اَلْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ وَإِنَّمَا أَنَارَهُ ظُهُوْرُ الْحَقِّ فِيْهِ. فَمَنْ رَأَى الْكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فِيْهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجُوْدُ الْأَنْوَارِ. وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُمُوْسُ الْمَعَارِفِ بِسُحُبِ الْآثَارِ
“Alam ini serba gelap, ia menjadi terang hanyalah karena manifestasi (zhahir) Allah di dalamnya. Siapa melihat alam, namun tidak menyaksikan Allah di dalam atau bersamanya, sebelum atau sesudahnya, maka ia sangat memerlukan cahaya, dan surya makrifat terhalang baginya oleh awan benda-benda alam.”
Hikmah Ibnu Athaillah as-Sakandari ini mengajarkan bahwa seluruh alam semesta pada hakikatnya tidak memiliki cahaya dan kekuatan secara mandiri. Segala sesuatu yang ada di alam ini, baik langit, bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, lautan, tumbuhan, hewan, maupun manusia, semuanya merupakan makhluk ciptaan Allah Swt. Keberadaan mereka bergantung sepenuhnya kepada kehendak, kekuasaan, dan pemeliharaan-Nya.
Allah Swt. adalah sumber segala keberadaan, kehidupan, kekuatan, dan cahaya. Tidak ada satu pun makhluk yang mampu berdiri sendiri tanpa pertolongan-Nya. Jika Allah tidak menghendaki sesuatu untuk ada, maka sesuatu itu tidak akan pernah terwujud. Jika Allah tidak memelihara kehidupan, maka seluruh makhluk akan kehilangan daya hidupnya.
Oleh karena itu, ungkapan bahwa alam semesta adalah kegelapan bukan berarti alam ini tidak memiliki cahaya secara fisik. Maksudnya adalah bahwa alam semesta tidak mempunyai cahaya keberadaan dan kekuasaan secara mandiri. Segala sesuatu menjadi ada karena Allah yang mengadakannya, menjadi hidup karena Allah yang menghidupkannya, dan berjalan sesuai ketentuan-Nya.
Seorang hamba yang hanya memandang keindahan alam tanpa mengingat Sang Pencipta akan berhenti pada keindahan makhluk. Ia melihat matahari, tetapi tidak mengingat Dzat yang menciptakan matahari. Ia menikmati rezeki, tetapi melupakan Dzat yang memberikan rezeki. Ia mengagumi kekayaan, tetapi tidak menyadari bahwa semua kekayaan itu hanyalah titipan Allah Swt.
Sebaliknya, orang yang hatinya telah diterangi cahaya keimanan akan menjadikan setiap peristiwa sebagai jalan untuk mengenal Allah. Ketika melihat matahari terbit, ia menyadari kebesaran Sang Pencipta. Ketika memperoleh rezeki, ia merasakan kemurahan Allah. Ketika mengalami kesulitan, ia menyadari bahwa tidak ada tempat bergantung selain kepada-Nya. Dengan demikian, alam semesta bukanlah tujuan akhir perjalanan seorang hamba, melainkan tanda-tanda yang mengantarkannya untuk mengenal Allah Swt.
Bagaimana mungkin hati akan memperoleh cahaya Allah Swt. apabila masih dipenuhi ketergantungan yang berlebihan kepada makhluk? Bagaimana mungkin dapat merasakan kedekatan dengan Allah apabila seluruh perhatian, kecintaan, dan harapan hanya tertuju kepada kehidupan dunia?
Persoalannya bukan terletak pada keberadaan harta, jabatan, keluarga, pekerjaan, ataupun kenikmatan dunia lainnya. Semua itu pada dasarnya merupakan karunia Allah yang boleh dinikmati dan disyukuri. Namun, yang harus diwaspadai adalah ketika semua kenikmatan tersebut menguasai hati sehingga manusia melupakan Allah, mengabaikan kewajiban, dan menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupannya.
Seseorang mungkin rajin melaksanakan shalat, tetapi niatnya hanya untuk memperoleh pujian manusia. Ia bersedekah, tetapi berharap mendapatkan balasan materi, penghormatan, atau popularitas. Ia menunaikan ibadah haji, tetapi lebih menginginkan gelar dan kedudukan sosial daripada keridaan Allah. Bahkan, seseorang bisa saja terlihat sangat saleh di hadapan manusia, sementara hatinya masih dipenuhi keinginan untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan.
Inilah salah satu bentuk hijab yang sangat halus dalam perjalanan spiritual. Secara lahiriah seseorang terlihat sedang beribadah kepada Allah, tetapi secara batin ia masih mengharapkan penilaian dan penghargaan dari makhluk.
Oleh karena itu, luruskanlah niat sebelum melakukan setiap amal. Jadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam beribadah. Jangan sampai amal yang seharusnya menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah justru berubah menjadi sarana untuk mencari kemuliaan di hadapan manusia.
Apabila hati telah ikhlas, seseorang tidak lagi menjadikan pujian sebagai tujuan, tidak pula menjadikan celaan sebagai penghalang untuk berbuat kebaikan. Ia tetap beramal ketika dipuji maupun ketika tidak diperhatikan. Sebab, yang menjadi ukuran baginya bukanlah penilaian manusia, melainkan keridaan Allah Swt.
Perlu dipahami bahwa ikhlas bukan berarti seseorang harus meninggalkan dunia dan segala urusan kehidupannya. Ikhlas adalah menempatkan dunia di tangan, bukan di dalam hati. Harta boleh dimiliki, tetapi jangan sampai menjadi penguasa hati. Jabatan boleh diemban, tetapi jangan sampai menjadikan seseorang sombong. Keluarga boleh dicintai, tetapi jangan sampai kecintaan itu melalaikan kewajiban kepada Allah.
Di dalam hati seorang hamba, jangan sampai kecintaan kepada dunia mengalahkan kecintaannya kepada Allah Swt. Hati harus memiliki orientasi yang jelas, yaitu menjadikan Allah sebagai tujuan tertinggi dalam seluruh perjalanan kehidupan.
Ketika seseorang mencintai harta secara berlebihan, ia akan selalu merasa takut kehilangan. Ketika seseorang menggantungkan kebahagiaan kepada jabatan, ia akan gelisah ketika kedudukannya terancam. Ketika seseorang menjadikan pujian manusia sebagai sumber kebahagiaan, ia akan kecewa ketika tidak mendapatkan penghargaan. Semua itu menunjukkan bahwa hatinya sedang terikat kepada sesuatu yang bersifat sementara.
Padahal, segala sesuatu yang ada di dunia ini akan mengalami perubahan dan kehancuran. Harta dapat habis, jabatan dapat berakhir, kecantikan akan memudar, kekuatan akan melemah, dan manusia pada akhirnya akan meninggalkan kehidupan dunia. Lantas, mengapa hati harus menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang tidak kekal?
Bagaimana mungkin seseorang dapat merasakan manisnya mencintai Allah apabila hatinya selalu disibukkan oleh keinginan-keinginan duniawi? Ketika tidak memiliki uang, ia meninggalkan ibadah karena sibuk mencari kekayaan. Ketika memperoleh kekayaan, ia justru semakin lalai karena terlalu sibuk menikmati hasil usahanya. Ketika menghadapi kesulitan, ia lupa berdoa dan bersabar. Ketika mendapatkan kesenangan, ia lupa bersyukur. Keadaan semacam ini menunjukkan bahwa dunia telah menguasai hatinya.
Sesungguhnya, seorang mukmin tidak dilarang mencari kekayaan, membangun usaha, bekerja, memiliki kedudukan, ataupun menikmati kehidupan yang baik. Akan tetapi, semua itu harus berada dalam kendali iman dan ketakwaan. Jangan sampai kesibukan dunia membuat seseorang meninggalkan shalat, mengabaikan tanggung jawab, mengambil hak orang lain, atau melupakan kewajiban kepada Allah.
Jadikanlah dunia sebagai sarana untuk beribadah, bukan sebagai tujuan yang membuat jauh dari Allah. Gunakan harta untuk bersedekah, gunakan jabatan untuk menegakkan keadilan, gunakan ilmu untuk memberikan manfaat, dan gunakan kesempatan hidup untuk memperbanyak amal saleh. Dengan demikian, dunia tidak lagi menjadi hijab yang menghalangi perjalanan menuju Allah, tetapi menjadi jalan untuk memperoleh keridaan-Nya.
Apabila ingin berjalan menuju Allah Swt., lepaskanlah belenggu syahwat yang selama ini menguasai hati. Jangan biarkan keinginan-keinginan yang tidak terkendali menjauhkan dari ketaatan kepada-Nya.
Syahwat tidak hanya berkaitan dengan keinginan terhadap makanan, minuman, harta, dan kenikmatan jasmani. Syahwat juga dapat berbentuk keinginan untuk dipuji, dihormati, disanjung, dimuliakan, dan dianggap lebih baik daripada orang lain.
Bahkan, keinginan untuk selalu menang dalam perdebatan, merasa paling benar, merendahkan orang lain, dan mendapatkan pengakuan merupakan bentuk penyakit hati yang dapat menghalangi seseorang dari kejernihan spiritual.
Belenggu syahwat ibarat benalu yang perlahan-lahan menempel dan menguasai kehidupan seseorang. Pada awalnya terlihat kecil dan mudah dikendalikan. Namun, apabila terus dibiarkan, ia akan tumbuh semakin kuat hingga seseorang kehilangan kemampuan untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Orang yang terbiasa mengikuti hawa nafsu akan merasa berat ketika diperintahkan untuk beribadah. Ia lebih memilih kenyamanan daripada ketaatan, lebih menyukai kesenangan daripada kesabaran, dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada menjalankan perintah Allah.
Karena itu, seorang hamba harus senantiasa melakukan mujahadah, yaitu bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Ia harus belajar mengendalikan keinginan, menjaga pandangan, memelihara lisan, menghindari perbuatan maksiat, dan membiasakan diri melakukan kebaikan.
Jangan menunggu sampai seluruh keinginan duniawi hilang untuk mulai beribadah. Justru melalui ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, seseorang akan belajar mengendalikan hawa nafsunya.
Ingatlah, tujuan perjalanan spiritual bukanlah menghilangkan seluruh kebutuhan manusiawi, melainkan menundukkan segala keinginan agar tetap berada di bawah tuntunan syariat Allah Swt.
Bagaimana mungkin seseorang berharap memperoleh kedekatan dengan Allah apabila kewajiban-kewajiban yang telah diperintahkan-Nya masih sering diabaikan?
Bagaimana mungkin ia mengharapkan kemuliaan di akhirat apabila kehidupan dunianya dipenuhi kelalaian dan kemaksiatan?
Kedekatan kepada Allah tidak cukup hanya dibicarakan, direnungkan, ataupun diungkapkan melalui kata-kata. Kedekatan itu harus dibuktikan melalui ketaatan dan kesungguhan dalam menjalankan perintah-Nya.
Ketika waktu shalat tiba, segeralah menunaikannya. Jangan biarkan pekerjaan, perdagangan, pertemuan, ataupun kesibukan lainnya membuat tersebut menunda kewajiban kepada Allah tanpa alasan yang dibenarkan.
Ketika telah memenuhi syarat untuk mengeluarkan zakat, tunaikanlah hak orang-orang yang berhak menerimanya. Jangan biarkan kecintaan kepada harta membuat enggan mengeluarkan sebagian rezeki yang telah Allah titipkan.
Ketika telah memiliki kemampuan untuk menunaikan ibadah haji, tunaikanlah kewajiban tersebut sesuai ketentuan syariat dan kesempatan yang tersedia. Jangan menunda-nunda tanpa alasan yang jelas.
Demikian pula dengan kewajiban lainnya. Seorang hamba harus berusaha menjadikan seluruh kehidupannya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Swt.
Ibadah bukan sekadar aktivitas ritual yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Bekerja dengan jujur, mencari nafkah yang halal, menjaga amanah, membantu sesama, mendidik keluarga, dan memberikan manfaat kepada masyarakat juga dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar serta sesuai tuntunan syariat.
Oleh sebab itu, jangan memisahkan kehidupan dunia dari pengabdian kepada Allah. Jadikan setiap aktivitas sebagai kesempatan untuk memperbanyak kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Bagaimana mungkin hati dapat menerima cahaya makrifat apabila masih terus-menerus dilumuri dosa dan kemaksiatan? Bagaimana mungkin hati menjadi bening apabila setiap hari dibiarkan terkontaminasi oleh perbuatan yang dimurkai Allah?
Hati manusia pada dasarnya memiliki potensi untuk menerima cahaya keimanan. Namun, dosa dan kemaksiatan yang dilakukan secara terus-menerus dapat mengeraskan hati, melemahkan kepekaan batin, serta menjauhkan seseorang dari kesadaran untuk mengingat Allah.
Pada mulanya, ketika seseorang melakukan kesalahan, hatinya mungkin masih merasa gelisah dan menyesal. Akan tetapi, apabila kesalahan itu terus diulangi tanpa disertai penyesalan dan usaha memperbaiki diri, lama-kelamaan hati dapat kehilangan kepekaannya.
Ia tidak lagi merasa bersalah ketika meninggalkan shalat, tidak merasa malu ketika berbuat maksiat, tidak merasa takut ketika mengambil hak orang lain, dan tidak merasa berdosa ketika menyakiti sesama manusia.
Inilah keadaan yang sangat berbahaya bagi kehidupan spiritual seorang hamba. Bukan karena Allah menutup pintu ampunan-Nya, melainkan karena manusia membiarkan dirinya semakin jauh dari jalan pertobatan.
Oleh karena itu, apabila ingin memperoleh kejernihan hati, segeralah kembali kepada Allah melalui taubat nasuha.
Taubat nasuha bukan sekadar mengucapkan istigfar dengan lisan, melainkan kesungguhan hati untuk meninggalkan dosa, menyesali perbuatan yang telah dilakukan, dan bertekad tidak mengulanginya kembali.
Apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka taubat juga harus disertai dengan mengembalikan hak kepada pemiliknya atau meminta maaf dan menyelesaikan kewajiban yang belum ditunaikan.
Jangan menjadikan taubat sebagai sesuatu yang hanya dilakukan ketika sedang mengalami kesulitan. Jangan pula merasa bahwa sudah terlalu banyak melakukan dosa sehingga tidak pantas mendapatkan ampunan Allah.
Sebesar apa pun dosa seorang hamba, rahmat dan ampunan Allah jauh lebih luas. Selama seseorang masih diberikan kesempatan hidup, pintu taubat tetap terbuka.
Apabila suatu saat kembali tergelincir dalam kesalahan setelah bertaubat, jangan berputus asa. Segeralah bertaubat kembali dengan sungguh-sungguh. Taubat yang benar harus disertai tekad untuk memperbaiki diri, bukan sengaja menjadikan dosa sebagai kebiasaan.
Ingatlah, hati yang bersih bukanlah hati yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan hati yang senantiasa berusaha kembali kepada Allah setiap kali terjatuh dalam kesalahan.
Ungkapan Ibnu Athaillah tentang شُمُوْسُ الْمَعَارِفِ (matahari-matahari makrifat) mengandung makna yang sangat mendalam. Makrifat merupakan pengenalan hati kepada Allah yang tumbuh melalui keimanan, ilmu, ibadah, penyucian jiwa, dan pertolongan-Nya.
Adapun سُحُبُ الْآثَارِ (awan-awan fenomena alam) menggambarkan keadaan ketika seseorang terlalu sibuk memperhatikan makhluk sehingga lupa kepada Sang Pencipta.
Ia melihat kekayaan, tetapi tidak melihat kewajiban bersyukur. Ia melihat keberhasilan, tetapi tidak menyadari pertolongan Allah. Ia melihat kekuatan manusia, tetapi lupa bahwa seluruh kekuatan berasal dari Allah. Ia melihat berbagai peristiwa kehidupan, tetapi tidak mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran-Nya.
Akibatnya, pandangan batinnya tertutup oleh kesibukan dunia.
Sebaliknya, orang yang memperoleh cahaya makrifat akan memandang segala sesuatu dengan kesadaran tauhid. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur. Ketika kehilangan sesuatu, ia bersabar. Ketika berhasil, ia tidak sombong. Ketika gagal, ia tidak berputus asa. Ketika dipuji, ia tidak terlena. Ketika dicela, ia tidak kehilangan arah.
Ia memahami bahwa segala sesuatu terjadi dalam ilmu dan ketentuan Allah, tanpa menghilangkan tanggung jawab manusia untuk berusaha, memilih, dan menjalankan kewajibannya.
Makrifat tidak menjadikan seseorang meninggalkan kehidupan masyarakat. Justru semakin dalam pengenalannya kepada Allah, semakin baik pula akhlaknya kepada sesama manusia. Ia semakin rendah hati, semakin jujur, semakin amanah, semakin penyayang, dan semakin berhati-hati dalam setiap tindakan.
Sebab, orang yang benar-benar mengenal Allah akan menyadari bahwa seluruh kehidupannya berada dalam pengawasan-Nya.
