Reconstructing the Epistemology of Tawhid in Kitab al-Hikam, Deconstructing Human Ego and the Epistemic Dualism of Divine Testimony

إِعَادَةُ بِنَاءِ إِبْسْتِمُولُوجِيَّةِ التَّوْحِيدِ فِي كِتَابِ الْحِكَمِ: تَفْكِيكُ الْأَنَا الْبَشَرِيَّةِ وَالثُّنَائِيَّةِ الْمَعْرِفِيَّةِ لِلشَّهَادَةِ الْأَزَلِيَّةِ

Mutiara hikmah dari kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ قَبْلَ أَنْ يَسْتَشْهِدَ خَلْقَهُ، فَنَطَقَتْ بِإِلَهِيَّتِهِ الظَّوَاهِرُ، وَتَحَقَّقَتْ بِأَحَدِيَّتِهِ الْقُلُوبُ وَالسَّرَائِرُ.

“Allah telah bersaksi (akan keesaan-Nya) sebelum Dia meminta makhluk-Nya bersaksi, sehingga segala hal yang tampak (alam semesta) berbicara tentang uluhiyah-Nya, dan seluruh hati serta relung batin meyakini ahadiyah (keesaan)-Nya.”[1]

Firman Allah SWT dalam Surah Ali ‘Imran ayat 18:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[2]

Ayat lain dalam Surah Al-A’raf ayat 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’.”[3]

Imam Al-Wahidi dalam Asbab al-Nuzul menceritakan riwayat dari Al-Kalbi dari Abu Saleh dari Ibnu Abbas: “Dua orang pendeta Yahudi dari Syam datang ke Madinah. Ketika mereka melihat kota Madinah, salah satunya berkata, ‘Betapa miripnya kota ini dengan sifat kota nabi yang akan keluar di akhir zaman.’ Ketika mereka masuk menemui Rasulullah SAW, mereka mengenali sifat-sifat kenabian beliau. Mereka bertanya, ‘Apakah engkau Muhammad?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Mereka bertanya lagi, ‘Apakah engkau Ahmad?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Mereka berkata, ‘Kami akan menanyakanmu tentang satu kesaksian yang paling agung dalam Kitab Allah. Jika engkau mengabarkannya, kami akan beriman.’ Maka Allah SWT menurunkan ayat ini kepada Nabi-Nya: ‘Shahidallahu annahu la ilaha illa huwa…’ Kedua pendeta itu pun langsung memeluk Islam.”[4]

Kesaksian Allah atas diri-Nya sebelum makhluk ada dipertegas oleh hadis shahih riwayat Imam Al-Bukhari:

كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ، وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ

“Allah telah ada dan belum ada sesuatu pun sebelum-Nya, dan Arsy-Nya berada di atas air, dan Dia menuliskan di dalam Adz-Dzikr (Lauh Mahfuzh) segala sesuatu, dan Dia menciptakan langit dan bumi.”[5]

Mengenai kesaksian ruh (perjanjian primordial), Rasulullah SAW bersabda dalam Shahih Muslim:

النَّفَسُ كُلُّهَا بِيَدِ اللهِ، إِنَّ اللهَ أَخَذَ الْمِيثَاقَ مِنْ ظَهْرِ آدَمَ بِنَعْمَانَ -يَعْنِي عَرَفَةَ- فَأَخْرَجَ مِنْ صُلْبِهِ كُلَّ ذُرِّيَّةٍ ذَرَأَهَا…

“Sesungguhnya Allah mengambil perjanjian yang teguh (Milaq) dari sulbi Adam di Na’man (yaitu Arafah), maka Allah mengeluarkan dari sulbinya seluruh keturunan yang akan diciptakan-Nya hingga hari kiamat…”[6]

Asbabul wurud dari hadis Al-Bukhari di atas (“Kanal-lahu wa lam yakun syai’un qablahu”) adalah kedatangan rombongan penduduk Yaman (Wafd Ahli al-Yaman) kepada Rasulullah SAW. Mereka berkata: “Kami datang kepadamu wahai Rasulullah, untuk belajar urusan agama dan untuk bertanya kepadamu tentang awal mula dari urusan (penciptaan) alam ini.” Maka Rasulullah SAW menjawab dengan menjelaskan kemutlakan wujud Allah sebelum segala sesuatu ada[7].

Syekh Ibnu ‘Ajibah (Ulama Thariqah Syadziliyah)

Dalam kitab Iqadz al-Himam, beliau menjelaskan: “Allah SWT Maha Esa dalam keazalian-Nya. Dia telah bersaksi atas keesaan dan ke-Tuhanan-Nya sendiri di dalam azali, ketika belum ada makhluk yang melihat-Nya. Kesaksian makhluk-Nya tidak menambah apa pun pada keagungan-Nya. Ketika Dia menciptakan alam semesta (al-zhawahir), alam itu tidak bisa mengelak untuk membenarkan ketuhanan-Nya melalui keteraturan fungsinya. Dan ketika Dia menciptakan hati orang-orang arif (al-sarair), hati itu dipenuhi dengan pancaran cahaya tauhid dzat (ahadiyah).”[8]

Syekh Al-Syarnubi

Beliau menambahkan bahwa kesaksian manusia di alam dunia ini sebenarnya hanyalah replika atau pengingat dari kesaksian hakiki yang telah dilakukan Allah di alam azali. Manusia tidak menciptakan kesaksian, mereka hanya menemukan kembali kesaksian yang tertanam di dalam fitrahnya[9].

Novelty (kebaruan) dari hikmah Ibnu Atha’illah ini terletak pada rekonstruksi epistemologi tauhid melalui dua aspek utama: pertama, dekonstruksi ego manusia (decentering human agency) yang membalik logika umum dengan menegaskan bahwa keimanan dan kesaksian manusia bukanlah sebab, melainkan akibat dari kesaksian Allah yang telah mendahului mereka di alam azali; kedua, dualisme epistemik yang membedakan respons makhluk, di mana dimensi lahiriah (al-zhawahir atau alam fisik) tunduk secara mekanis pada regulasi Uluhiyah, sedangkan dimensi batiniah (al-sarair atau relung hati) tunduk secara makrifat menyelami esensi Ahadiyah.

Referensi

[1]: Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Al-Hikam, Mesir: Dar al-Ma’arif, t.th., hlm. 45. [2] Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran [3]: Ayat 18. [3] Al-Qur’an, Surah Al-A’raf [7]: Ayat 172. [4] Abu al-Hasan al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1991, hlm. 98.

[5] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Bad’ul Khalqi, Bab Ma Ja’a fi Qaulillahi Ta’ala wahuwal ladzi yabda’ul khalqa, Beirut: Dar Thauq al-Najah, 1422 H, Juz 4, No. Hadis 3191, hlm. 106. [6] Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim, Kitab Sifat al-Qiyamah wa al-Jannah wa al-Nar, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, t.th., Juz 4, No. Hadis 2814, hlm. 2149. [7] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H, Juz 6, hlm. 289. [8]: Ibnu ‘Ajibah al-Hasani, Iqadz al-Himam fi Syarh al-Hikam, Kairo: Dar al-Ma’arif, t.th., hlm. 112-113. [9] Ahmad bin Ibrahim al-Syarnubi, Syarh al-Hikam al-Atha’illah, Surakarta: Al-Qari’, 2002, hlm. 56.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment