إِحَالَتُكَ الْأَعْمَالَ عَلَى وُجُودِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُونَاتِ النَّفْسِ
“Menunda amalan untuk menunggu waktu luang adalah bentuk kebodohan jiwa.”
Salah satu bentuk kebodohan jiwa adalah kebiasaan menunda amal kebaikan dengan alasan menunggu waktu yang lebih luang. Seseorang mengetahui bahwa suatu ibadah merupakan kewajiban, memahami bahwa amal saleh dicintai Allah Swt., bahkan memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, tetapi ia justru menundanya karena merasa masih memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan.
Ia berkata dalam hatinya, “Nanti saja, kalau pekerjaan sudah selesai.” Atau, “Besok saja, kalau keadaan sudah lebih tenang.” Bahkan, “Kalau sudah tidak sibuk, saya akan lebih rajin beribadah.”
Inilah salah satu tipu daya jiwa yang sering tidak disadari. Sebab, manusia kerap membayangkan bahwa waktu luang akan datang dengan sendirinya, padahal kehidupan tidak pernah benar-benar bebas dari kesibukan. Selesai satu pekerjaan, muncul pekerjaan berikutnya. Tuntas satu urusan, datang urusan yang lain. Jika seseorang selalu menunggu seluruh kesibukannya selesai untuk beribadah, boleh jadi sampai akhir hayatnya ia tidak pernah menemukan waktu yang dianggap cukup luang.
Sesungguhnya, bukan selalu karena tidak adanya waktu seseorang meninggalkan amal kebaikan, melainkan karena ia belum mampu menempatkan Allah Swt. sebagai prioritas utama dalam kehidupannya.
Fenomena menunda ibadah karena kesibukan dunia banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, ketika adzan berkumandang, seseorang sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan di kantor. Ia mengetahui bahwa waktu salat telah tiba, tetapi sengaja menundanya karena merasa pekerjaannya lebih mendesak.
Contoh lainnya, ketika seseorang telah memenuhi syarat wajib zakat, ia justru menunda menunaikannya dengan alasan belum sempat mengurus penyalurannya melalui lembaga zakat. Padahal, zakat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan ketika syarat-syaratnya telah terpenuhi.
Demikian pula seseorang yang telah memiliki kemampuan fisik, mental, dan finansial untuk menunaikan ibadah haji. Akan tetapi, ia terus menundanya karena pekerjaan, jabatan, bisnis, dan berbagai kepentingan duniawi yang seolah-olah tidak pernah selesai.
Semua itu menunjukkan bahwa manusia sering kali lebih mengutamakan sesuatu yang sementara daripada sesuatu yang menjadi bekal kehidupan abadinya.
Bukan berarti pekerjaan dunia harus ditinggalkan. Bekerja, mencari nafkah, mengurus keluarga, dan menjalankan tanggung jawab sosial juga dapat bernilai ibadah apabila diniatkan dengan benar. Namun, jangan sampai kesibukan mencari kehidupan dunia justru membuat kita kehilangan kesempatan untuk mempersiapkan kehidupan akhirat.
Dunia memang harus diurus, tetapi jangan sampai urusan dunia membuat kita lupa kepada Allah Swt. yang memberikan kehidupan.
Salah satu kekeliruan manusia adalah merasa bahwa dirinya masih memiliki banyak waktu. Ia menganggap bahwa kesempatan beribadah akan selalu tersedia pada hari esok. Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti berapa lama lagi ia akan hidup.
Kita sering membuat rencana untuk masa depan, tetapi lupa bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang berada dalam genggaman kita. Kita merencanakan hari esok, minggu depan, bahkan tahun-tahun mendatang, sementara ajal dapat datang kapan saja tanpa menunggu semua rencana selesai.
Siapa yang dapat menjamin bahwa seseorang yang menunda salat, menunda zakat, menunda haji, atau menunda amal kebajikan lainnya masih memiliki kesempatan untuk melaksanakannya esok hari?
Ajal tidak mengenal kesibukan. Ia tidak menunggu seseorang menyelesaikan pekerjaannya, mengumpulkan hartanya, meraih jabatannya, atau menuntaskan seluruh rencananya. Ketika ketetapan Allah Swt. telah tiba, tidak ada kekuatan yang mampu menundanya.
Oleh karena itu, jangan pernah merasa terlalu yakin bahwa kesempatan untuk berbuat baik akan selalu datang kembali. Kesempatan yang ada hari ini merupakan karunia Allah yang belum tentu kita jumpai pada hari esok.
Waktu merupakan salah satu nikmat Allah Swt. yang sangat berharga. Bahkan, waktu adalah kehidupan itu sendiri. Setiap detik yang berlalu sesungguhnya merupakan bagian dari umur yang tidak akan pernah kembali.
Ketika seseorang kehilangan harta, mungkin ia masih dapat mencarinya kembali. Ketika kehilangan jabatan, mungkin suatu saat ia dapat meraihnya kembali. Namun, ketika kehilangan waktu, ia tidak akan pernah mampu mengembalikannya, sekalipun memiliki kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa.
Ada ungkapan hikmah yang sangat mendalam:
“Waktu adalah pedang. Jika engkau tidak menggunakannya untuk memotong, maka ia akan memotongmu.”
Ungkapan ini mengandung pelajaran bahwa waktu tidak pernah berhenti berjalan. Apabila kita tidak memanfaatkannya untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, waktu akan berlalu begitu saja dan meninggalkan penyesalan.
Setiap hari umur kita berkurang, sementara kesempatan untuk beramal semakin terbatas. Karena itu, orang yang cerdas bukanlah orang yang sekadar mampu mengatur kesibukan dunia, melainkan orang yang mampu mengisi kehidupannya dengan amal yang mendekatkan dirinya kepada Allah Swt.
Allah Swt. mengingatkan dalam Surah Al-‘Ashr:
وَالْعَصْرِ ۙ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ ۙ إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3).
Ayat ini menegaskan bahwa manusia pada dasarnya berada dalam kerugian apabila tidak mengisi waktunya dengan keimanan, amal saleh, serta perjuangan menegakkan kebenaran dan kesabaran.
Orang yang memiliki kesadaran spiritual tidak menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk menjauh dari Allah Swt. Sebaliknya, ia berusaha menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas kehidupannya.
Ketika waktu salat tiba, ia berusaha memenuhi panggilan Allah sebelum tenggelam dalam urusan pekerjaan. Ketika hartanya telah mencapai ketentuan wajib zakat, ia segera menunaikannya. Ketika memiliki kesempatan untuk bersedekah, ia tidak menunggu sampai menjadi kaya raya. Ketika memiliki kesempatan untuk membaca Al-Qur’an, berzikir, membantu sesama, dan melakukan amal kebajikan, ia segera melaksanakannya.
Sebab, ia memahami bahwa amal kebaikan tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang. Terkadang, satu kesempatan kecil yang dimanfaatkan dengan penuh keikhlasan jauh lebih berharga daripada rencana besar yang tidak pernah diwujudkan.
Namun, perlu dipahami bahwa bersegera dalam beramal bukan berarti bertindak tergesa-gesa tanpa memperhatikan ketentuan syariat. Maksudnya adalah tidak sengaja menunda kebaikan yang sudah dapat dilaksanakan, terutama kewajiban yang telah tiba waktunya.
Jangan menunggu hati menjadi sempurna untuk mulai beribadah. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu kehidupan menjadi tenang untuk mendekat kepada Allah.
Mulailah dari apa yang mampu dilakukan sekarang, sebab tidak seorang pun mengetahui apakah dirinya masih mempunyai kesempatan pada hari esok.
Cobalah kita membayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya selalu berkata, “Nanti saja saya akan memperbaiki salat.” Ia terus menundanya karena pekerjaan. Ia berkata, “Nanti saja saya akan memperbanyak membaca Al-Qur’an.” Ia menundanya karena kesibukan. Ia juga berkata, “Nanti kalau sudah tua, saya akan lebih banyak beribadah.”
Namun, sebelum semua keinginannya terwujud, ajal terlebih dahulu menjemputnya.
Pada saat itu, semua rencana tinggal kenangan. Harta yang dikumpulkan tidak lagi dapat digunakan untuk memperpanjang umur. Jabatan yang dibanggakan tidak lagi memiliki arti. Kesibukan yang dahulu dianggap begitu penting telah ditinggalkan. Sementara amal yang seharusnya dapat dikerjakan selama hidup justru belum sempat diwujudkan.
Betapa besar penyesalan orang yang baru menyadari berharganya waktu ketika kesempatan telah tertutup.
Karena itu, jangan sampai kita menjadi orang yang baru merindukan salat ketika sudah tidak mampu berdiri, baru ingin membaca Al-Qur’an ketika lisan tidak lagi mampu melafalkannya, baru ingin bersedekah ketika harta telah ditinggalkan, dan baru ingin bertobat ketika kesempatan hidup telah berakhir.
Selagi Allah masih memberikan umur, kesehatan, kekuatan, dan kesempatan, gunakanlah semuanya untuk memperbanyak amal saleh.
Saudaraku, sesungguhnya kehidupan ini bukan tentang seberapa banyak pekerjaan yang berhasil kita selesaikan, seberapa tinggi jabatan yang berhasil kita raih, atau seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan. Lebih dari itu, kehidupan ini adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri menghadap Allah Swt.
Jangan biarkan kesibukan dunia mencuri waktu yang seharusnya kita gunakan untuk beribadah. Jangan biarkan pekerjaan mengalahkan kewajiban. Jangan biarkan keinginan menikmati dunia membuat kita lupa mempersiapkan kehidupan akhirat.
Ingatlah, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hari yang kita miliki sekarang adalah kesempatan, sedangkan hari esok masih menjadi rahasia Allah. Kita tidak pernah tahu apakah masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, memperbanyak ibadah, meminta maaf, bersedekah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Maka, jangan menunda kebaikan yang dapat kita lakukan hari ini. Jangan menunggu waktu luang untuk mengingat Allah, sebab mengingat Allah justru harus menjadi bagian terpenting dalam kehidupan kita.
Jangan menunggu senggang untuk bersujud, karena belum tentu kita masih diberi umur panjang. Jangan menunggu kaya untuk berbagi, karena belum tentu kekayaan itu datang. Jangan menunggu tua untuk bertobat, karena belum tentu usia tua sempat kita rasakan.
Ingatlah, kesempatan beramal adalah anugerah, waktu adalah amanah, dan kehidupan adalah perjalanan menuju Allah. Jangan sampai ketika kesempatan telah berakhir, barulah kita menyadari betapa berharganya waktu yang dahulu kita sia-siakan.





Comment