Kajian Kitab Al-Hikam Penuh Hikmah #Maqolah VIII

إِذَا فَتَحَ لَكَ وَجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ عَنْهَا وَإِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ

“Jikalau Allah SWT. membukakan jalan bagi Kamu untuk mengenal-Nya maka janganlah peduli terhadap amalan Kamu, meskipun amal itu sedikit. Tidaklah Dia membukakan jalan itu bagi Kamu, kecuali Dia ingin berkenalan denganmu.”

Jikalau Allah SWT. membukakan pintu makrifat bagi seorang hamba untuk mengenal-Nya sehingga ia mampu menembus pandangan lahiriah dan menyaksikan rahasia kekuasaan di balik realitas maka hal utama yang harus dilakukan adalah bersyukur. Karunia ini patut disyukuri meskipun hamba tersebut menyadari bahwa amal ibadahnya masih jauh dari kata sempurna dan belum layak untuk menerima anugerah yang begitu agung.

Makrifat bukanlah upah mutlak dari kuantitas ibadah, melainkan murni merupakan pemberian (`athiyah) dan pilihan (ihtiyar) langsung dari Allah Swt. kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Hakikat Amal: Kualitas di Atas Kuantitas

Banyaknya jumlah amal ibadah bukanlah jaminan mutlak bahwa Allah SWT. akan membukakan pintu makrifat bagi seseorang. Dalam pandangan tasawuf dan hikmah para ulama, inti dari ibadah terletak pada kualitas penghambaan (ihsan dan hudhur hati), bukan sekadar kuantitas gerakan atau rutinitas lahiriah.

  • Sangat mungkin seseorang yang amalan sunnahnya sedikit memiliki kedudukan spiritual (maqam) yang lebih tinggi di sisi Allah karena kebersihan hatinya, keikhlasannya, serta makrifat yang mendalam.
  • Sebaliknya, seseorang yang tampak banyak amal ibadahnya bisa jadi berada pada kedudukan yang lebih rendah apabila amal tersebut tercemar oleh rasa ujub (bangga diri), ria, atau hampa dari kesadaran ruhani.

Manifestasi dan Dampak Spiritual Makrifat

Seseorang yang telah dikaruniai makrifat oleh Allah SWT. akan mengalami transformasi pandangan hidup dan ketajaman batin:

Menangkap Hikmah Semesta: Ia mampu melihat tanda-tanda kebesaran Allah (ayat kauniyah) di balik setiap peristiwa. Ketika menyaksikan air mengalir, angin berhembus, burung berkicau, atau binatang berlari, ia tidak melihatnya sebagai kejadian kebetulan, melainkan sebagai tasbih semesta dan manifestasi rahasia ciptaan-Nya.

Wibawa dan Pancaran Hikmah: Kata-kata yang keluar dari lisannya memancarkan wibawa dan energi spiritual yang menyejukkan hati. Tutur katanya penuh dengan hikmah mendalam yang mampu menyadarkan akal dan menenangkan jiwa.

Buah Manis Pengenalan: Kedekatan dan Penjagaan Ilahi

Ketika seseorang bersyukur atas dibukakannya pintu makrifat, hakikatnya ia sedang mensyukuri terbukanya pintu hidayah untuk mengenal Sang Pencipta.

Kedekatan Spiritual (Qurbah): Semakin dalam seseorang mengenal Allah SWT., semakin dekat pula jarak ruhani antara hamba dengan Tuhannya.

Anggota Tubuh yang Terjaga (Ma’shum dalam Ketaatan): Apabila jarak ruhani sudah dekat, lisan hamba tersebut akan diberkahi sehingga tidak ada kata yang terucap sia-sia; setiap kalimatnya mengandung kebaikan dan nasihat. Demikian pula dengan langkah kakinya, gerak tangannya, dan seluruh anggota tubuhnya. Semuanya akan bergerak dalam koridor ridha Allah, berada di bawah pengawasan ketat-Nya, serta menghadirkan kesadaran penuh (muraqabah) bahwa Allah Swt. senantiasa mengawasi gerak-gerik lahir maupun batin.

Nikmat ibadah yang berbalut makrifat ini merupakan anugerah istimewa yang hanya dapat dirasakan oleh hamba-hamba pilihan yang senantiasa menjaga kebersihan hati dan ketulusan niat hanya kepada Allah SWT.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment