Existential Karama in Perseverance, The Secret of Divine Embrace Behind the Routine of Wirid

الْكَرَامَةُ الْوُجُودِيَّةُ فِي الِاسْتِقَامَةِ, أَسْرَارُ الِاحْتِضَانِ الْإِلٰهِيِّ فِي مَوَاظَبَةِ الْأَوْرَادِ

Salah satu mutiara hikmah dalam kitab Al-Hikam mengajarkan kita untuk tidak terjebak pada penilaian subjektif terhadap spiritualitas seseorang. Fokus utamanya adalah menghargai ketekunan (istiqomah) hamba dalam menjalankan amalan rutin (wirid) sebagai bentuk karunia Allah yang tersembunyi.

“إِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اللهُ تَعَالَى بِوُجُودِ الْأَوْرَادِ، وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الْإِمْدَادِ، فَلَا تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلَاهُ؛ لِأَنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيمَا الْعَارِفِينَ، وَلَا بَهْجَةَ الْمُحِبِّينَ، فَلَوْلَا وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ.”

“Apabila engkau melihat seorang hamba yang telah ditempatkan oleh Allah SWT. dalam ketekunan menjalankan wirid (amalan rutin), dan Allah membiarkannya terus istiqomah dalam waktu yang lama, maka janganlah sekali-kali engkau memandang rendah apa yang telah dianugerahkan Tuhannya kepadanya. Meskipun engkau belum melihat pada dirinya tanda-tanda khusus orang makrifat (simul ‘arifin) atau binar kebahagiaan para pencinta Tuhan (bahjatul muhibbin). Sebab ketahuilah, jika bukan karena adanya warid (anugerah batin dari Allah), niscaya hamba tersebut tidak akan pernah sanggup melakukan wirid.”¹

Dalam tradisi Islam, konsistensi dalam ibadah adalah fondasi utama. Wirid bukan sekadar rutinitas, melainkan tali penghubung antara hamba dan Khalik.

Allah SWT memuji mereka yang menjaga kontinuitas ibadahnya sebagai salah satu ciri penghuni surga:

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُدَاوِمُونَ

“Dan orang-orang yang mereka itu tetap setia (istiqomah/dawam) memelihara shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 23)

Ayat ini menegaskan bahwa nilai sebuah ibadah tidak hanya terletak pada kekhusyukannya yang sesekali, tetapi pada ketetapannya (da-imun) yang terus-menerus.

Kecintaan Allah berkaitan erat dengan kedisiplinan seorang hamba:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin (konsisten), meskipun jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim)²

Hadis ini disampaikan Rasulullah SAW sebagai bimbingan bagi para sahabat (seperti Abdullah bin Amr bin Ash) agar tidak memaksakan diri melakukan ibadah yang sangat berat di awal namun akhirnya berhenti di tengah jalan (futur). Beliau mengajarkan bahwa spiritualitas adalah maraton, bukan lari cepat.

Untuk memahami hikmah ini, kita harus membedakan antara “usaha” dan “karunia”:

Wirid (الْوِرْد): Segala bentuk amalan lahiriah yang dikerjakan secara rutin (seperti shalat sunnah, zikir, membaca Al-Qur’an, atau melayani sesama). Ini adalah bentuk pengabdian hamba kepada Allah.

Warid (الْوَارِد): Cahaya ketuhanan, ilham, atau ketenangan yang Allah “jatuhkan” ke dalam hati hamba. Ini murni pemberian Allah sebagai buah dari pembersihan hati melalui wirid.

Para ulama menaruh perhatian besar pada hikmah ini agar seorang murid tidak mudah menghakimi sesama hamba Allah.

Syekh Ibnu Ajibah (W. 1224 H)

Dalam karyanya Iqadhul Himam, beliau menjelaskan dimensi “karamah tersembunyi”:

“Janganlah engkau tertipu oleh ketiadaan ‘hal’ (gejolak spiritual) pada seorang ahli wirid. Keberhasilan seseorang menggerakkan lidah dan anggota badannya untuk taat selama bertahun-tahun tanpa merasa bosan adalah karamah (mukjizat kecil) yang luar biasa. Jika Allah tidak memberikan ‘Warid’ berupa taufiq, niscaya jiwa yang malas ini tidak akan sanggup bertahan dalam ketaatan.”³

Syekh Ahmad Zarruq Ulama thariqah asal Maroko ini menekankan aspek etika (adab):

Meremehkan seseorang yang sibuk dengan wirid lahiriah karena ia dianggap belum mencapai “fana” atau “makrifat” adalah bentuk kesombongan intelektual. Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Kesibukan seseorang dalam ketaatan adalah tanda nyata bahwa ia sedang diperhatikan oleh Allah (inayah).⁴

Hikmah dari Syekh Ibnu Atha’illah ini memberikan tiga pelajaran fundamental:

Stop Menghakimi  Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi antara Allah dan hamba-Nya. Seseorang yang terlihat “biasa saja” namun istiqomah dengan salat berjamaahnya mungkin memiliki kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah daripada orang yang mengaku memiliki pengalaman spiritual namun tidak disiplin dalam syariat.

Menghargai Proses: Wirid adalah “pintu” dan Warid adalah “isinya”. Jangan meninggalkan pintu hanya karena belum melihat isinya. Tetaplah mengetuk pintu itu dengan amal rutin.

Kesadaran akan Taufiq: Kalimat “Kalau bukan karena Warid, tidak akan ada Wirid” menyadarkan kita untuk tidak sombong dengan amal kita. Kita bisa bangun malam untuk tahajud bukan karena kita kuat, tapi karena Allah “menginginkan” kita bangun melalui pemberian taufiq-Nya.

Novelty : “Jangan pernah terkecoh oleh tampilan lahiriah yang tampak bersahaja. Ketekunan yang tak tergoyahkan merupakan bukti autentik bahwa Allah sedang “mendekap” hamba tersebut dan menahannya agar tetap setia berada dalam lingkaran hidayah-Nya. Di balik rutinitas yang dianggap sepele itu, sesungguhnya sedang terjadi dialog cinta yang konstan antara sang hamba dengan Tuhannya.”

Referensi

¹ Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Al-Hikam al-Atha’iyyah, Hikmah ke-135 (Edisi Syarah Ibnu Ajibah). ² Shahih Bukhari, Kitab ar-Riqaq, No. 6464; Shahih Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin, No. 783. ³ Ibnu Ajibah, Iqadhul Himam fi Syarh Al-Hikam, (Kairo: Dar al-Ma’arif), hlm. 312. ⁴ Ahmad Zarruq, Syarh Hikam al-Atha’iyyah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), hlm. 145.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment