مَا أَرَادَتْ هِمَّةُ سَالِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَ مَا كُشِفَ لَهَا إِلَّا وَنَادَتْهُ هَوَاتِفُ الْحَقِيقَةِ: الَّذِي تَطْلُبُ أَمَامَكَ. وَلَا تَبَرَّجَتْ ظَوَاهِرُ الْمُكَوَّنَاتِ إِلَّا وَنَادَتْهُ حَقَائِقُهَا: إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ.
” Tidaklah semangat seorang salik (ahli ibadah) untuk ingin berhenti ketika dibukakan baginya (hal gaib), kecuali seruan hakikat berkata kepadanya, ‘Yang engkau cari berada di hadapanmu.’ Dan, tidaklah ketika terlihat fenomena-fenomena indah di hadapannya, kecuali hakikat berkata kepadanya, ‘Kami hanyalah fitnah, maka janganlah engkau kufur.'”
Dalam perjalanan menuju Allah Swt., seorang salik atau hamba yang menempuh jalan ibadah dan penyucian jiwa hendaknya tidak mudah merasa puas dengan keadaan spiritual yang telah dicapainya. Sebab, perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan yang memiliki garis akhir sebagaimana perjalanan manusia di dunia. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari betapa luas rahmat, kebesaran, dan keagungan-Nya.
Terkadang, dalam perjalanan ibadahnya, seseorang mengalami keadaan spiritual yang luar biasa. Hatinya menjadi tenang, pikirannya jernih, doanya terasa lebih khusyuk, dan ia mulai memahami hikmah di balik berbagai peristiwa kehidupan. Bahkan, terkadang Allah membukakan kepadanya pemahaman tentang perkara-perkara yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.
Namun, semua pengalaman tersebut jangan sampai membuatnya merasa telah mencapai tujuan tertinggi. Jangan sampai ia menganggap bahwa dirinya telah menjadi orang istimewa, telah mencapai derajat kewalian, atau telah sampai pada maqam yang tidak lagi membutuhkan kesungguhan dalam beribadah. Justru ketika seseorang memperoleh pengalaman spiritual yang mendalam, semangat ibadahnya seharusnya semakin meningkat. Semakin dekat ia merasa kepada Allah, semakin besar pula rasa rendah hati, takut, cinta, dan kerinduannya kepada-Nya.
Inilah pesan penting dari hikmah Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari: jangan berhenti dalam perjalanan hanya karena telah merasakan sebagian keindahan yang ada di sepanjang jalan. Sebab, apa yang telah kita rasakan bukanlah tujuan akhir, melainkan karunia yang seharusnya mendorong kita untuk semakin mendekat kepada Allah Swt.
Dalam perjalanan spiritual, ada kalanya seseorang memperoleh berbagai pengalaman batin yang mengesankan. Ia merasakan ketenteraman yang luar biasa ketika berzikir, mendapatkan kemudahan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, merasakan kekhusyukan ketika salat, atau menemukan hikmah yang mendalam dari berbagai peristiwa kehidupan. Semua itu merupakan kenikmatan yang patut disyukuri. Akan tetapi, seorang salik tidak boleh menjadikan pengalaman spiritual tersebut sebagai tujuan utama.
Mengapa demikian? Karena yang dicari oleh seorang hamba bukanlah sekadar ketenangan hati, bukan pula pengalaman gaib, kemampuan memahami rahasia kehidupan, ataupun kedudukan spiritual di hadapan manusia. Tujuan sejatinya adalah memperoleh rida Allah Swt., mengenal-Nya dengan sebenar-benarnya penghambaan, serta senantiasa berada dalam ketaatan kepada-Nya.
Jangan sampai seseorang lebih mencintai kenikmatan beribadah daripada Allah yang memberikan kenikmatan tersebut. Jangan sampai ia lebih sibuk mengejar pengalaman spiritual daripada memperbaiki hubungan dengan Allah. Misalnya, seseorang merasa sangat bahagia ketika mendapatkan ketenangan dalam berzikir. Namun, ketika ketenangan itu tidak lagi dirasakannya, ia menjadi malas beribadah. Hal ini menunjukkan bahwa yang selama ini dikejarnya bukan semata-mata Allah, melainkan kenikmatan yang dirasakan ketika beribadah.
Padahal, seorang hamba yang benar-benar ikhlas akan tetap beribadah, baik ketika hatinya merasakan kenikmatan maupun ketika ia tidak merasakan apa-apa. Ia tetap bersujud meskipun air matanya tidak mengalir. Ia tetap berzikir meskipun hatinya belum sepenuhnya merasakan ketenteraman. Ia tetap taat karena Allah memang layak disembah, bukan semata-mata karena ingin memperoleh pengalaman batin tertentu.
Jangan jadikan kenikmatan ibadah sebagai tujuan, tetapi jadikanlah Allah sebagai tujuan. Sebab, kenikmatan bisa datang dan pergi, sedangkan penghambaan kepada Allah harus senantiasa hidup di dalam hati.
Dalam perjalanan menuju Allah, seseorang mungkin mengalami peningkatan kualitas ibadah dan kedalaman pemahaman agama. Ia semakin mampu mengendalikan hawa nafsu, semakin menjaga lisannya, semakin berhati-hati dalam bertindak, dan semakin menyadari kekurangan dirinya. Akan tetapi, peningkatan kualitas spiritual itu tidak boleh melahirkan kesombongan.
Salah satu penyakit paling berbahaya dalam perjalanan ibadah adalah merasa diri telah sampai pada kedudukan yang tinggi. Seseorang merasa ibadahnya sudah banyak, ilmunya sudah luas, dan pemahamannya sudah mendalam. Bahkan, ia mulai menganggap dirinya lebih dekat kepada Allah daripada orang lain. Padahal, semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, seharusnya semakin ia menyadari kecilnya dirinya.
Semakin dalam ilmunya, seharusnya semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Semakin tinggi kualitas ibadahnya, seharusnya semakin kuat pula kesadarannya bahwa semua kemampuan itu merupakan pertolongan dan karunia Allah. Orang yang benar-benar mengenal Allah tidak akan mudah membanggakan dirinya. Ia justru semakin sibuk memperbaiki kekurangan, memohon ampun atas dosa-dosanya, dan menjaga keikhlasan amalnya.
Inilah perbedaan antara orang yang benar-benar berjalan menuju Allah dan orang yang hanya merasa dirinya telah sampai. Orang yang benar-benar berjalan akan terus memperbaiki diri, sedangkan orang yang tertipu oleh dirinya sendiri akan merasa tidak perlu lagi memperbaiki apa pun.
Ada fenomena yang terkadang dijumpai dalam kehidupan masyarakat, yaitu seseorang yang memiliki kemampuan atau mengalami kejadian di luar kebiasaan manusia. Ia mungkin mampu melakukan sesuatu yang dianggap luar biasa, mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain, atau memperlihatkan berbagai pengalaman spiritual yang mengundang kekaguman. Namun, janganlah kita terburu-buru menganggap bahwa semua itu merupakan bukti ketinggian derajat seseorang di sisi Allah.
Perkara luar biasa tidak secara otomatis menunjukkan kedekatan seseorang kepada Allah. Sebab, ukuran kemuliaan seorang hamba bukanlah kehebatan yang diperlihatkannya, melainkan keimanan, ketakwaan, keikhlasan, dan istiqamahnya dalam menjalankan syariat.
Dikisahkan dalam nasihat para ulama tasawuf, apabila engkau melihat seseorang mampu terbang di udara atau berjalan di atas air, janganlah engkau langsung takjub kepadanya sebelum mengetahui bagaimana ketaatannya kepada Allah dan bagaimana kesungguhannya mengikuti tuntunan Rasulullah Saw. Pesan tersebut mengajarkan bahwa keistimewaan seorang hamba tidak diukur dari kemampuan yang mengundang kekaguman manusia, tetapi dari sejauh mana kehidupannya mencerminkan ketaatan kepada Allah.
Sebab, seseorang mungkin memiliki kemampuan yang luar biasa, tetapi jika ia meninggalkan kewajiban agama, meremehkan syariat, menyombongkan diri, dan mengikuti hawa nafsunya, kemampuan tersebut tidak dapat dijadikan ukuran kemuliaan spiritualnya. Karena itu, jangan mudah tertipu oleh penampilan kesalehan, cerita karomah, pengakuan sebagai wali, ataupun kemampuan yang dianggap di luar nalar. Perhatikanlah akhlaknya, ibadahnya, kejujurannya, kerendahan hatinya, dan kesesuaiannya dengan ajaran Rasulullah Saw.
Karomah yang sesungguhnya bukanlah sekadar kemampuan melakukan perkara luar biasa, melainkan kemampuan untuk tetap istiqamah dalam ketaatan kepada Allah.
Bagian berikutnya dari hikmah ini mengingatkan bahwa ketika berbagai keindahan dunia tampak di hadapan seorang hamba, ia harus mampu memahami hakikat di balik semuanya. Dunia memang diciptakan dengan berbagai keindahan. Ada harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, keluarga yang membahagiakan, pasangan yang dicintai, rumah yang megah, kendaraan yang mewah, dan berbagai kenikmatan lainnya.
Semua itu merupakan bagian dari karunia Allah Swt. yang boleh dinikmati dan disyukuri. Akan tetapi, semuanya juga dapat berubah menjadi ujian apabila membuat manusia lalai dari mengingat Allah. Harta, misalnya, pada awalnya dapat menjadi sarana untuk beribadah. Dengan harta, seseorang dapat bersedekah, membantu fakir miskin, membiayai pendidikan, membangun masjid, dan memberikan manfaat kepada sesama. Namun, ketika hati mulai diperbudak oleh harta, ia akan sibuk mengumpulkannya, takut kehilangan, dan lupa bahwa semua itu hanyalah titipan Allah.
Demikian pula jabatan. Jabatan seharusnya menjadi sarana untuk mengabdi dan memberikan kemaslahatan kepada masyarakat. Namun, ketika seseorang menjadikan jabatan sebagai tujuan hidup, ia bisa terjerumus dalam kesombongan, keserakahan, dan penyalahgunaan amanah. Begitu pula kecantikan, ketampanan, popularitas, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Semuanya dapat menjadi jalan menuju syukur, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi kelalaian dan kesombongan.
Oleh karena itu, ketika berbagai keindahan dunia hadir di hadapan kita, jangan hanya melihat keindahannya, tetapi lihatlah pula ujian yang tersembunyi di baliknya. Ingatlah firman Allah Swt. dalam Surah Al-Anfal ayat 28:
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28).
Ayat ini mengingatkan bahwa sesuatu yang paling kita cintai di dunia sekalipun dapat menjadi ujian bagi keimanan kita. Maka, jangan sampai sesuatu yang seharusnya menjadi sarana untuk mendekat kepada Allah justru berubah menjadi penghalang antara kita dan Allah.
Salah satu persoalan terbesar dalam kehidupan manusia bukanlah memiliki dunia, melainkan ketika dunia menguasai hati. Seseorang boleh memiliki harta yang banyak, tetapi jangan sampai hatinya diperbudak oleh harta. Seseorang boleh memiliki jabatan yang tinggi, tetapi jangan sampai jabatan membuatnya merasa lebih mulia daripada orang lain. Seseorang boleh menikmati kehidupan yang berkecukupan, tetapi jangan sampai kenikmatan itu menjadikannya lupa kepada Sang Pemberi nikmat.
Dalam pandangan tasawuf, dunia dapat menjadi hijab apabila hati terlalu bergantung kepadanya. Artinya, bukan keberadaan harta, jabatan, keluarga, dan kenikmatan dunia yang harus dihilangkan, melainkan ketergantungan hati yang berlebihan terhadap semua itu.
Sebab, seseorang bisa saja berada di tengah-tengah dunia, bekerja, berdagang, memimpin, dan mengurus keluarga, tetapi hatinya tetap tertuju kepada Allah. Sebaliknya, seseorang bisa saja hidup sederhana dan jauh dari kemewahan, tetapi hatinya tetap dipenuhi ambisi duniawi. Dengan demikian, persoalannya bukanlah seberapa banyak dunia berada dalam genggaman, melainkan seberapa besar dunia menguasai hati.
