
“Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu (oleh Allah) dan kelalaianmu dalam melaksanakan apa yang dituntut/dibebankan kepadamu, merupakan bukti dari padamnya mata batin (bashirah) pada dirimu.”
Usaha keras baik dengan hati maupun perbuatan seperti bekerja siang dan malam tanpa mengenal waktu, membanting tulang tanpa kenal lelah demi memenuhi kebutuhan hidup yang didambakan (baik yang bersifat primer, sekunder, maupun tersier), namun di sisi lain lalai dalam melaksanakan ibadah serta melalaikan apa yang dituntut oleh Allah SWT seperti menyembah-Nya, mempersiapkan diri menghadapi Hari Perhitungan (Yaumul Hisab), meraih keridaan-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya maka ketahuilah bahwa semua itu merupakan tanda nyata padamnya mata hati.
Jikalau hati hidup dan bersinar terang, maka tidak akan terobsesi secara berlebihan mengurus sesuatu yang telah dijamin oleh Allah SWT, serta tidak akan pusing berlebihan memikirkan apa yang akan dimakan hari ini. Jika telah berusaha dan berikhtiar sekuat tenaga, maka bertawakallah kepada-Nya. Hanya Dialah Sang Maha Pemberi Rezeki, tiada yang lain.
Apabila hati dipenuhi cahaya, maka akan merasa bahagia dan bersemangat dalam menjalankan seluruh perintah-Nya tanpa kelalaian. Juga menjauhi segala larangan-Nya, sebab maksiat adalah kegelapan yang akan memadamkan cahaya di dalam hati.
Untuk memahami hikmah ke-5 dari Kitab Al-Hikam ini secara lebih mendalam, Syekh Ibn Atha’illah membagi perkara manusia menjadi dua kategori utama:
1. Mata Kepala (Al-Bashar): Digunakan untuk melihat bentuk-bentuk lahiriah dan materi Dunia.
2. Mata Batin (Al-Bashirah): Kepekaan jiwa dan hakikat spiritual untuk melihat kebenaran Ilahi.
Seseorang dikatakan mengalami padamnya mata batin (Inthimaasul Bashirah) ketika:
– Pikirannya Terbalik: Ia memperlakukan jaminan Allah seolah-olah belum pasti (sehingga harus dikejar secara membabi buta), sementara ia memperlakukan janji akhirat seolah-olah hal sepele.
– Krisis Kepercayaan pada Janji Allah: Ia lebih percaya pada hasil keringatnya sendiri daripada jaminan Allah yang telah menegaskan rezeki tiap makhluk-Nya.
– Tertipu oleh Sebab/Ikhtiar: Menganggap bahwa rezeki murni berasal dari usahanya, bukan dari kemurahan Allah.





Comment