تَنَاقُضُ الطَّلَبِ مِنَ الْحَقِّ: تَشْرِيحُ الْآدَابِ الْبَاطِنِيَّةِ عِنْدَ ابْنِ عَطَاءِ اللهِ
Dalam perjalanan spiritual, doa bukan sekadar sarana untuk meminta, melainkan cermin dari kualitas makrifat seorang hamba. Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari merumuskan etika batin dalam berdoa melalui empat teguran halus namun mendalam:
Syekh Ibnu Atha’illah merumuskan dalam kalam hikmahnya yang ke-21:
طَلَبُكَ مِنْهُ اتِّهَامٌ لَهُ، وَطَلَبُكَ لَهُ غَيْبَةٌ عَنْهُ، وَطَلَبُكَ لِغَيْرِهِ لِقِلَّةِ حَيَائِكَ مِنْهُ، وَطَلَبُكَ مِنْ غَيْرِهِ لِوُجُودِ بُعْدِكَ عَنْهُ
“Tuntutanmu kepada-Nya (agar diberi rezeki) adalah bentuk kurang percaya kepada-Nya. Tuntutanmu kepada-Nya (agar diperlihatkan Dzat-Nya) adalah bukti engkau tidak melihat-Nya. Tuntutanmu kepada selain-Nya adalah karena tipisnya rasa malumu kepada-Nya. Dan tuntutanmu dari selain-Nya adalah karena jauhnya engkau dari-Nya.” [1]
Menuntut rezeki kepada Allah dengan anggapan bahwa “jika tidak meminta, maka tidak akan diberi” menunjukkan kurangnya kepercayaan pada sifat Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Menurut hakikat tauhid, sikap ini mengabaikan janji Allah yang telah menetapkan rezeki setiap makhluk sejak zaman azali. Seorang hamba yang percaya sepenuhnya pada rahmat-Nya akan merasa cukup dengan pengetahuan Allah atas segala kebutuhannya.
Secara lahiriah, memohon agar “hampir” kepada Allah adalah baik. Namun, bagi kaum Muqarrabin, doa ini menunjukkan bahwa hamba tersebut belum menyadari kehadiran-Nya. Allah bukanlah Zat yang jauh sehingga perlu dipanggil untuk mendekat. Allah berfirman:
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf: 16)
Ketidakhadiran rasa “dekat” ini bukan karena Allah jauh, melainkan karena hati hamba yang masih tertutup oleh hijab materi.
Menjadikan materi, kemegahan dunia, bahkan karomah sebagai tujuan akhir dalam ibadah adalah bukti tipisnya rasa malu kepada Allah. Hati yang tertuju pada selain Allah menunjukkan bahwa hamba tersebut berpaling dari Sang Pemilik Kerajaan demi mengejar sesuatu yang fana.
Berusaha mendapatkan kekayaan atau kedudukan dengan hanya bersandar pada makhluk tanpa menghadirkan ingatan kepada Allah adalah indikasi nyata bahwa seseorang sedang jauh dari-Nya. Meski secara lahiriah kita berinteraksi dengan sesama manusia, batiniah harus tetap terpaku pada tawakal kepada Sang Maha Kuasa.
Segala sesuatu, mulai dari kemuliaan hingga rezeki, berada dalam genggaman-Nya, sebagaimana firman Allah:
قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلْمُلْكِ تُؤْتِى ٱلْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ ۖ بِيَدِكَ ٱلْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Katakanlah (Muhammad): Wahai Allah pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki…” (QS. Ali Imran: 26-27)
Ayat ini turun ketika Rasulullah SAW menjanjikan umatnya kemenangan atas kerajaan Romawi dan Persia. Kaum munafik meragukan hal tersebut. Allah menurunkan ayat ini untuk menegaskan bahwa rezeki dan kekuasaan adalah murni kehendak-Nya, bukan karena tuntutan manusia semata. [2]
Syekh Ahmad Zarruq (Ulama Syadziliyah)
Beliau menjelaskan bahwa doa dibagi menjadi dua: Doa Ibadah dan Doa Mas’alah (permintaan). Hikmah Ibnu Atha’illah ini mengkritik mereka yang menjadikan doa hanya sebagai Mas’alah karena meragukan pembagian rezeki dari Allah (Ittiham). Menurut Syekh Zarruq, hamba yang sejati berdoa bukan untuk merubah takdir, tapi untuk menampakkan kehambaan (izh-harul ‘ubudiyah). [3]
Imam Al-Ghazali (Hujjatul Islam)
Dalam Ihya Ulumuddin, beliau membagi pilar I’tisham (berpegang teguh) menjadi Ilmu, Hal, dan Amal. Beliau menyatakan bahwa jika seorang hamba telah memiliki Ilmu bahwa Allah Maha Mengetahui hajatnya, maka Hal-nya akan menjadi tenang (tawakal), sehingga tuntutannya berubah dari “meminta rezeki” menjadi “meminta rida”. [4]
Syekh Ibnu Ajibah (Iqazhul Himam)
Beliau menjelaskan empat kondisi menuntut dalam hikmah ini:
- Menuntut rezeki: Menunjukkan hati yang belum yakin pada janji Ar-Razzaq.
- Menuntut kedekatan: Menunjukkan mata hati yang masih tertutup, karena Allah sudah dekat tanpa perlu “dicari” secara lokasi.
- Menuntut dunia (selain Allah): Menunjukkan hilangnya rasa malu karena bertamu ke rumah Raja (Allah) tapi meminta pada pelayan (makhluk).
- Menuntut dari makhluk: Menunjukkan jauhnya jarak batin antara hamba dengan Penciptanya. [5]
Struktur Perbedaan Doa
| Sifat Doa | Orang Awam | Hamba Muqarrabin |
| Tujuan | Mencapai hajat duniawi/keramat | Menjalankan perintah Allah (Ubudiyah) |
| Landasan | Keinginan nafsu (Syahwat) | Kepatuhan pada adab (Adab) |
| Pandangan | Allah jauh, harus dipanggil | Allah dekat, cukup disyukuri |
| Hasil | Kecewa jika tidak dikabulkan | Rida pada setiap ketentuan |
Doa yang baik adalah do’a yang lahir dari kesadaran bahwa Allah telah memerintahkan kita untuk berdoa (QS. Al-Mukmin: 60), bukan karena kita merasa Allah tidak tahu kebutuhan kita. Berdoalah sebagai bentuk ibadah, bukan sebagai bentuk tuntutan kepada Allah SWT.
“Janganlah permohonanmu menjadi penyebab rezekimu kau dapati, melainkan jadikanlah ia sebagai sarana pengakuan bahwa kau adalah hamba yang butuh kepada-Nya.”
Referensi
[1]: Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Kitab Al-Hikam, (Kairo: Dar al-Ma’arif), hal. 106. [2]: Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Jilid 2, (Riyadh: Dar Thayyibah), hal. 26. [3]: Syekh Ahmad Zarruq, Syarah Al-Hikam, (Surabaya: Al-Haramain), hal. 107. [4]: Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid IV, (Beirut: Darul Fikr), hal. 265.[5]: Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam fi Syarh al-Hikam, (Libanon: Dar al-Fikr), hal. 108.





Comment