Jangan sampai ketika mendapatkan kekayaan, kita lupa bersyukur. Ketika mendapatkan jabatan, kita lupa bahwa semuanya adalah amanah. Ketika mendapatkan pujian, kita lupa bahwa segala kelebihan berasal dari Allah. Dan ketika memperoleh kenikmatan, kita justru semakin jauh dari-Nya. Inilah makna peringatan bahwa berbagai keindahan yang tampak di hadapan seorang salik adalah fitnah atau ujian. Semuanya harus disikapi dengan kesadaran iman agar tidak berubah menjadi sebab kelalaian.
Ada satu pelajaran penting yang harus kita renungkan: semakin banyak nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang, seharusnya semakin besar pula rasa syukur dan tanggung jawabnya. Jika Allah memberikan harta, gunakanlah untuk kebaikan. Jika Allah memberikan ilmu, ajarkanlah kepada orang lain. Jika Allah memberikan jabatan, gunakanlah untuk menegakkan keadilan. Jika Allah memberikan kekuatan, gunakanlah untuk menolong yang lemah. Jika Allah memberikan ketenangan batin, jadikanlah ketenangan itu sebagai sarana untuk semakin dekat kepada-Nya.
Jangan sampai nikmat justru melahirkan kelalaian. Orang yang bersyukur bukan hanya orang yang mengucapkan alhamdulillah ketika mendapatkan kenikmatan, melainkan orang yang menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah. Inilah hakikat syukur yang sesungguhnya: hati mengakui bahwa nikmat berasal dari Allah, lisan memuji-Nya, dan anggota badan menggunakan nikmat tersebut untuk melakukan ketaatan.
Dengan demikian, dunia tidak lagi menjadi penghalang perjalanan spiritual, tetapi menjadi sarana untuk semakin mendekat kepada Allah Swt.
Saudaraku, perjalanan menuju Allah adalah perjalanan yang membutuhkan kesungguhan, keikhlasan, dan istiqamah. Jangan pernah merasa cukup dengan amal yang telah dilakukan. Jangan merasa tinggi karena ilmu yang telah dimiliki. Jangan merasa istimewa karena pengalaman spiritual yang pernah dirasakan. Sebab, selama kita masih hidup, kewajiban untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik tidak pernah berakhir.
Jangan pula mudah terpesona oleh berbagai keindahan dunia. Harta, jabatan, kecantikan, popularitas, dan kenikmatan lainnya hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh pemiliknya. Jangan sampai kita begitu sibuk menikmati pemberian-Nya, tetapi melupakan Sang Pemberi nikmat.
Ada kalanya Allah memberikan kenikmatan untuk menguji rasa syukur kita. Ada kalanya Allah memberikan kelapangan untuk menguji ketulusan kita. Bahkan, ada kalanya Allah membukakan pengalaman spiritual agar kita semakin menyadari kebesaran-Nya, bukan agar kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Maka, tetaplah berjalan menuju Allah, meskipun perjalanan itu terasa panjang. Tetaplah beribadah, meskipun terkadang hati belum merasakan kenikmatannya. Tetaplah rendah hati, meskipun Allah memberikan berbagai kelebihan. Dan tetaplah waspada, meskipun dunia sedang memperlihatkan segala keindahannya.
Jangan berhenti karena merasa telah sampai. Jangan sombong karena merasa telah memiliki keistimewaan. Jangan terlena karena dunia sedang memberikan kenikmatan. Sebab, tujuan seorang hamba bukanlah mendapatkan sesuatu dari Allah semata, melainkan senantiasa menjadi hamba yang taat, ikhlas, dan mengharapkan rida-Nya.
Jangan sampai kita begitu terpesona oleh keindahan perjalanan hingga lupa kepada tujuan yang sesungguhnya. Jangan sampai kita begitu mencintai pemberian-Nya hingga melupakan Sang Pemberi. Dan jangan sampai kita merasa telah dekat kepada Allah, padahal hati kita masih dipenuhi kesombongan dan ketergantungan kepada selain-Nya.





Comment