تَجَاوُزُ الطُّفُولِيَّةِ الرُّوحِيَّةِ: النُّضْجُ العَاطِفِيُّ وَالتَّوْحِيدُ الحَقِيقِيُّ فِي مَنْظُورِ كِتَابِ الحِكَمِ
Mutiara Hikmah dari kitab Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Atha’illah as-Syakandari :
مَتَى كُنْتَ إِذَا أُعْطِيتَ بَسَطَكَ العَطَاءُ، وَإِذَا مُنِعْتَ قَبَضَكَ المَنْعُ، فَاسْتَدِلَّ بِذَلِكَ عَلَى ثُبُوتِ طُفُولِيَّتِكَ، وَعَدَمِ صِدْقِكَ فِي عُبُودِيَّتِكَ.
“Pada saat diberi sesuatu engkau bergembira, dan pada saat ditolak engkau kecewa. Yang demikian itu merupakan bukti dari sifat kekanak-kanakanmu, serta ketidak tulusan penghambaanmu.” [1]
Prinsip hikmah di atas bersandar pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Hadid (57) ayat 23:
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ
“(Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri..” [2]
Imam Al-Wahidi dan Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat ini turun sebagai respons terhadap psikologis manusia (khususnya kaum musyrikin dan sebagian kaum mukmin yang masih lemah imannya) yang hatinya sangat terguncang oleh fluktuasi duniawi menjadi sangat sombong dan kufur nikmat saat makmur, namun langsung putus asa dan menyalahkan Tuhan saat ditimpa paceklik atau kekalahan dalam perang. Ayat ini turun untuk mendidik jiwa orang beriman agar memiliki mentalitas yang stabil (steady state) di hadapan takdir Allah. [3]
Rasulullah SAW bersabda:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan oleh siapa pun kecuali bagi seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” [4]
Rasulullah SAW menyampaikan hadits ini di hadapan para sahabat ketika melihat realitas sosial masyarakat Madinah yang kerap berubah drastis situasinya antara kemenangan perang (ghanimah) dan kekalahan (seperti Perang Uhud), atau antara musim panen kurma dan musim paceklik. Rasulullah SAW ingin menanamkan paradigma baru bahwa tolok ukur kebaikan seorang mukmin bukanlah apa bentuk takdirnya (nikmat atau bala), melainkan bagaimana respons hatinya (syukur atau sabar) terhadap takdir tersebut. [5]
Syaikh Ibnu Ajibah (Ulama Thariqah Syadziliyah)
Dalam kitabnya Iqadz al-Himam fi Syarh al-Hikam, beliau menjelaskan: “Sifat kekanak-kanakan (طُفُولِيَّة) dalam maqam spiritual artinya hatimu masih disetir oleh syahwat nafsu. Anak kecil hanya senang jika diberi permen dan menangis histeris jika permen itu diambil, karena mereka belum paham esensi kasih sayang orang tua di balik pelarangan itu. Begitu pula hamba yang thufuliyyah; ia belum paham bahwa terkadang Allah menolak permintaannya justru karena Allah sedang menyelamatkannya.” [6]
Syaikh Al-Syarqawi (Ulama Sufi & Syaikhul Azhar)
Dalam Syarh al-Syarqawi ‘ala al-Hikam, beliau menegaskan: “Ketidakjujuran dalam penghambaan (‘ubudiyyah) terbukti ketika engkau menyembah Allah hanya demi mendapatkan pemberian-Nya. Jika diberi engkau rida, jika ditolak engkau murka. Ini menunjukkan engkau bukan menyembah Allah (Al-Ma’bud), melainkan menyembah pemberian-Nya (Al-Hazz/keuntungan nafsumu sendiri).” [7]
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani (Sufi Agung/Pendiri Thariqah Qadiriyah)
Dalam kitab Futuhul Ghaib, beliau senada menyatakan bahwa maqam tertinggi seorang hamba adalah ketika pemberian (athaa’) dan penolakan (man’u) dari Allah terasa sama saja di hatinya, karena yang ia lihat bukan takdirnya, melainkan Sang Penakdir (Al-Mu’thi wal Mani’). [8]
Novelty : “Orisinalitas pemikiran Ibnu Atha’illah dalam hikmah ini terletak pada rekonstruksi psikoterapi sufistik yang radikal, di mana beliau mendekonstruksi rasa kecewa atas doa yang ditolak yang lazimnya dianggap manusiawi menjadi sebuah “infantilisme spiritual” (sifat kekanak-kanakan) untuk memecut kedewasaan mental seorang hamba. Melalui konsep ini, beliau memperkenalkan teori Mani’ul ‘Atha bahwa penolakan Allah sejatinya adalah pemberian terbaik yang terselubung, sekaligus menyajikan indikator empiris yang sangat presisi untuk menguji ketulusan tauhid seseorang secara nyata saat menghadapi kegagalan total.
Referensi
[1] Syaikh Ibnu Atha’illah as-Syakandari, Kalam al-Hikam, (Kairo: Dar al-Ma’arif, t.th), hal. 45, Hikmah No. 97. [2] Al-Qur’an Al-Karim, Surah Al-Hadid [57]: 23. [3] Abu al-Hasan Al-Wahidi, Asbabun Nuzul, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2004), hal. 312; lihat juga Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, (Riyadh: Dar Thayyibah, 1999), Jilid 8, hal. 22-23. [4] Imam Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqaiq, Bab Al-Mu’min Amruhu Kulluhu Khair, (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, t.th), No. Hadits 2999, Jilid 4, hal. 2295. [5] Abu al-Fadhl Ibn Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Kairo: Dar al-Hadits, 2001), Jilid 10, hal. 114 (Penjelasan mengenai konsteks hadits-hadits kesabaran dan takdir). [6] Syaikh Ibnu Ajibah al-Hasani, Iqadz al-Himam fi Syarh al-Hikam, (Kairo: Al-Maktabah al-Taufiqiyyah, t.th), hal. 182-183. [7] Syaikh Abdullah al-Syarqawi, Syarh al-Syarqawi ‘ala al-Hikam, (Semarang: Toha Putra, t.th), hal. 74. [8] Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Futuhul Ghaib, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002), hal. 56.





Comment