The Art of Embracing Destiny: Finding God in Labor and Stillness

فَنُّ اسْتِقْبَالِ الْقَدَرِ: وِجْدَانُ اللهِ فِي الْعَمَلِ وَالسُّكُونِ

Seorang hamba sering kali terjebak dalam keinginan untuk mengubah keadaannya demi mengejar kedekatan dengan Allah SWT. Syekh Ibnu Atha’illah memberikan panduan tentang cara mengenali di mana Allah menempatkan kita.

إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ. وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ انْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

“Keinginanmu untuk tajrid (fokus ibadah tanpa bekerja) padahal Allah masih menempatkanmu pada asbab (mencari nafkah) adalah syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada tajrid adalah suatu kejatuhan dari semangat yang luhur.” [1]

Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk bergerak di muka bumi, namun tetap mengaitkan segalanya dengan kehendak-Nya:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah…” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Ayat ini turun berkaitan dengan kebiasaan para sahabat yang meninggalkan khutbah Jumat demi menyambut kafilah dagang yang baru datang. Allah mendidik mereka bahwa ada waktu untuk tajrid (shalat) dan ada waktu untuk asbab (berdagang), dan keduanya harus dijalankan sesuai porsinya dengan ingat/Zikir kepada Allah. [2]

Rasulullah SAW menekankan pentingnya tangan yang bekerja sebagai bagian dari kemuliaan hamba:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Hadis ini disampaikan untuk memberikan motivasi kepada para sahabat agar tidak menggantungkan hidup pada pemberian orang lain (meminta-minta) atas nama zuhud atau ibadah. Kemandirian ekonomi merupakan bagian dari muruah (harga diri) seorang mukmin. [3]

Imam Al-Ghazali (Hujjatul Islam)

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali membagi manusia dalam hal rezeki menjadi beberapa tingkatan. Beliau berpendapat bahwa:

Bagi orang awam, bekerja (asbab) adalah kewajiban untuk menjaga kemuliaan diri dan menafkahi keluarga. Meninggalkan kerja saat tanggung jawab masih ada justru merupakan dosa, bukan zuhud.

Beliau menekankan bahwa Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan hati yang tenang kepada Allah saat anggota tubuh sibuk bekerja. Jika seseorang meninggalkan kerja namun hatinya tetap cemas akan rezeki, maka ia belum mencapai maqam tajrid yang sesungguhnya. [4]

Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari (Penulis Al-Hikam)

Ibnu Atha’illah menjelaskan bahwa indikasi Allah menempatkan seseorang pada suatu maqam adalah melalui istiqamah dan hasil:

Tanda Maqam Asbab: Jika seseorang menempuh jalan usaha (bekerja), urusan agamanya terjaga, nafkahnya tercukupi, dan ia bisa bersyukur, maka itulah tempatnya. Keinginan berhenti kerja hanya karena ingin terlihat “saleh” disebut Syahwat Khafiyyah (keinginan nafsu yang halus), karena mungkin ia hanya ingin lari dari lelahnya bekerja.

Tanda Maqam Tajrid: Jika seseorang tanpa mencari kerja tetap tercukupi kebutuhannya melalui jalan yang tidak disangka-sangka, dan ia semakin khusyuk beribadah, maka itulah tempatnya. Ingin kembali bekerja di posisi ini disebut Kejatuhan Semangat, karena ia memilih “pelayan” (dunia) daripada “Majikan” (Allah). [5]

Syekh Ahmad Zarruq (Syarah Al-Hikam)

Beliau menjelaskan bahwa tanda seseorang berada di Maqam Asbab adalah apabila ia bekerja, urusan dunianya tertata, nafkah keluarganya terpenuhi, dan ibadahnya tidak terganggu. Jika ia memaksa tajrid, ia terjatuh dalam Syahwat Khafiyyah (keinginan nafsu yang halus) karena mungkin ia hanya ingin lari dari beban tanggung jawab sosial. [6]

Syekh Ibnu Ajibah (Iqazhul Himam)

Beliau mendefinisikan Maqam Tajrid sebagai kedudukan di mana Allah mencukupkan kebutuhan seseorang tanpa ia harus bekerja keras, dan hatinya tenang dalam berzikir. Jika orang di maqam ini ingin kembali ke dunia (asbab), ia dianggap mengalami Inkhithath (penurunan derajat batin) karena ia meninggalkan fokus kepada Sang Pencipta hanya untuk menyibukkan diri dengan ciptaan-Nya. [7]

Imam Al-Junayd al-Baghdadi

Pemimpin kaum sufi ini menekankan bahwa tasawuf bukanlah tentang “apa yang kamu lakukan” (bekerja atau diam), melainkan tentang “di mana hatimu berada”. Seseorang bisa berada di pasar namun hatinya tajrid, atau seseorang berada di masjid namun hatinya sibuk dengan asbab. [^6]

Sintesis: Memahami Kedudukan Diri

Hikmah ini mengajarkan kita untuk bersyukur dan rida dengan ketetapan Allah saat ini:

Jika Anda Pekerja: Jangan merasa ibadah Anda kurang karena harus bekerja. Pekerjaan Anda adalah ibadah jika diniatkan untuk menafkahi keluarga dan menjaga kemuliaan diri.

Jika Anda Fokus Beribadah: (Misalnya penuntut ilmu atau orang yang sudah purnatugas), jangan lagi menyibukkan diri dengan ambisi duniawi yang bisa menjauhkan hati dari Allah.

Tetaplah di tempat Allah menempatkanmu sampai Allah sendiri yang memindahkanmu melalui tanda-tanda yang nyata.”

Referensi

[1]: Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Kitab Al-Hikam, (Kairo: Dar al-Ma’arif), hal. 4. [2]: Jalaluddin as-Suyuthi, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, (Kairo: Dar al-Fajr), hal. 182. [3]: Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab al-Buyu’, No. 2072. [4]: Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid IV, Bab At-Tawakkul, (Beirut: Darul Fikr), hal. 260. [5]: Syekh Ibnu Atha’illah, Lathaif al-Minan, (Kairo: Maktabah al-Anjalu), hal. 88. [6]: Ahmad Zarruq, Syarah Al-Hikam, (Surabaya: Al-Haramain), hal. 11. [5]: Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarh al-Hikam, (Libanon: Dar al-Fikr), hal. 31-32. [7]: Abu Nu’aym al-Ashfahani, Hilyat al-Awliya’, Jilid 10, (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi), hal. 255.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment