لا يُشَكِّكَنَّ فِي الْوَعْدِ وُقُوْعُ الْمَوْعُوْدِ وَإِنْ تَعَيَّنَ زَمَانُهُ لِئَلَّا يَكُوْنَ ذَلِكَ قَدْحًا فِي بَصِيْرَتِكَ وَإِخْمَادًا لِنُوْرِ سَرِيرَتِكَ
“Jangan sampai tidak terwujudnya suatu janji membuat meragukan janji Allah SWT., walaupun waktunya telah jelas. Agar hal itu tidak merusak pandangan mata hati dan memadamkan cahaya jiwa.”
Janganlah sekali-kali meragukan janji Allah Swt. hanya karena pada suatu saat merasa bahwa janji-Nya belum juga terwujud. Jangan pula terburu-buru menyimpulkan bahwa pertolongan Allah tidak kunjung datang, hanya karena kenyataan yang dihadapi tidak sesuai dengan harapan. Sebab, apa yang menurut manusia baik dan tepat untuk saat ini, belum tentu merupakan sesuatu yang terbaik menurut ilmu dan kehendak Allah Swt.
Sebagai contoh, Allah Swt. menjanjikan pertolongan dan kemenangan kepada orang-orang beriman. Namun, dalam perjalanan sejarah, kita menyaksikan bahwa umat Islam tidak selalu berada dalam keadaan kuat dan berjaya. Ada masa ketika mereka mengalami kekalahan, kemiskinan, perpecahan, kemunduran ilmu pengetahuan, bahkan terpuruk dalam berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik. Di tengah kenyataan seperti itu, mungkin muncul pertanyaan dalam hati, “Di manakah janji Allah Swt.? Bukankah kita telah beriman dan berjuang di jalan-Nya? Mengapa umat Islam justru mengalami kemunduran, sementara pihak lain tampak lebih unggul dan berkuasa?”
Pertanyaan semacam itu dapat muncul sebagai bagian dari kegelisahan manusia ketika menghadapi kenyataan hidup yang berat. Akan tetapi, kegelisahan tersebut hendaknya tidak berkembang menjadi prasangka buruk terhadap Allah Swt. Sebaliknya, keadaan itu perlu menjadi momentum untuk memperdalam keimanan, memperbaiki diri, mengevaluasi ikhtiar, serta memahami bahwa janji Allah tidak dapat diukur semata-mata berdasarkan keinginan dan batas waktu yang ditetapkan oleh manusia.
Belum terwujudnya sesuatu yang kita harapkan bukan berarti Allah mengingkari janji-Nya. Bisa jadi, ada hikmah yang belum kita pahami, ada proses yang masih harus dijalani, atau ada berbagai sebab yang perlu diperbaiki sebelum hasil yang diharapkan dapat tercapai. Manusia hanya mampu melihat sebagian kecil dari kenyataan, sedangkan Allah Swt. Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang.
Allah Swt. mengetahui kapan sesuatu layak diberikan, bagaimana sesuatu itu seharusnya terjadi, dan apa akibat yang mungkin timbul apabila sesuatu diberikan sebelum waktunya. Terkadang, manusia menginginkan kemenangan dengan segera, padahal dirinya belum memiliki kesiapan mental, ilmu, persatuan, kedisiplinan, dan kekuatan yang memadai untuk mempertahankannya. Apabila kemenangan datang sebelum kesiapan itu terbentuk, bukan tidak mungkin kemenangan tersebut justru menjadi awal kehancuran.
Demikian pula dalam kehidupan pribadi. Seseorang mungkin berdoa agar segera memperoleh pekerjaan, mengharapkan kelapangan rezeki, mendambakan kesembuhan, atau berjuang untuk meraih keberhasilan. Namun, ketika harapannya belum terwujud, ia merasa seolah-olah doanya tidak didengar. Padahal, keterlambatan yang dirasakannya belum tentu menunjukkan bahwa Allah tidak memberikan pertolongan. Bisa jadi, ia masih perlu belajar bersabar, memperbaiki cara berusaha, memperluas pengetahuan, atau mempersiapkan dirinya agar mampu menerima dan mengelola nikmat tersebut dengan baik.
Dalam perspektif tasawuf, sebagaimana pesan yang terkandung dalam Kitab Al-Hikam, seorang hamba diajak untuk tidak menjadikan kehendak pribadinya sebagai ukuran mutlak atas cara Allah mengatur kehidupan. Seorang hamba hendaknya belajar mempercayai kebijaksanaan Allah, sekalipun hikmah di balik suatu peristiwa belum dapat dipahaminya. Sikap ini bukan berarti manusia harus berhenti berusaha atau menerima ketidakadilan tanpa melakukan perbaikan. Sebaliknya, tawakal yang benar justru mendorong seseorang untuk terus berikhtiar dengan sungguh-sungguh, sembari menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Swt.
Allah SWT. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.”(QS. Ali ‘Imran [3]: 9).
Ayat tersebut menegaskan kesempurnaan Allah Swt. dalam menepati janji-Nya. Namun, kita perlu memahami bahwa janji Allah harus ditempatkan sesuai dengan konteks ayat, ketentuan-Nya, serta hikmah yang terkandung di dalamnya. Tidak setiap keinginan manusia merupakan janji Allah, dan tidak setiap harapan harus terwujud persis seperti yang dibayangkan. Karena itu, keimanan tidak seharusnya dibangun di atas anggapan bahwa Allah pasti memberikan segala sesuatu sesuai dengan keinginan pribadi, melainkan di atas keyakinan bahwa Allah Maha Benar dan Maha Bijaksana dalam menetapkan segala sesuatu.
Dalam konteks perjuangan umat Islam, misalnya, janji pertolongan Allah tidak dapat dipahami sebagai jaminan bahwa setiap kelompok yang mengaku beriman pasti memperoleh kemenangan dalam setiap peperangan, tanpa memperhatikan keadaan, ikhtiar, maupun ketentuan yang berlaku. Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa perjuangan memerlukan kesabaran, ketaatan, persatuan, dan keteguhan hati. Kekalahan dapat menjadi pelajaran untuk mengevaluasi kelemahan, memperbaiki strategi, meninggalkan kesalahan, dan membangun kekuatan yang lebih baik.
Oleh sebab itu, ketika umat Islam mengalami kemunduran, sikap yang tepat bukanlah menyalahkan takdir atau mempertanyakan keadilan Allah secara tergesa-gesa. Yang perlu dilakukan adalah introspeksi: apakah ilmu telah dikembangkan, apakah persaudaraan telah dijaga, apakah amanah telah dilaksanakan, apakah keadilan telah ditegakkan, dan apakah nilai-nilai Islam benar-benar diwujudkan dalam kehidupan? Keimanan harus melahirkan tanggung jawab dan tindakan nyata, bukan sekadar keyakinan yang tidak disertai usaha.
Demikian pula, ketika doa belum terkabul, janganlah mudah berputus asa. Teruslah berdoa, memperbaiki diri, dan menempuh jalan yang benar. Jangan menjadikan lamanya penantian sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah atau melakukan kemaksiatan. Sebab, salah satu ujian terberat bagi seorang mukmin bukan hanya ketika ia kehilangan sesuatu yang dicintainya, melainkan juga ketika ia harus tetap beriman dan berbuat baik di tengah keadaan yang belum sesuai dengan harapannya.
Perlu dipahami pula bahwa mengeluhkan kesulitan kepada Allah tidak sama dengan berburuk sangka kepada-Nya. Seorang hamba boleh mengadukan kesedihan, memohon pertolongan, bahkan menangis dalam doa. Yang perlu dihindari adalah sikap berputus asa dari rahmat Allah, menuduh-Nya tidak adil, atau menganggap bahwa seluruh perjuangan dan doa yang telah dilakukan menjadi sia-sia hanya karena hasilnya belum terlihat.
Dalam perjalanan menuju makrifatullah, yakni pengenalan yang semakin mendalam kepada Allah Swt., seorang hamba perlu melatih kejernihan hati. Ia belajar membedakan antara keinginan pribadi dan kebijaksanaan Ilahi, antara kesabaran dan kepasrahan yang keliru, serta antara tawakal dan sikap menyerah tanpa ikhtiar. Dengan demikian, keyakinannya tidak mudah goyah hanya karena keadaan berubah atau pertolongan belum datang sebagaimana yang diharapkan.
Jangan sampai pula keyakinan terhadap janji Allah membuat seseorang mengabaikan kenyataan dan menolak evaluasi. Keimanan yang sehat justru berjalan bersama akal yang jernih, ilmu yang benar, dan kesediaan memperbaiki kesalahan. Ketika menghadapi kegagalan, seorang mukmin tidak hanya berkata, “Ini belum waktunya,” tetapi juga bertanya, “Apa yang harus saya perbaiki? Ikhtiar apa yang belum saya lakukan? Kesalahan apa yang perlu saya tinggalkan?” Dengan cara itulah kesabaran menjadi kekuatan yang melahirkan kemajuan.
Akhirnya, apabila menginginkan sesuatu, janganlah hanya memohon agar keinginan itu segera terwujud. Mohonlah pula taufik Allah SWT., yaitu pertolongan dan bimbingan-Nya agar mampu memilih jalan yang benar, melakukan usaha yang tepat, bersabar dalam proses, serta menerima hasil dengan hati yang lapang. Taufik Allah sangat penting, sebab manusia tidak selalu mengetahui apakah sesuatu yang diinginkannya benar-benar membawa kebaikan bagi dirinya.
Teruslah berdoa tanpa kehilangan harapan, teruslah berusaha tanpa mengenal putus asa, dan teruslah memperbaiki diri tanpa merasa paling benar. Apabila apa yang diharapkan belum terwujud, jangan buru-buru menuduh Allah menjauh. Bisa jadi masih berada dalam proses pembelajaran yang akan menguatkan jiwa, mendewasakan pikiran, dan mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.
Percayalah kepada kebenaran janji Allah, tetapi jangan memaksakan kehendak pribadi sebagai ukuran waktu dan cara Allah memberikan pertolongan. Tugas manusia adalah beriman, berikhtiar, berdoa, bersabar, dan menjaga diri agar tetap berada di jalan yang diridai-Nya. Adapun hasil akhirnya, serahkanlah kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia kehidupan.
Sebab, kedewasaan iman tidak selalu ditandai dengan cepatnya seseorang memperoleh apa yang diinginkannya, melainkan dengan kemampuannya untuk tetap taat, jujur, adil, dan berprasangka baik kepada Allah, bahkan ketika jalan kehidupan belum terbuka sebagaimana yang diharapkannya.





Comment