مَا تَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْئًا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحْدِثَ فِي الْوَقْتِ غَيْرَ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيهِ
“Sungguh, seseorang tidak meninggalkan sedikit pun kebodohan apabila ia menghendaki terjadinya sesuatu pada suatu waktu yang tidak sesuai dengan apa yang telah Allah tampakkan dan tetapkan pada waktu tersebut.”
“Jangan memaksa Allah mengikuti waktu yang engkau inginkan, tetapi belajarlah mempercayai waktu yang Allah tetapkan. Sebab, sesuatu yang tertunda belum tentu tertolak, sesuatu yang tidak diberikan belum tentu merupakan kehilangan, dan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan belum tentu merupakan keburukan. Terkadang, Allah menunda bukan untuk mengecewakan, tetapi agar kita belajar bersabar; Allah tidak memberikan bukan berarti tidak menyayangi, tetapi mungkin sedang melindungi; dan Allah menguji bukan untuk menjauhkan, melainkan agar seorang hamba semakin dekat kepada-Nya.”
Merupakan bentuk kebodohan yang nyata apabila seorang hamba menginginkan sesuatu terjadi pada waktu yang tidak dikehendaki oleh Allah Swt. Sebab, manusia hanyalah makhluk yang lemah, fakir, dan penuh keterbatasan di hadapan-Nya. Kita boleh memiliki keinginan, cita-cita, harapan, dan rencana, tetapi kita tidak memiliki kekuasaan mutlak untuk menentukan kapan segala sesuatu harus terjadi dan bagaimana hasil akhirnya.
Segala sesuatu berada dalam kekuasaan dan pengaturan Allah Swt. Dialah yang mengatur perjalanan kehidupan, menentukan pergantian waktu, serta menetapkan segala sesuatu berdasarkan ilmu dan kebijaksanaan-Nya. Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya menyadari bahwa keinginannya tidak selalu sejalan dengan ketentuan Allah. Apa yang menurut manusia harus terjadi sekarang, belum tentu merupakan waktu terbaik menurut kebijaksanaan-Nya.
Apabila sesuatu yang kita harapkan belum juga terwujud, janganlah tergesa-gesa menyalahkan keadaan, mengeluh, apalagi berburuk sangka kepada Allah. Bisa jadi, Allah sedang menunda sesuatu karena waktu yang kita inginkan belum menjadi waktu yang terbaik. Bisa jadi pula, sesuatu yang sangat kita dambakan justru belum membawa kebaikan bagi kehidupan kita. Sebaliknya, sesuatu yang kita hindari dan kita anggap sebagai keburukan mungkin menyimpan hikmah dan pelajaran yang belum mampu kita pahami.
Allah Swt. Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada satu pun peristiwa yang luput dari ilmu-Nya. Apa yang tampak buruk dalam pandangan manusia belum tentu buruk dalam keseluruhan hikmah dan akibatnya. Begitu pula sesuatu yang tampak menyenangkan belum tentu membawa kebaikan bagi kehidupan seorang hamba.
Manusia hanya mampu melihat apa yang berada di hadapan matanya, sedangkan Allah mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. Manusia menilai berdasarkan apa yang sedang dialaminya, sementara Allah mengetahui seluruh perjalanan kehidupan, termasuk akibat dari setiap peristiwa yang belum terjadi.
Oleh karena itu, janganlah kita terburu-buru menilai setiap kesulitan sebagai keburukan mutlak. Bencana, banjir, tanah longsor, kehilangan harta benda, kegagalan usaha, kehilangan pekerjaan, bahkan perpisahan dengan orang yang dicintai, merupakan peristiwa yang dapat menghadirkan kesedihan dan penderitaan. Namun, seorang mukmin hendaknya tetap memiliki keyakinan bahwa setiap ujian dapat menjadi jalan untuk mengambil pelajaran, memperbaiki diri, memperkuat kesabaran, dan mendekatkan hati kepada Allah Swt.
Hal ini bukan berarti manusia harus pasrah tanpa usaha atau membiarkan keburukan terjadi. Islam justru mengajarkan kita untuk berikhtiar, berusaha memperbaiki keadaan, mencegah kemudaratan, dan mencari jalan keluar dari setiap kesulitan. Akan tetapi, setelah segala usaha dilakukan, seorang hamba harus mampu menerima hasil akhirnya dengan lapang dada. Sebab, tugas manusia adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah Swt.
Begitu pula dalam urusan doa. Terkadang, kita begitu bersemangat memohon sesuatu kepada Allah Swt. Kita menginginkan agar doa segera dikabulkan, bahkan tanpa sadar menentukan sendiri kapan dan bagaimana Allah harus mengabulkannya. Ketika apa yang kita minta belum juga terwujud, hati mulai gelisah, kecewa, bahkan muncul pertanyaan dalam diri, mengapa Allah belum memberikan apa yang selama ini kita harapkan?
Padahal, keterlambatan terkabulnya doa bukan berarti Allah tidak mendengar, tidak menyayangi, atau mengabaikan permohonan kita. Allah Maha Mendengar setiap rintihan hati, bahkan doa yang tidak mampu kita ungkapkan melalui kata-kata.
Bisa jadi, Allah menunda terkabulnya doa karena waktu yang kita inginkan belum menjadi waktu yang terbaik. Bisa jadi pula, sesuatu yang kita minta belum memberikan manfaat bagi kehidupan kita. Bahkan, mungkin Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada apa yang selama ini kita bayangkan.
Dalam ajaran Islam, doa seorang hamba tidak pernah sia-sia. Allah dapat mengabulkannya sesuai dengan permintaan, menundanya hingga waktu yang lebih tepat, menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, atau menjadikannya sebagai sebab terhindarnya seseorang dari keburukan. Karena itu, jangan pernah mengukur kasih sayang Allah hanya berdasarkan cepat atau lambatnya sebuah doa dikabulkan.
Terkadang, kita terlalu sibuk memikirkan apa yang belum Allah berikan hingga lupa mensyukuri begitu banyak nikmat yang telah Allah limpahkan. Kita menangisi satu keinginan yang belum terwujud, tetapi melupakan sekian banyak karunia yang setiap hari kita nikmati. Padahal, boleh jadi apa yang telah Allah berikan jauh lebih banyak daripada apa yang selama ini kita minta.
Jangan sampai keinginan yang belum terpenuhi membuat kita kehilangan rasa syukur. Jangan sampai doa yang belum terkabul menjadikan kita berputus asa dari rahmat Allah. Sebab, seorang hamba yang mengenal Tuhannya akan tetap berdoa, bukan semata-mata karena menginginkan sesuatu, melainkan karena menyadari bahwa hanya Allah tempat bergantung dan memohon pertolongan.
Inti dari hikmah ini adalah mendidik hati agar tidak mendahului kehendak Allah dengan keinginan hawa nafsu sendiri. Seorang hamba boleh memiliki cita-cita, menyusun rencana, berdoa, dan berusaha sekuat tenaga. Namun, ia tidak boleh menjadikan keinginannya sebagai ukuran mutlak atas kebaikan.
Jangan sampai kita hanya mau menerima ketentuan Allah ketika sesuai dengan keinginan sendiri, tetapi kecewa dan berburuk sangka ketika kenyataan berjalan berbeda. Sebab, hakikat penghambaan bukan sekadar bersyukur ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, melainkan juga tetap percaya kepada Allah ketika menghadapi sesuatu yang tidak kita sukai.
Ridha bukan berarti seseorang tidak boleh bersedih, menangis, atau merasakan sakit. Para nabi pun pernah mengalami kesedihan dan ujian yang berat. Ridha adalah sikap hati yang tetap berbaik sangka kepada Allah, tidak berputus asa dari rahmat-Nya, dan tidak kehilangan kepercayaan terhadap kebijaksanaan-Nya, sekalipun keadaan belum sesuai dengan harapan.
Ingatlah, manusia sering kali menginginkan sesuatu karena hanya melihat keindahannya, tanpa mengetahui akibat yang mungkin ditimbulkannya. Sementara itu, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Sesuatu yang hari ini kita tangisi, mungkin kelak menjadi sesuatu yang kita syukuri. Sesuatu yang hari ini kita perjuangkan dengan penuh harapan, mungkin suatu saat kita sadari bahwa Allah telah menyelamatkan kita dengan tidak memberikannya.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 216:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran kebaikan tidak selalu sama dengan ukuran keinginan manusia. Apa yang kita anggap baik belum tentu benar-benar baik, dan apa yang kita anggap buruk belum tentu sepenuhnya buruk. Sebab, pengetahuan manusia sangat terbatas, sedangkan ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
Maka, belajarlah untuk tidak memaksakan kehendak kepada Allah. Mintalah apa yang kita inginkan, tetapi serahkan keputusan terbaik kepada-Nya. Berusahalah dengan sungguh-sungguh, berdoalah dengan penuh harap, bersabarlah ketika Allah menunda, dan bersyukurlah ketika Allah memberikan.
Janganlah terlalu sibuk memikirkan mengapa Allah belum memberikan apa yang kita inginkan, tetapi belajarlah memahami bahwa Allah lebih mengetahui apa yang benar-benar kita butuhkan.
Sebab, kedewasaan spiritual seorang hamba bukan diukur dari seberapa banyak keinginannya yang terpenuhi, melainkan dari seberapa besar keteguhan hatinya untuk tetap percaya kepada Allah ketika keinginannya belum menjadi kenyataan.





Comment