​Why Are We Exhausted? The Secret of ‘Resting’ from Future Anxiety

​لماذا نحن متعبون؟ سر “الراحة” من قلق المستقبل

Hikmah ke-3 dari mahakarya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari (1259–1309 M), seorang mursyid agung dari Thariqah Syadziliyah, mengatakan :

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

“Istirahatkan dirimu dari tadbir (lelahnya ikut mengatur urusan). Apa yang sudah dijamin oleh selainmu (Allah) untuk kepentinganmu, janganlah engkau sibuk ikut campur mengurusinya.” [1]

Sifat tadbir yang tercela sering kali muncul dari kekhawatiran berlebih terhadap masa depan. Allah SWT menegaskan kepastian jaminan-Nya:

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…” (QS. Hud: 6)

Secara kontekstual, ayat ini turun untuk menguatkan hati kaum mukminin di Makkah yang kala itu mengalami tekanan ekonomi dan boikot. Ayat ini menjadi “obat penenang” bahwa sumber rezeki bukan dari manusia, melainkan dari Sang Khaliq. [2]

Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang indah mengenai keseimbangan usaha dan kepasrahan:


لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً


“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini disampaikan untuk meluruskan pemahaman para sahabat tentang perbedaan antara tawakkul (berserah diri setelah berusaha) dan ta’akul (berpangku tangan). Burung tetap mengepakkan sayap (ikhtiar), namun batinnya tidak terbebani oleh ambisi tadbir yang mencemaskan. [3]

Syekh Ahmad Zarruq (Ulama Madzhab Maliki)

Dalam syarahnya, beliau membedakan dua jenis tadbir:

Tadbir Mazhmum (Tercela): Mengatur hasil yang dibarengi rasa cemas, ragu atas janji Allah, atau merasa diri sebagai penentu mutlak.

Tadbir Mahmud (Terpuji): Merencanakan amal ibadah dan menjalankan sebab (bekerja) karena menaati perintah Allah, tanpa mengikatkan hati pada hasilnya. [4]

Syekh Ibnu Ajibah (Penulis Iqazhul Himam)

Beliau menekankan bahwa mengistirahatkan pikiran dari tadbir adalah kunci Ma’rifatullah. Jika seorang hamba telah mencapai maqam ini, ia akan memandang setiap ketentuan Allah sebagai pilihan terbaik. Beliau berkata: “Barangsiapa yang menyerahkan tadbir-nya kepada Allah, ia akan hidup dalam naungan kenyamanan (raahah) yang abadi.” [5]

Imam Al-Ghazali (Hujjatul Islam)

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, beliau menegaskan bahwa tawakal bukan berarti memutus rantai sebab-akibat (bekerja). Tawakal adalah mengeluarkan ketergantungan hati terhadap “sebab” dan memindahkannya kepada “Sang Pencipta Sebab”. Hati tetap bersama Allah, sementara fisik sibuk berikhtiar. [6]

Hikmah ini tidak mengajarkan kita untuk menjadi pasif atau malas. Sebaliknya, Ibnu Atha’illah mengajak kita untuk melakukan pembagian tugas:

Tugas Hamba: Berusaha secara lahiriah (ikhtiar) sebagai bentuk adab menjalankan syariat.

Tugas Tuhan: Menentukan hasil dan menjamin kecukupan hamba-Nya.
Kesalahan manusia yang paling sering memicu depresi dan kecemasan adalah ketika ia mencoba mengambil alih “Tugas Tuhan” dengan memikirkan hasil secara berlebihan. Dengan mengistirahatkan batin dari tadbir, seorang hamba akan tetap produktif di dunia namun jiwanya tetap tenang di sisi Tuhannya.

Referensi

[1]: Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Kitab Al-Hikam, (Kairo: Dar al-Ma’arif), hal. 5. [2]: Imam Al-Wahidi, Asbabun Nuzul, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), hal. 264. [3]: Abu Isa At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Kitab Az-Zuhud, Hadis No. 2344. [4]: Ahmad Zarruq, Syarah Al-Hikam, (Surabaya: Al-Haramain), hal. 12-13. [5]: Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarh al-Hikam, (Libanon: Dar al-Fikr), hal. 34. [6]: Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid IV, Bab At-Tauhid wa At-Tawakkul, (Beirut: Darul Fikr), hal. 260.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment