تَقْدِيمُ حُقُوقِ اللهِ وَتَجَاوُزُ الحُظُوظِ النَّفْسِيَّةِ
Mutiara hikmah dari kitab al-Hikam karya Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari
المُؤْمِنُ يَشْغَلُهُ الثَّنَاءُ عَلَى اللهِ عَنْ أَنْ يَكُونَ لِنَفْسِهِ شَاكِراً، وَتَشْغَلُهُ حُقُوقُ اللهِ عَنْ أَنْ يَكُونَ لِحُظُوظِهِ ذَاكِراً
Seorang mukmin sejati terserap kesadarannya dalam memuji Allah sehingga ia lupa memuji pencapaian dirinya sendiri. Ia tenggelam dalam menunaikan kewajiban (hak-hak Allah) sehingga ia tak lagi sempat menghitung-hitung keuntungan atau keinginan pribadinya.
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)
Menurut Imam Al-Wahidi dalam Asbabun Nuzul, ayat ini turun berkaitan dengan perilaku kaum musyrikin Mekah yang mengakui Allah sebagai pemberi nikmat saat lapang, namun menyekutukan-Nya saat sempit.
Bagi kaum muhibbin (pencinta), ayat ini adalah dasar Fana’ al-Fi’li (leburnya kesadaran atas perbuatan diri). Jika semua nikmat dari Allah, maka memuji diri sendiri adalah sebuah bentuk “pencurian” terhadap hak puji yang hanya milik Allah.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: مَنْ شَغَلَهُ القُرْآنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ.
“Rasulullah SAW bersabda: Allah (Tuhan) yang Maha Pemberi Berkah dan Maha Tinggi berfirman: ‘Barangsiapa yang disibukkan oleh Al-Qur’an dan dzikir kepada-Ku sehingga tidak sempat meminta (berdoa) kepada-Ku, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.”
Hadis ini muncul sebagai jawaban dan motivasi bagi para sahabat yang sangat tekun berinteraksi dengan wahyu (Al-Qur’an) hingga mereka tidak sempat memanjatkan doa-doa hajat pribadi. Rasulullah SAW menegaskan bahwa Allah menjamin kecukupan bagi mereka yang mendahulukan hak Allah di atas keinginan pribadi.
Ibnu ‘Atha’illah al-Iskandari (W. 709 H)
Dalam kitab aslinya, beliau menekankan konsep Al-Ghaflah ‘an al-Khalq (Lupa pada makhluk, termasuk diri sendiri). Beliau berpendapat bahwa syukur yang hakiki bukan hanya mengucap “Alhamdulillah”, melainkan sirnanya pandangan terhadap kemampuan diri saat menerima nikmat. “Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah namun masih melihat dirinya sebagai pelaku syukur, maka syukurnya masih membutuhkan syukur yang lain (istighfar).” ¹
Imam Al-Ghazali (W. 505 H)
Dalam Ihya’ Ulumuddin, beliau menjelaskan bahwa kesibukan batin dalam Musyahadah (menyaksikan keagungan Tuhan) secara otomatis akan menghentikan syahwat nafsu. “Hati itu ibarat wadah; jika ia dipenuhi dengan keagungan Allah (pujian), maka tak ada ruang lagi bagi keagungan diri.” ²
Syekh Abdul Qadir al-Jailani (W. 561 H)
Sultanul Auliya’ menjelaskan dalam Futuhul Ghaib bahwa seorang hamba tidak akan mencapai derajat Wushul (sampai ke hadirat Allah) selama ia masih mengingat “bagian/jatah” pribadinya (Huzhuzh al-Nafs). “Janganlah kamu menjadi hamba yang menyembah-Nya karena upah (bagian nafsu), tetapi sembahlah Ia karena hak-Nya sebagai Tuhan.” ³
Syekh Said Ramadhan Al-Buthi dalam syarahnya terhadap al-Hikam menjelaskan bahwa hikmah ini adalah kritik terhadap Ananiyah (egoisme). Di era modern, manusia sering terjebak dalam pencitraan (self-praise). Hikmah ini menuntun manusia untuk melakukan self-transcendence melampaui ego menuju pengabdian murni.⁴
Referensi
(1) Ibnu ‘Atha’illah al-Iskandari, Matan al-Hikam, dalam Syekh Ahmad Zarruq, Syarah al-Hikam al-Atha’iyah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010), Jilid 1, hlm. 182. (2) Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, (Mesir: Dar al-Hadits, 2004), Jilid 4, Kitab al-Syukr, hlm. 95. (3) Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Futuh al-Ghaib, (Damaskus: Dar al-Khair, 1996), Risalah ke-7: Fi al-Khuruj ‘an al-Nafs, hlm. 42. (4) Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Al-Hikam al-Atha’iyah: Syarh wa Tahlil, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2003), Jilid 2, hlm. 56. (5) Imam At-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi), Jilid 5, Kitab Thawab al-Qur’an, Hadis No. 2926, hlm. 184.





Comment