It is Not the Eyes that Grow Blind, But the Hearts: Exploring the Essence of Spiritual Wealth with Ibn Ata’illah

لَيْسَتْ أَعْمَى الأَبْصَارِ وَلَكِنَّهَا القُلُوبُ: اِسْتِكْشَافُ حَقِيقَةِ غِنَى النَّفْسِ مَعَ ابْنِ عَطَاءِ اللهِ

Mutiara  Hikmah dari Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari :

العَجَبُ كُلُّ العَجَبِ مِمَّنْ يَهْرُبُ مِمَّنْ لَا انْفِكَاكَ لَهُ عَنْهُ، وَيَطْلُبُ مَا لَا بَقَاءَ لَهُ مَعَهُ. (فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ).

“Sangatlah mengherankan, orang yang lari dari Sesuatu yang ia tidak akan pernah bisa terlepas dari-Nya (Allah), dan ia justru mencari sesuatu yang tidak akan kekal bersamanya (dunia). ‘Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada’.”¹

Hikmah ini selaras dengan Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 46:

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

“Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.”

Imam As-Suyuthi dalam Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul² menjelaskan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ketika turun ayat di surah lain yang berbunyi: “Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta” (QS. Al-Isra: 72), Ibnu Ummi Maktum (seorang sahabat yang buta netra) merasa sangat sedih dan menghadap Rasulullah SAW sambil berkata: “Wahai Rasulullah, aku buta di dunia, apakah aku juga akan buta di akhirat?”

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat ke-46 dari Surah Al-Hajj ini sebagai penjelas dan penghibur. Ayat ini menegaskan bahwa kebutaan fisik di dunia tidak membahayakan akhirat seseorang, melainkan kebutaan hatilah (tutupnya mata batin dari kebenaran) yang menjadi kecelakaan hakiki.

Mengenai hal tersebut Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu atas banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (hati).”³ (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini disampaikan oleh Rasulullah SAW untuk merespons (menyembuhkan) penyakit mental kaum Quraisy dan manusia pada umumnya yang selalu mengukur kemuliaan, eksistensi, dan kebahagiaan hidup dari parameter materialisme (jumlah unta, kebun, dan dinar). Rasulullah SAW ingin membelokkan orientasi mereka bahwa mengejar materi yang fana adalah fatamorgana; ketenangan sejati ada pada hati yang merasa cukup (qana’ah) dengan Allah.

Syaikhul Islam Ibn Abbad ar-Rundhi (W. 792 H)

Dalam syarahnya yang monumental, Ghaits al-Mawahib al-Aliyyah bi Syarh al-Hikam al-Atha’iyyah⁴, beliau menjelaskan: “Sesuatu yang manusia tidak bisa lepas darinya adalah Allah SWT (melalui takdir-Nya, rezeki-Nya, dan pengawasan-Nya). Sungguh bodoh orang yang mencoba lari dari ibadah kepada Allah demi mencari dunia. Dunia pasti meninggalkannya, sedangkan Allah selalu bersamanya, baik ia suka maupun terpaksa.”

Syekh Ahmad Zarruq (W. 899 H)

Dalam kitab Syarh al-Zarruq ‘ala al-Hikam⁵, ulama thariqah Syadziliyah ini menyebutkan: “Ketahuilah, hilangnya penglihatan mata (lahir) adalah kekurangan duniawi, sedangkan hilangnya penglihatan hati (bashirah) adalah kerugian ukhrawi. Siapa yang mendepak Allah dari tujuan hidupnya demi mengumpulkan dunia, ia sedang berjalan dalam kegelapan total.”

Syekh Ahmad bin Ajiba (W. 1224 H)

Dalam kitab Iqadz al-Himam fi Syarh al-Hikam⁶, beliau menegaskan: “Orang yang berakal adalah yang mencari Sesuatu yang kekal bersamanya (yaitu keridaan Allah) dan meninggalkan apa yang akan berpisah dengannya (dunia). Kebutaan hati yang dimaksud di sini adalah tersumbatnya cahaya Ma’rifatullah akibat pekatnya kabut syahwat.”

Novelty : Hikmah menggeser sudut pandang zuhud tradisional menjadi kritik psiko-spiritual modern, di mana manusia abad ke-21 yang mengalami kecemasan eksistensial melakukan “pelarian paradoksikal” (escapism) dari Allah menuju pemuasan materi dan validasi digital, yang justru menjebak mereka dalam penjara kefanaan yang melelahkan mental. Selain itu, terjadi redefinisi “buta hati” di era informasi, yang kini tidak lagi sekadar ketidaktahuan teologis, melainkan ketidakmampuan spiritual dalam memfilter kebenaran di tengah tsunami informasi, sehingga manusia modern menjadi pecandu hal-hal fana yang viral namun gagal menangkap esensi hakiki kehidupan.

Referensi

¹ Al-Iskandari, Syekh Ibnu Atha’illah. Al-Hikam al-Atha’iyyah. Kairo: Dar al-Ma’arif, t.th., hal. 28. ² As-Suyuthi, Jalaluddin. Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, hal. 143. ³ Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, Bab al-Ghiná ghiná an-nafs, No. Hadis 6446; Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab az-Zakat, No. Hadis 1051. ⁴ Ar-Rundhi, Ibn Abbad. Ghaits al-Mawahib al-Aliyyah fi Syarh al-Hikam al-Atha’iyyah. Kairo: Musthafa al-Babi al-Halabi, 1939, Juz 1, hal. 82. ⁵ Az-Zarruq, Ahmad. Syarh al-Zarruq ‘ala al-Hikam. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2011, hal. 67. ⁶ Ibn Ajiba, Ahmad. Iqadz al-Himam fi Syarh al-Hikam. Kairo: Dar al-Ma’arif, hal. 112-113.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment