لَا تَطْلُبْ مِنْهُ أَنْ يُخْرِجَكَ مِنْ حَالَةٍ لِيَسْتَعْمِلَكَ فِيْمَا سِوَاهَا، فَلَوْ أَرَادَكَ لَاسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ إِخْرَاجٍ
“Janganlah engkau meminta kepada Allah agar Dia mengeluarkanmu dari suatu keadaan untuk menempatkanmu dalam keadaan yang lain. Sebab, jika Allah menghendaki, Dia akan menempatkanmu dalam keadaan yang baru tanpa harus mengeluarkanmu dari keadaan yang sedang engkau jalani.”
Salah satu bentuk kedewasaan spiritual seorang hamba adalah kemampuannya menerima keadaan yang sedang Allah tetapkan untuk dirinya. Terkadang, seseorang merasa bahwa keadaan yang sedang dijalaninya belum cukup baik. Ia ingin segera berpindah menuju keadaan yang lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih dekat kepada Allah Swt. Ia merasa bahwa kedudukannya sekarang masih rendah sehingga terus memohon agar Allah mengeluarkannya dari keadaan tersebut.
Padahal, belum tentu keadaan yang sedang dijalani itu merupakan sesuatu yang buruk. Bisa jadi, justru di situlah Allah sedang mendidik jiwanya, membersihkan hatinya, menguatkan keimanannya, dan mempersiapkannya untuk menerima karunia yang lebih besar. Karena itu, janganlah seorang hamba tergesa-gesa meminta agar Allah mengeluarkannya dari suatu keadaan yang tidak bertentangan dengan syariat. Jangan sampai karena terlalu menginginkan keadaan yang lebih tinggi, ia justru tidak mampu mensyukuri keadaan baik yang telah Allah anugerahkan kepadanya.
Misalnya, seseorang sedang berada dalam keadaan sabar menghadapi berbagai ujian kehidupan. Kemudian, ia ingin segera mencapai maqam syukur. Keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih bersyukur tentu merupakan sesuatu yang baik. Namun, bukan berarti ia harus meminta agar Allah mengeluarkannya dari maqam sabar demi mendapatkan maqam syukur.
Sebab, sabar dan syukur bukanlah dua keadaan yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan dalam kehidupan seorang mukmin. Seseorang dapat bersabar ketika menghadapi kesulitan sekaligus bersyukur atas nikmat Allah yang masih dimilikinya. Bahkan, ketika memperoleh kenikmatan, ia tetap membutuhkan kesabaran agar tidak terjerumus dalam kesombongan, kelalaian, dan kemaksiatan. Dengan demikian, seorang hamba tidak harus meninggalkan satu kebaikan untuk memperoleh kebaikan yang lain. Allah Mahakuasa mengumpulkan berbagai sifat terpuji dalam diri seseorang tanpa harus menghilangkan sifat baik yang telah ada sebelumnya.
Dalam perjalanan menuju Allah Swt., terdapat berbagai maqam atau tingkatan spiritual yang dapat ditempuh seorang hamba. Di antaranya adalah taubat, sabar, syukur, tawakal, ridha, ikhlas, dan mahabbah. Setiap maqam memiliki keutamaan dan pelajaran tersendiri. Taubat mengajarkan seseorang untuk kembali kepada Allah. Sabar mengajarkan keteguhan dalam menghadapi ujian. Syukur mengajarkan pengakuan atas segala nikmat-Nya. Tawakal mengajarkan penyerahan diri setelah melakukan ikhtiar. Sementara ridha mengajarkan kelapangan hati dalam menerima ketetapan-Nya.
Namun, janganlah memahami tingkatan-tingkatan tersebut sebagai keadaan yang harus selalu ditinggalkan satu demi satu. Bukan berarti ketika seseorang telah mencapai syukur, ia tidak lagi membutuhkan kesabaran. Bukan pula ketika seseorang telah bertawakal, ia tidak lagi memerlukan ikhtiar dan doa. Justru semakin tinggi perjalanan spiritual seseorang, semakin banyak sifat terpuji yang seharusnya menghiasi kehidupannya.
Orang yang benar-benar bersyukur tidak akan kehilangan kesabarannya. Orang yang benar-benar bertawakal tidak akan meninggalkan ikhtiarnya. Orang yang ridha terhadap ketentuan Allah tidak akan berhenti berdoa dan berharap kepada-Nya. Inilah keindahan perjalanan menuju Allah. Setiap kebaikan bukan untuk menghapus kebaikan sebelumnya, melainkan untuk menyempurnakannya.
Oleh sebab itu, janganlah terlalu sibuk mengejar maqam yang lebih tinggi sampai melupakan maqam kebaikan yang sedang Allah anugerahkan. Bisa jadi, sesuatu yang selama ini engkau anggap sebagai keadaan biasa justru merupakan tempat terbaik bagi pendidikan ruhanimu.
Hikmah ini mengajarkan bahwa kekuasaan Allah Swt. tidak terbatas oleh ukuran dan perkiraan manusia. Apabila Allah menghendaki seorang hamba memperoleh keadaan yang lebih baik, Dia tidak harus terlebih dahulu menghilangkan keadaan baik yang telah dimiliki hamba tersebut. Allah mampu menjadikan seseorang tetap sabar sekaligus bersyukur, tetap tawakal sekaligus berikhtiar, tetap rendah hati sekaligus memiliki kedudukan yang tinggi, serta tetap sederhana sekalipun dianugerahi kekayaan.
Manusia sering kali berpikir secara terbatas. Ketika ingin memperoleh sesuatu yang baru, ia merasa harus kehilangan sesuatu yang lama. Ketika ingin menjadi orang yang lebih sabar, ia mengira harus meninggalkan keadaan bahagia. Ketika ingin menjadi orang yang bersyukur, ia mengira harus keluar dari keadaan sabar. Padahal, keterbatasan itu ada pada cara pandang manusia, bukan pada kekuasaan Allah.
Allah dapat mengumpulkan berbagai kebaikan dalam diri seorang hamba. Dia dapat memperluas keberkahan hidup seseorang tanpa harus mencabut nikmat yang telah diberikan kepadanya. Karena itu, janganlah membatasi kemurahan Allah dengan pikiran dan keinginan kita sendiri. Jangan pula merasa bahwa untuk memperoleh karunia yang lebih tinggi, kita harus kehilangan karunia yang sekarang sedang kita nikmati. Mintalah tambahan kebaikan kepada Allah, tetapi jangan lupa mensyukuri kebaikan yang telah diberikan-Nya.
Hikmah ini bukan berarti seorang hamba dilarang berdoa agar kehidupannya berubah menjadi lebih baik. Bukan pula larangan untuk memohon peningkatan derajat, kemudahan rezeki, kesehatan, ilmu, maupun kedekatan kepada Allah Swt. Seorang muslim tetap diperintahkan untuk berdoa, berusaha, dan mengharapkan karunia Allah. Namun, yang perlu diluruskan adalah sikap hati ketika berdoa. Jangan sampai keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik membuat kita tidak menerima dan tidak mensyukuri keadaan yang sekarang.
Ada perbedaan antara memohon tambahan nikmat dan merasa tidak puas terhadap nikmat yang telah Allah berikan. Memohon tambahan nikmat merupakan bentuk harapan dan penghambaan kepada Allah. Sebaliknya, tidak mensyukuri keadaan sekarang dapat menjadi tanda bahwa hati terlalu dikuasai oleh keinginan dan ambisi duniawi.
Misalnya, seseorang telah memiliki pekerjaan yang halal, keluarga yang baik, kesehatan, dan kecukupan hidup. Namun, karena melihat kehidupan orang lain yang dianggap lebih baik, ia terus merasa kekurangan. Ia lupa bahwa apa yang dimilikinya hari ini merupakan karunia yang mungkin sangat diharapkan oleh orang lain. Padahal, kebahagiaan bukan semata-mata terletak pada banyaknya sesuatu yang dimiliki, melainkan pada kemampuan hati mengenali dan mensyukuri pemberian Allah.
Oleh karena itu, jadikanlah doa sebagai jalan untuk memohon tambahan kebaikan, bukan sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap ketetapan Allah. Kita boleh berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tetapi jangan sampai harapan itu membuat kita kehilangan rasa syukur terhadap kehidupan yang sedang dijalani.
Terkadang, manusia terlalu sibuk memikirkan keadaan yang belum dimilikinya sehingga lupa menikmati dan mensyukuri keadaan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Ia ingin segera kaya, tetapi lupa bersyukur atas rezeki yang sekarang diterimanya. Ia ingin segera memperoleh kedudukan, tetapi lupa menjalankan amanah pada kedudukannya saat ini. Ia ingin segera mencapai derajat spiritual yang tinggi, tetapi melupakan kewajiban dan kebaikan sederhana yang ada di hadapannya. Padahal, boleh jadi, jalan menuju kedekatan kepada Allah bukan terletak pada perpindahan keadaan, melainkan pada kesungguhan menjalani keadaan yang sekarang dengan penuh keimanan dan keikhlasan.
Bukan berarti kita harus berhenti berusaha memperbaiki diri. Akan tetapi, jangan sampai keinginan untuk menjadi lebih baik justru membuat kita mengabaikan kebaikan yang telah ada. Sebab, Allah tidak hanya menilai hasil akhir perjalanan seorang hamba, tetapi juga kesungguhan, keikhlasan, dan ketaatannya dalam menjalani setiap tahapan kehidupan. Bisa jadi, seseorang yang terlihat sederhana di mata manusia justru memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah karena mampu menjalani kehidupannya dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur.
Saudaraku, hikmah ini mengajarkan kepada kita bahwa perjalanan menuju Allah bukanlah perlombaan untuk segera meninggalkan satu keadaan demi keadaan yang lain. Perjalanan spiritual adalah proses memperindah hati dengan berbagai sifat terpuji, sesuai dengan keadaan dan ketentuan yang Allah berikan.
Jika hari ini Allah menempatkanmu dalam keadaan sabar, jalanilah dengan penuh kesungguhan. Jika Allah memberimu kenikmatan, sambutlah dengan rasa syukur. Jika Allah memberimu kelapangan, janganlah menjadi sombong. Jika Allah memberimu kesempitan, janganlah berputus asa. Sebab, dalam setiap keadaan selalu ada kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Janganlah engkau terlalu sibuk meminta keadaan yang belum Allah berikan hingga melupakan nikmat yang sudah berada dalam genggamanmu. Jangan pula menganggap bahwa kebahagiaan dan kemuliaan hanya akan datang setelah engkau meninggalkan keadaanmu sekarang. Bisa jadi, justru di tempat engkau berdiri hari ini, Allah sedang membangun kemuliaan hatimu. Bisa jadi, melalui kesabaran yang sedang engkau jalani, Allah sedang mengajarkan arti syukur. Melalui kesulitan, Allah sedang menumbuhkan tawakal. Dan melalui kenikmatan, Allah sedang menguji keikhlasanmu.
Jangan hanya meminta agar Allah mengubah keadaanmu, tetapi mintalah agar Allah memperbaiki hatimu dalam setiap keadaan. Sebab, yang terpenting bukanlah seberapa tinggi kedudukanmu di mata manusia, melainkan seberapa dekat hatimu kepada Allah Swt. Tidak semua perubahan harus dimulai dengan meninggalkan keadaan yang lama. Terkadang, Allah justru meninggikan derajat seorang hamba dengan menyempurnakan kebaikan yang telah ada dalam dirinya.





Comment