Keeping the Bond of Silaturahmi Alive: Cultivating Virtue After Halal Bihalal

lenterareligi.com_Halal Bihalal boleh berakhir hari ini, namun jalinan kasih harus tetap abadi. Mari kita bawa semangat ini ke dalam hari-hari setelahnya. Tetaplah menjadi pribadi pemaaf, karena di sanalah letak kemuliaan sejati yang takkan lekang oleh waktu.

Hal ini menyadarkan kita bahwa Halal Bihalal bukanlah sekadar seremonial tahunan, melainkan sebuah “madrasah” singkat untuk melatih kelapangan hati. Tantangan sesungguhnya bukanlah saat kita saling berjabat tangan hari ini, melainkan bagaimana kita menjaga konsistensi sikap pemaaf tersebut dalam interaksi sehari-hari di masa depan.

Islam memandang jalinan kasih antar sesama sebagai hal yang sangat prinsipil. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an mengenai pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan dan kasih sayang:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ( QS. An-Nisa’ ayat 1)

Ayat ini menegaskan bahwa ketakwaan kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari kewajiban menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (Hablum minannas).

Menjadi pribadi pemaaf adalah investasi kemuliaan yang abadi. Allah SWT menjanjikan ampunan-Nya bagi mereka yang mau memaafkan kesalahan orang lain:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur ayat 22)

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa sifat pemaaf justru akan meningkatkan derajat seseorang, bukan merendahkannya:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba karena pemberian maafnya kecuali kemuliaan (Izzah), dan tidaklah seseorang bersifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”(HR. Muslim, No. 2588. Imam At-Tirmidzi, No. 2029 dan Imam Ahmad, No. 7205).

Mengapa semangat ini harus dibawa ke “hari-hari setelahnya”? Karena kemuliaan sejati terletak pada Istiqomah (konsistensi). Halal Bihalal adalah momentum recharge energi spiritual. Jika setelah ini kita kembali menjadi pribadi yang pendendam atau tertutup, maka esensi dari “kembali fitrah” belum sepenuhnya kita raih.

Menjaga jalinan kasih agar tetap abadi berarti:

  • Membuka ruang dialog saat terjadi selisih paham.
  • Mendoakan kebaikan bagi saudara kita meskipun tanpa sepengetahuan mereka.
  • Menjaga lisan dari ghibah yang dapat merusak rajutan silaturahmi yang telah dibangun.

Semoga semangat ini menjadi jangkar bagi hati kita. Menjadi pemaaf memang tidak selalu mudah, namun ia adalah jalan pintas menuju ketenangan batin dan kemuliaan di hadapan Sang Khalik (Allah). Mari kita jadikan setiap hari sebagai hari untuk memaafkan, agar kasih sayang senantiasa bertahta di hati kita selamanya.

Revrensi

QS. An-Nisa’ [4]: 1. Tafsir Al-Wajiz mengartikan Al-Arham sebagai hubungan kekerabatan yang wajib disambung.

QS. An-Nur [24]: 22. Ayat ini turun berkaitan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA yang diminta Allah untuk tetap memberi bantuan dan memaafkan orang yang pernah memfitnah putrinya, Aisyah RA.

HR. Muslim no. 2588. Hadis ini menegaskan bahwa Izzah (harga diri/kemuliaan) justru didapat melalui pemberian maaf, bukan sebaliknya

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment