إِدْرَاكُ التَّنَاغُمِ فِي الْفَضْلِ الْإِلَهِيِّ, تَفْكِيكُ الْغُرُورِ الرُّوحِيِّ بَيْنَ مَقَامِ الْخِدْمَةِ وَمَقَامِ الْمَحَبَّةِ
Untaian Hikmah Kitab Al-Hikam Syaikh Ahmad Ibnu Atha’illah As-Sakandari
قَوْمٌ أَقَامَهُمُ الحَقُّ لِخِدْمَتِهِ وَقَوْمٌ اخْتَصَّهُمْ بِمَحَبَّتِهِ كُلَّا نُمِدُّ هَؤُلاءِ وَهَؤُلاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُوراً
“Ada sebagian orang yang Allah jadikan berkhidmat kepada-Nya, dan sebagian lainnya Allah istimewakan dengan mencintai-Nya. Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Rabbmu. Dan kemurahan Rabbmu tidak dapat dihalangi.“
Bagian akhir dari kutipan di atas diambil dari Surah Al-Isra’ ayat 20:
كُلًّا نُّمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ ۚ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
“Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.“
Menurut riwayat dari para mufassir seperti Ibnu Abbas, ayat ini turun berkaitan dengan kehendak Allah SWT dalam memberikan rezeki dan anugerah di Dunia. Sebagian manusia hanya mengharapkan kesenangan dan balasan duniawi semata, sedangkan sebagian lainnya mengharapkan pahala dan kebaikan di akhirat.
Allah SWT menegaskan bahwa Dia memberikan pertolongan, rezeki, dan anugerah kepada kedua golongan tersebut tanpa ada yang bisa menghalangi, sebagai bentuk keadilan dan keluasan rahmat-Nya.[1]
Rasalullah SAW Bersabda dalam hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ.. (رواه البخاري)
“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya…‘”
Hadis ini menunjukkan korelasi antara dua tingkatan spiritual (maqam):
Maqam Khidmah: Hamba yang mendekat kepada Allah melalui ibadah wajib dan sunnah secara istiqomah (mereka adalah para hamba yang sibuk melayani/beribadah kepada Allah).
Maqam Mahabbah: Puncak dari proses pendekatan diri tersebut, di mana Allah SWT mencintai hamba-Nya dan memberikan anugerah kedekatan khusus (makrifat).
Syaikh Ahmad Ibnu Atha’illah As-Sakandari (Pengarang Kitab Al-Hikam)
Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa perbedaan maqam ini bukan disebabkan oleh kehebatan usaha hamba semata, melainkan karena pembagian yang telah ditetapkan sejak zaman azali. Seseorang yang ditugaskan dalam ibadah (ahlul khidmah) dan orang yang diangkat derajatnya ke dalam makam cinta (ahlul mahabbah) sama-sama mendapatkan limpahan anugerah dari Allah SWT, sehingga kita tidak perlu iri atau merasa lebih baik dari yang lain.[2]
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Abbad Ar-Rundi (Syarah Al-Hikam)
Dalam kitab Ghaitsul Mawahib al-Aliyah, Ibnu ‘Abbad menjelaskan bahwa ada dua jenis hamba yang diberi madad (bantuan spiritual):
Golongan Pertama (Ahli Khidmah): Mereka yang disibukkan dengan ketaatan, ibadah lahiriah, dan mujahadah.
Golongan Kedua (Ahli Mahabbah): Mereka yang diberikan kefanaan (fana’) dalam cinta, sehingga hati mereka senantiasa terpaut pada Dzat-Nya.[3]
Kedua golongan ini sama-sama menerima pemberian dari Allah (min ‘atha’i Rabbika) dan karunia Allah tidak dapat dihalangi oleh siapapun.
Syaikh Ahmad Zarruq
Syaikh Zarruq dalam kitab Syarh al-Hikam menambahkan bahwa setiap hamba harus ridho dengan bagiannya (qismatullah). Jika Allah menempatkanmu sebagai orang yang berkhidmat (misalnya: sibuk berdakwah, mengajar, dan beribadah), syukurilah itu. Jika Allah memilihmu dengan limpahan cinta-Nya, maka jagalah anugerah tersebut dengan keikhlasan.[4]
Kutipan hikmah ini mengajarkan kita untuk tidak membanding-bandingkan kedudukan spiritual diri sendiri dengan orang lain. Tugas kita adalah berkhidmat sebaik-baiknya sesuai dengan anugerah yang telah Allah SWT tetapkan, baik itu berupa kesempatan untuk beramal ibadah maupun anugerah kedekatan cinta-Nya. Semuanya berasal dari kemurahan Allah yang tidak akan pernah tertolak.
Novelty : dari kajian ini terletak pada dekonstruksi kesombongan spiritual, yang memandang Maqam Khidmah dan Maqam Mahabbah bukan sebagai tangga hierarkis, melainkan sebagai anugerah ilahi (‘atha’) yang setara. Melalui integrasi dalil, kajian ini menegaskan bahwa kesibukan lahiriah dalam beribadah (ahlul khidmah) memiliki bobot spiritual yang sama berharganya dengan kedekatan batiniah yang penuh cinta (ahlul mahabbah). Dengan demikian, konsep ini mengajarkan kita untuk menerima takaran spiritualnya masing-masing (qismatullah) secara ikhlas, tanpa terjebak dalam perbandingan, iri hati, atau sikap merasa lebih unggul di hadapan Allah SWT.
Referensi
[1]: Imam Al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Tafsir Al-Qurtubi), Jilid 10 (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 2006), hlm. 250-252. [2]: Ibnu Atha’illah As-Sakandari, Al-Hikam (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1995), Hikmah No. 127, hlm. 142. [3]: Ibnu ‘Abbad Ar-Rundi, Ghaitsul Mawahib al-Aliyah bi Syarh al-Hikam (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002), Jilid 2, hlm. 115-117. [4]: Syaikh Ahmad Zarruq, Syarh al-Hikam al-Atha’iyyah (Kairo: Dar al-Salam, 2008), hlm. 285.





Comment