Dari hikmah Ibnu Athaillah as-Sakandari tersebut, terdapat beberapa pelajaran penting yang harus direnungkan oleh setiap orang yang ingin menempuh perjalanan menuju Allah Swt.
1. Jangan berhenti pada keindahan makhluk. Pandanglah alam semesta sebagai tanda kebesaran Allah, bukan sebagai tujuan akhir kehidupan.
2. Bersihkan niat dalam setiap ibadah. Jangan menjadikan shalat, sedekah, haji, dan amal saleh sebagai sarana mencari pujian atau penghormatan manusia.
3. Jangan menjadikan dunia sebagai penguasa hati. Milikilah harta, jabatan, dan kedudukan dengan cara yang halal, tetapi jangan sampai semuanya menjauhkan Anda dari Allah.
4. Kendalikan hawa nafsu. Jangan biarkan keinginan duniawi mengalahkan kewajiban agama dan tanggung jawab sebagai seorang hamba.
5. Tegakkan kewajiban sebelum mengejar amalan tambahan. Jagalah shalat, tunaikan zakat, laksanakan haji ketika telah memenuhi syarat, dan penuhi seluruh kewajiban agama.
6. Perbanyak taubat dan istigfar. Jangan membiarkan dosa menumpuk hingga hati kehilangan kepekaan terhadap kebenaran.
7. Jadikan kehidupan sebagai jalan menuju Allah. Bekerjalah, berkeluarga, bermasyarakat, dan berbuat baik dengan niat ibadah serta tetap berpegang pada tuntunan syariat.
Wahai hamba Allah, renungkanlah kehidupan yang selama ini dijalani. Setiap hari melihat matahari terbit dan tenggelam, menyaksikan pergantian siang dan malam, menikmati rezeki, merasakan kesehatan, serta memperoleh berbagai kenikmatan yang tidak terhitung jumlahnya. Namun, pernahkah benar-benar menghadirkan kesadaran bahwa semua itu merupakan tanda kebesaran dan kasih sayang Allah Swt.?
Jangan sampai mata hanya melihat dunia, sementara hati lupa kepada Penciptanya. Jangan sampai tangan sibuk mengumpulkan kekayaan, tetapi hati miskin dari rasa syukur. Jangan sampai lisan fasih berbicara tentang Agama, tetapi perilaku jauh dari tuntunan-Nya. Jangan sampai rajin beribadah di hadapan manusia, tetapi melupakan keikhlasan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Ketahuilah, sebesar apa pun kekayaan yang dimiliki, semuanya tidak akan mampu menggantikan ketenangan hati yang dekat dengan Allah. Setinggi apa pun jabatan yang raih, semuanya tidak akan menjamin kemuliaan di sisi-Nya. Sebanyak apa pun pujian yang terima, semuanya tidak akan memberikan manfaat apabila hati Anda jauh dari keikhlasan.
Karena itu, jangan biarkan dunia memenuhi seluruh ruang hati. Bersihkan hati dengan taubat, hidupkan dengan zikir, terangi dengan Al-Qur’an, kuatkan dengan ibadah, dan hiasi dengan akhlak yang mulia.
Jadikan Allah sebagai tujuan dalam setiap langkah kehidupan. Ketika melihat alam, ingatlah Penciptanya. Ketika memperoleh nikmat, ingatlah pemberinya. Ketika menghadapi ujian, ingatlah bahwa pertolongan-Nya senantiasa menjadi tempat berharap. Ketika melakukan kesalahan, segeralah kembali kepada-Nya.
Sebab, hakikat perjalanan seorang hamba bukanlah sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bukan pula sekadar mengumpulkan berbagai kenikmatan dunia, melainkan perjalanan membersihkan hati agar semakin mengenal, mencintai, dan mengabdi kepada Allah Swt.
Jangan sampai kesibukan melihat makhluk membuat lupa kepada Sang Pencipta. Jangan sampai keindahan dunia menjadi hijab yang menghalangi cahaya iman. Dan jangan sampai umur yang diberikan Allah habis untuk mengejar dunia, sementara bekal untuk menghadap kepada-Nya belum dipersiapkan.
Semoga Allah Swt. membersihkan hati kita dari segala penyakit, menerangi jiwa kita dengan cahaya iman dan makrifat, mengaruniakan keikhlasan dalam setiap amal, serta menjadikan seluruh perjalanan hidup kita sebagai jalan untuk memperoleh keridaan-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.





Comment