The Undying Sun, Existential Light and Divine Attributes in the Heart’s Secret

شَمْسُ الْقُلُوبِ لَا تَغِيبُ, أَسْرَارُ الْأَنْوَارِ الْإِلٰهِيَّةِ فِي عَالَمِ الْبَاطِنِ

“أَنَارَ الظَّوَاهِرَ بِأَنْوارِ آثَارِهِ، وَأَنَارَ السَّرَائِرَ بِأَنْوَارِ أَوْصَافِهِ. لِأَجْلِ ذَلِكَ أَفَلَتْ أَنْوَارُ الظَّوَاهِرِ، وَلَمْ تَأْفَلْ أَنْوَارُ الْقُلُوبِ وَالسَّرَائِرِ. وَلِذَلِكَ قِيلَ: إِنَّ شَمْسَ النَّهَارِ تَغْرُبُ بِاللَّيْلِ، وَشَمْسُ الْقُلُوبِ لَيْسَتْ تَغِيبُ.”

“Allah menerangi alam lahiriah (fisik) dengan cahaya jejak-jejak ciptaan-Nya (atsar), dan Dia menerangi alam batin (rahasia hati) dengan cahaya sifat-sifat-Nya. Karena itulah, cahaya lahiriah bisa terbenam (padam), sedangkan cahaya hati dan rahasia batin tidak akan pernah terbenam. Maka dikatakan: ‘Sesungguhnya matahari siang terbenam di malam hari, namun matahari hati tidak akan pernah terbenam’.”1

Allah SWT menyandarkan sumber segala cahaya kepada diri-Nya:

 اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ 

Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang (pada dinding) yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang (yang berkilauan seperti) mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk menuju cahaya-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nur: 35)

Para mufasir menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk menjelaskan hakikat petunjuk Allah dalam hati orang mukmin yang diibaratkan seperti pelita dalam kaca yang sangat jernih.

Rasulullah SAW bersabda

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Tiga perkara yang jika ada pada seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, (2) Ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan (3) Ia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)2

Hadis ini disampaikan Rasulullah SAW untuk menjelaskan bahwa iman memiliki “rasa” (halawah). Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa halawah (manisnya iman) inilah yang disebut sebagai cahaya (Nuur) yang masuk ke dalam dada. Ketika cahaya cinta kepada Allah mendominasi, maka dada yang sesak oleh urusan dunia akan menjadi lapang (infasaha).

Syekh Ibnu Ajibah

Matahari di langit hanya sanggup menyentuh lapisan kulit, namun matahari batin mampu menembus hingga ke inti hakikat manusia. Cahaya duniawi bersifat semu dan pinjaman yang akan kembali redup, sementara cahaya batin merupakan anugerah permanen dari Allah yang menjaga ruh tetap bersinar meski jasad telah tiada.3

Syekh Ahmad Zarruq

Ketenteraman batin para kekasih Allah bersumber dari matahari makrifat yang tak pernah terbenam. Di saat dunia dirundung gulita musibah, jiwa mereka tetap bermandikan cahaya, sebab yang mereka saksikan di balik pekatnya takdir hanyalah kelembutan Sifat Kasih Sayang Tuhan (ar-Rahman) dan keluasan Rahmat-Nya (ar-Rahim).4

Imam Al-Ghazali

Dalam kitabnya Misykat al-Anwar, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cahaya mata fisik memiliki banyak keterbatasan (bisa terhalang, bisa redup, dan fana).

“Cahaya hati (akal spiritual) jauh lebih nyata daripada cahaya mata. Cahaya mata hanya bisa melihat kulit luar makhluk (atsar), sementara cahaya hati mampu menembus rahasia Malakut dan Sifat-Sifat Tuhan. Inilah yang dimaksud ‘Matahari Hati’ yang tak pernah terbenam, karena ia bersambung dengan Sumber Cahaya Abadi.”5

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Sultanul Auliya dalam kitab Sirr al-Asrar menekankan pentingnya membersihkan “kaca hati” agar Matahari Sifat Tuhan bisa terpantul sempurna.

“Hati manusia adalah tempat bersemayamnya rahasia Tuhan (Sirrullah). Jika hati telah suci dari kotoran duniawi, maka cahaya Sifat Allah akan menetap di sana. Cahaya ini bersifat Qadim (dahulu tanpa awal). Karena ia tidak diciptakan seperti matahari di langit, maka ia tidak akan pernah mengalami kegelapan.”⁶

Novelty: “Cahaya lahiriah seperti harta, jabatan, dan kecantikan rupa adalah Anwarul Atsar (cahaya jejak) yang pasti akan mengalami aful (terbenam). Namun, hamba yang istiqomah menjaga hubungannya dengan Allah akan memiliki “Matahari Batin” yang membuatnya tetap tenang di tengah badai kehidupan. Inilah Karamah Eksistensial: sebuah kemuliaan bagi hamba yang mampu melihat wajah kasih sayang Tuhan di balik setiap kejadian, menjadikan hidupnya selalu terang tanpa senja.”

Referensi

  1. Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Al-Hikam al-Atha’iyyah, Hikmah No. 154.
  2. Shahih Bukhari, No. 16; Shahih Muslim, No. 43.
  3. Ibnu Ajibah, Iqadhul Himam fi Syarh Al-Hikam, (Kairo: Dar al-Ma’arif), hlm. 345.
  4. Ahmad Zarruq, Syarh al-Hikam, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), hlm. 162.
  5. Imam Al-Ghazali, Misykat al-Anwar, (Kairo: Ad-Dar al-Qawmiyyah), hlm. 54-56.
  6. Abdul Qadir Al-Jailani, Sirr al-Asrar fi ma Yahtaju ilaihi al-Abrar, (Mesir: Dar al-Fadhilah), hlm. 82.
pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment