مِمَّا يَدُلُّكَ عَلَى وُجُودِ قَهْرِهِ سُبْحَانَهُ أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَا لَيْسَ بِمَوْجُودٍ مَعَهُ.
Di antara tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah Swt. kepadamu adalah ketika Dia menghijabmu dari diri-Nya dengan sesuatu yang pada hakikatnya tidak memiliki keberadaan tanpa-Nya.
Alam semesta beserta seluruh isinya merupakan ciptaan Allah Swt. Tidak ada satu pun makhluk yang mampu berdiri sendiri tanpa kehendak, kekuasaan, dan pemeliharaan-Nya. Gunung-gunung yang menjulang tinggi, lautan yang terbentang luas, matahari yang menyinari bumi, bulan dan bintang yang menghiasi langit, serta kehidupan yang terus berlangsung, semuanya merupakan bukti nyata kebesaran Allah Swt.
Namun, ada sebuah kenyataan yang sangat mengherankan. Sesuatu yang seharusnya menjadi jalan bagi manusia untuk mengenal Allah justru dapat berubah menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah. Inilah salah satu rahasia besar dalam perjalanan spiritual seorang hamba.
Allah Swt. menciptakan alam semesta bukan untuk menjauhkan manusia dari-Nya, melainkan agar manusia dapat mengenal kebesaran, keagungan, dan kekuasaan-Nya melalui tanda-tanda ciptaan-Nya. Akan tetapi, ketika pandangan manusia hanya berhenti pada keindahan ciptaan dan tidak mampu menembus kepada Sang Pencipta, maka alam semesta yang seharusnya menjadi petunjuk justru berubah menjadi hijab.
Seseorang melihat gunung, tetapi tidak menyaksikan kebesaran Allah di balik penciptaannya. Ia melihat lautan, tetapi tidak merenungkan kekuasaan Allah yang mengaturnya. Ia menikmati matahari, hujan, udara, dan kehidupan, tetapi lupa kepada Zat yang telah menganugerahkan semuanya. Matanya melihat alam, tetapi mata hatinya tidak mampu mengenal Allah.
Di sinilah letak hijab yang sesungguhnya. Bukan karena Allah jauh dari manusia, melainkan karena hati manusia terlalu sibuk dengan makhluk sehingga lupa kepada Sang Khalik. Betapa banyak manusia yang mampu mengagumi keindahan dunia, tetapi tidak mampu mengagumi keagungan Allah yang menciptakannya. Betapa banyak orang yang menikmati pemberian-Nya, tetapi lupa bersyukur kepada Zat yang telah memberikan nikmat tersebut.
Ungkapan Ibnu Athaillah dalam hikmah ini mengandung makna yang sangat mendalam. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan dan keberadaan secara mandiri justru mampu menjadi penghalang bagi manusia untuk mengenal Allah? Alam semesta pada hakikatnya adalah makhluk yang senantiasa bergantung kepada Allah. Ia tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, tidak mampu mempertahankan keberadaannya sendiri, dan tidak mempunyai kekuatan untuk mengatur kehidupannya tanpa izin Allah Swt.
Namun, manusia sering kali terpesona oleh makhluk hingga melupakan Sang Pencipta. Ia menganggap harta sebagai sumber kebahagiaan, jabatan sebagai sumber kemuliaan, manusia sebagai tempat bergantung, dan dunia sebagai tujuan akhir kehidupannya. Padahal, semua itu hanyalah sarana dan titipan Allah. Harta bisa habis, jabatan bisa hilang, manusia yang dicintai bisa pergi, dan kehidupan dunia pada akhirnya akan berakhir. Tidak ada satu pun yang benar-benar dapat dijadikan tempat bergantung secara mutlak selain Allah Swt.
Ketika hati terlalu bergantung kepada sesuatu yang fana, manusia akan mudah gelisah ketika sesuatu itu hilang. Ia takut kehilangan kekayaan, takut kehilangan kedudukan, takut ditinggalkan manusia, bahkan terkadang rela mengorbankan prinsip agama demi mempertahankan kesenangan dunia. Inilah keadaan hati yang sedang terhijab. Sesungguhnya, bukan dunia yang menjadi masalah, melainkan ketika dunia telah menguasai hati. Bukan harta yang menjauhkan manusia dari Allah, melainkan ketika kecintaan terhadap harta mengalahkan kecintaan kepada-Nya. Seorang hamba boleh memiliki dunia, tetapi jangan sampai dunia memiliki hatinya. Ia boleh bekerja, berusaha, mencari kekayaan, membangun keluarga, dan meraih kedudukan, tetapi semua itu hendaknya menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah, bukan justru membuatnya semakin jauh dari-Nya.
