لَمْحَةٌ مِنَ النَّصِيحَةِ, اِسْتِكْشَافُ بَوَاعِثِ الدَّعْوَةِ مِنْ بِسَاطِ الْفَضْلِ الْإِلَهِيِّ
Kajian Hikmah dari kitab Al-Hikam karya Syaikh Ahmad Ibnu Atha’illah As-Sakandari mengenai motivasi seseorang dalam menyampaikan nasihat:
مَنْ عَبَّرَ مِنْ بِسَاطِ إِحْسَانِهِ أَصْمَتَتْهُ الْإِسَاءَةُ، وَمَنْ عَبَّرَ مِنْ بِسَاطِ إِحْسَانِ اللَّهِ إِلَيْهِ لَمْ يُصْمَتْ إِذا أَسَاءَ.
“Siapa yang memberi nasihat karena merasa dirinya baik, maka ia akan terdiam oleh kesalahan yang ia lakukan. Sedang siapa yang memberi nasihat karena memandang (ucapannya) itu sebagai kebaikan dari Allah bagi dirinya, maka ia tidak akan terdiam meski melakukan kesalahan.”
Bagian dari prinsip ketawadhuan ini sejalan dengan larangan Allah SWT untuk menganggap diri sendiri suci atau merasa paling berjasa dalam sebuah kebaikan:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Surah An-Najm: 32)
Menurut riwayat dari Ibnu Abbas RA mengenai ayat ini, turunnya ayat berkaitan dengan kebiasaan sebagian orang terdahulu yang memuji amal ibadah mereka dan merasa yakin bahwa mereka adalah ahli surga. Allah SWT menurunkan ayat ini sebagai pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang berhak merasa paling suci atau menyombongkan amalannya, karena hanya Allah SWT yang mengetahui tingkat ketakwaan yang sebenarnya di dalam hati seorang manusia.[1]
Hadis yang relevan mengenai kesadaran manusia sebagai tempat salah dan lupa:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertobat.'” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Hadis ini disampaikan oleh Rasulullah SAW untuk menegaskan bahwa sifat dasar manusia adalah tidak terlepas dari kesalahan. Hadis ini juga memberikan motivasi kepada para sahabat dan umatnya bahwa kesalahan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berbuat baik, selama diiringi dengan pertobatan yang tulus kepada Allah SWT.[2]
Hikmah ini membagi motivasi penyampaian kebaikan ke dalam dua landasan spiritual:
Seseorang yang mengajak pada kebaikan atau memberi nasihat karena melihat amalnya sendiri. Ia merasa dirinya sudah saleh dan bersih. Ketika ia tergelincir melakukan kesalahan, seketika ia akan merasa malu dan terdiam. Ia merasa suaranya tidak lagi memiliki legitimasi karena ia merasa dirinya tidak sempurna.
Seseorang yang mengajak pada kebaikan karena sadar bahwa ilmu dan petunjuk yang ia sampaikan adalah murni anugerah dari Allah SWT. Apabila ia melakukan kesalahan, ia tidak berhenti menasihati atau berbagi kebaikan. Ia sadar bahwa kebenaran itu milik Allah, dan ia sendiri adalah hamba yang membutuhkan petunjuk tersebut.
Syaikh Ahmad Ibnu Atha’illah As-Sakandari
Dalam penjelasannya, Syaikh Ibnu Atha’illah menekankan pentingnya membersihkan hati dari sifat ‘ujub (bangga pada diri sendiri). Seseorang yang berdakwah atau menasihati hendaknya memposisikan dirinya sebagai penerima nikmat Allah, bukan sebagai pemilik kebaikan itu sendiri. Dengan demikian, kekurangan atau dosa yang tidak sengaja dilakukan tidak menjadi penghalang untuk terus berbuat baik.[ 3]
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Abbad Ar-Rundi
Dalam kitab Ghaitsul Mawahib al-Aliyah, Ibnu ‘Abbad menjelaskan bahwa orang yang menyandarkan diri pada amalnya akan mudah putus asa jika melakukan kesalahan. Sebaliknya, orang yang menyandarkan perbuatannya pada anugerah dan pertolongan Allah (madad) akan selalu memiliki harapan dan dorongan untuk memperbaiki diri tanpa kehilangan semangat spiritual.[4]
Syaikh Ahmad Zarruq
Syaikh Zarruq menyatakan bahwa seorang mukmin harus selalu bersikap tawadhu. Menasihati orang lain bukanlah bukti bahwa kita sempurna, melainkan bentuk saling mengingatkan di antara hamba Allah yang sama-sama membutuhkan rahmat-Nya.[5]
Hikmah ini mengajarkan kita untuk menyingkirkan kesombongan spiritual dalam berdakwah atau memberi nasihat. Nasihat yang baik lahir dari kesadaran bahwa kita hanyalah perantara yang menerima kebaikan dari Allah SWT, bukan karena kita merasa lebih baik daripada orang lain.
Referensi
[1]: Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Ma’tsur (Beirut: Dar al-Fikr), Jilid 7, hlm. 650. [2]: Imam At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Kitab Sifat al-Qiyamah, Bab Fi al-Khatha’ wa at-Tawbah (Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1996), Juz 4, hlm. 660. [3]: Syaikh Ahmad Ibnu Atha’illah As-Sakandari, Al-Hikam, Hikmah ke-128 (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1995), hlm. 145-146. [4]: Ibnu ‘Abbad Ar-Rundi, Ghaitsul Mawahib al-Aliyah bi Syarh al-Hikam (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002), Jilid 2, hlm. 122-124. [5]: Syaikh Ahmad Zarruq, Syarh al-Hikam al-Atha’iyyah (Kairo: Dar al-Salam, 2008), hlm. 290.





Comment