Apabila manusia menggunakan mata hatinya, sesungguhnya seluruh alam semesta merupakan tanda-tanda yang mengantarkannya untuk mengenal Allah Swt. Perhatikanlah gunung-gunung yang berdiri kokoh. Di sana terdapat pelajaran tentang keagungan dan kekuasaan Allah. Perhatikanlah angin yang berembus tanpa dapat dilihat oleh mata, tetapi keberadaannya dapat dirasakan. Perhatikanlah pergantian siang dan malam yang berlangsung secara teratur. Perhatikanlah air laut yang bergelombang, hujan yang turun dari langit, tumbuh-tumbuhan yang berkembang, serta kehidupan manusia yang berjalan dengan segala ketentuan-Nya.
Semuanya menunjukkan bahwa alam semesta tidak berjalan tanpa pengaturan. Ada kekuasaan Allah yang meliputi seluruh kehidupan dan tidak pernah terlepas dari pengawasan-Nya. Allah Swt. berfirman:
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 20–21).
Ayat ini mengingatkan bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah tidak hanya terbentang di alam semesta, tetapi juga terdapat dalam diri manusia sendiri.
Cobalah renungkan bagaimana jantung terus berdetak tanpa harus kita perintahkan. Bagaimana mata dapat melihat, telinga dapat mendengar, akal dapat berpikir, dan tubuh dapat menjalankan berbagai fungsi kehidupan. Semua itu merupakan karunia Allah yang sering kali luput dari perhatian manusia. Orang yang memiliki kejernihan hati tidak hanya melihat alam sebagai kumpulan benda, tetapi mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Ketika melihat hujan, ia mengingat rahmat Allah. Ketika melihat matahari terbit, ia merenungkan kemurahan-Nya. Ketika menyaksikan kematian, ia mengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Baginya, alam semesta bukan sekadar tempat menikmati kehidupan, melainkan hamparan tanda yang mengajarkan tentang kebesaran Allah. Seseorang yang tidak dapat melihat dengan mata jasmaninya mungkin kehilangan kemampuan untuk menyaksikan keindahan dunia. Namun, seseorang yang kehilangan penglihatan mata hatinya menghadapi keadaan yang jauh lebih berbahaya, karena ia tidak mampu menangkap hikmah di balik kehidupan. Ia melihat nikmat, tetapi tidak mengenal Pemberi nikmat. Ia mengalami kesulitan, tetapi tidak mampu mengambil pelajaran dari ketentuan Allah. Ia menyaksikan kematian, tetapi tidak mempersiapkan kehidupan akhirat. Ia mendengar nasihat agama, tetapi hatinya tidak tersentuh untuk memperbaiki diri.
Allah Swt. berfirman:
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46).
Ayat ini mengajarkan bahwa persoalan terbesar manusia bukan terletak pada ketidakmampuannya melihat dunia, melainkan pada ketidakmampuannya mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya.
Hati yang hidup akan selalu menghubungkan setiap kejadian dengan Allah. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika mendapatkan ujian, ia bersabar. Ketika melakukan kesalahan, ia segera bertobat. Ketika melihat kebesaran alam, ia semakin tunduk dan merasa kecil di hadapan Allah. Sebaliknya, hati yang terhijab akan semakin jauh dari Allah meskipun setiap hari berada di tengah-tengah tanda kebesaran-Nya.
Hikmah ini mengajarkan bahwa seorang salik, yaitu orang yang menempuh perjalanan menuju Allah, hendaknya tidak berhenti pada apa yang tampak oleh mata, tetapi berusaha memahami makna yang tersembunyi di balik setiap ciptaan. Ketika melihat kekayaan, jangan hanya melihat jumlah harta, tetapi ingatlah Allah yang memberikan rezeki. Ketika memperoleh kedudukan, jangan hanya merasakan kebanggaan, tetapi ingatlah bahwa jabatan merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Ketika mendapatkan penghormatan manusia, jangan sampai tumbuh kesombongan, tetapi sadarilah bahwa kemuliaan sejati berasal dari Allah.
Demikian pula ketika menghadapi kehilangan, jangan sampai hati hancur seolah-olah seluruh kehidupan telah berakhir. Sebab, sesuatu yang hilang dari tangan kita tidak berarti Allah telah meninggalkan kita. Bahkan, terkadang Allah mengambil sesuatu yang kita cintai agar hati kita kembali mengingat-Nya. Ada kalanya kesenangan membuat manusia lalai, sementara kesulitan justru membangunkannya dari tidur panjang kelalaian.
Oleh karena itu, jangan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Jadikanlah dunia sebagai ladang untuk beramal, tempat menebarkan kebaikan, dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebab, orang yang benar-benar mengenal Allah bukanlah orang yang harus meninggalkan seluruh urusan dunia, melainkan orang yang mampu menjalani kehidupan dunia tanpa kehilangan hubungan hatinya dengan Allah.
Ada sebuah pelajaran yang sangat menyentuh dari hikmah ini: manusia sering kali terlalu dekat dengan dunia, tetapi merasa jauh dari Allah. Padahal, seluruh kehidupan yang ia nikmati tidak pernah lepas dari kekuasaan dan pemeliharaan-Nya. Kita tidur dengan aman karena Allah masih memberikan penjagaan. Kita bangun pada pagi hari karena Allah masih memberikan kesempatan hidup. Kita menghirup udara, menikmati makanan, bertemu keluarga, dan menjalankan aktivitas karena begitu banyak nikmat Allah yang terus mengalir tanpa kita sadari. Namun, sering kali kita baru mengingat Allah ketika sedang kesulitan. Ketika sakit, kita berdo’a dengan sungguh-sungguh. Ketika kehilangan, kita menangis memohon pertolongan-Nya. Ketika berada dalam kesempitan, kita merasa sangat membutuhkan-Nya. Tetapi ketika sehat, lapang, kaya, dan bahagia, kita justru sering melupakan-Nya. Bukankah ini merupakan keadaan yang patut kita renungkan?
Jangan sampai nikmat yang diberikan Allah justru menjadi sebab kelalaian kita. Jangan sampai kesibukan mencari rezeki membuat kita meninggalkan shalat. Jangan sampai kecintaan kepada keluarga membuat kita melupakan kewajiban kepada Allah. Jangan sampai keberhasilan dunia membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan pertolongan-Nya.
Ingatlah, segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan. Tidak ada yang benar-benar menjadi milik kita secara mutlak. Bahkan, kehidupan dan diri kita sendiri merupakan amanah dari Allah yang suatu saat akan kembali kepada-Nya. Maka, bersihkanlah hati dari ketergantungan yang berlebihan kepada makhluk. Gunakanlah mata untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, gunakanlah akal untuk merenungkan ciptaan-Nya, dan gunakanlah hati untuk mengingat serta mencintai-Nya. Jangan biarkan dunia memenuhi seluruh ruang hatimu, sehingga tidak tersisa tempat untuk mengingat Allah.
Pada akhirnya, Syah Ibnu Athaillah mengajak kita untuk menyadari bahwa hijab terbesar bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan kita, melainkan sesuatu yang justru sangat dekat dengan diri kita sendiri. Harta, jabatan, keluarga, pekerjaan, kesenangan, bahkan amal ibadah sekalipun dapat menjadi hijab apabila hati lebih bergantung kepada semua itu daripada kepada Allah Swt.
Oleh sebab itu, jangan hanya sibuk memperindah kehidupan lahiriah, tetapi lupakan keindahan hati. Jangan hanya berusaha memperbanyak harta, tetapi lupa memperkaya jiwa dengan zikir dan ketakwaan. Jangan hanya mengejar pengakuan manusia, tetapi lupa mencari keridaan Allah. Sebab, sehebat apa pun seseorang menikmati dunia, semuanya tidak akan memberikan ketenteraman sejati apabila hatinya jauh dari Allah.
Jangan sampai mata kita begitu kagum melihat keindahan alam, tetapi hati kita lupa kepada Allah yang menciptakan keindahan itu. Jangan sampai tangan kita sibuk menggenggam dunia, tetapi hati kita kehilangan tempat bergantung yang sesungguhnya. Dan jangan sampai kita menghabiskan seluruh umur untuk mencari sesuatu yang fana, sementara kita melupakan Zat Yang Maha Kekal.
Pada saat itulah kita perlu kembali merenungkan diri: apakah dunia yang kita miliki semakin mendekatkan kita kepada Allah, atau justru semakin menjauhkan kita dari-Nya? Karena sesungguhnya, keberhasilan seorang hamba bukanlah ketika ia berhasil menguasai dunia, melainkan ketika ia mampu menjadikan dunia sebagai jalan untuk semakin mengenal, mencintai, dan mengabdi kepada Allah Swt.
Semoga Allah menjadikan alam semesta sebagai jalan bagi kita untuk mengenal kebesaran-Nya, bukan sebagai hijab yang melalaikan kita dari mengingat-Nya. Semoga Allah membersihkan hati kita dari ketergantungan kepada selain-Nya dan menjadikan setiap nikmat sebagai sebab bertambahnya rasa syukur, setiap ujian sebagai jalan mendekat kepada-Nya, serta setiap tarikan napas sebagai kesempatan untuk memperbaiki pengabdian kepada-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.





Comment