Lenterareligi.com_Jauh sebelum era Wali Songo yang dikenal secara kolektif, sejarah lisan dan serat-serat lama mencatat kedatangan seorang ulama besar dari Persia bernama Syekh Subakir. Beliau memiliki nama lengkap Syekh Tambuh Aly bin Syekh Baqir (populer dengan nama Syekh Subakir) bin Abdullah bin Aly bin Ahmad bin Aly bin Ahmad, yang silsilahnya bersambung hingga sahabat Nabi SAW, Salman Al-Farisi [1].
Beliau tiba di Nusantara pada tahun 1404 Masehi (awal abad ke-15) hingga sekitar tahun 1462 Masehi. dengan tugas spesifik: melakukan “ruwat” atau pembersihan spiritual agar Islam bisa tumbuh di tanah Jawa yang saat itu dianggap sangat keras secara klenik dan dipenuhi energi negatif.
Menanamkan Moderasi (Wasathiyah) di Tengah Kemajemukan
Syekh Subakir memahami bahwa dakwah tidak bisa dilakukan dengan penghancuran total terhadap struktur sosial yang ada. Beliau menerapkan prinsip Wasathiyah (moderasi), yakni mengambil jalan tengah antara keteguhan akidah dan keluwesan budaya. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah (2:143):
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan (umat pertengahan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” [2]
Simbolisme “Tumbal”: Dari Persembahan Menuju Perlindungan
Legenda paling masyhur dalam dakwah beliau adalah penanaman “Tumbal” di Gunung Tidar. Dalam konteks budaya Jawa saat ini, istilah tumbal sering dikonotasikan negatif. Namun, Syekh Subakir memaknainya sebagai simbol perlindungan atau paku bumi. Beliau menanam batu hitam berajah asma Allah untuk menenangkan “gejolak” energi negatif di Jawa.
Tindakan ini adalah edukasi tauhid bahwa hanya Allah-lah pelindung sejati dari segala gangguan yang tampak maupun tidak tampak, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surah An-Naas (114:1-3):
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ (١) مَلِكِ ٱلنَّاسِ (٢) إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ (٣)
“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Rajanya manusia. Sembahan manusia.’” [3]
Diplomasi Budaya: Dialog dengan “Sabdo Palon”
Dalam narasi pewayangan dan serat (seperti Serat Dharmogandhul), dikisahkan Syekh Subakir berdialog dengan Sabdo Palon, simbol penjaga spiritual Jawa. Kesepakatan besar tercapai: Islam diperbolehkan masuk ke Jawa asalkan tidak menghilangkan identitas dan “kejawaan” masyarakatnya. Syekh Subakir menyetujuinya, yang kemudian menjadi akar akulturasi budaya Islam Nusantara yang damai. Hal ini selaras dengan hadis Rasulullah SAW mengenai kemudahan dalam beragama:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama melainkan ia akan kalah (kewalahan) sendiri.” (HR. Bukhari) [4]
4. Simbolisme Tasawuf: Pembersihan Batin
Bagi Syekh Subakir, aktivitas menanam paku di bumi adalah metafora dari menanamkan tauhid ke dalam hati manusia. Sebelum “bangunan” Islam didirikan, pondasi “pembersihan” (tathhir) harus dilakukan terlebih dahulu. Tanah Jawa yang “angker” adalah simbol bagi hati manusia yang masih dipenuhi berhala nafsu dan keangkuhan. Sebagaimana sabda Nabi SAW mengenai peran sentral hati:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa ia adalah Hati.” (HR. Bukhari & Muslim) [5]
Refrensi
[1] Manuskrip Sejarah Syekh Subakir, yang sering dirujuk dalam literatur lokal dan silsilah para wali di Jawa, menyebutkan garis keturunan beliau yang bersambung hingga sahabat Salman Al-Farisi. [2] QS. Al-Baqarah [2]: 143. Ayat ini mendasari metode dakwah yang tidak ekstrem, menjaga keseimbangan antara norma agama dan realitas sosial. [3] QS. An-Naas [114]: 1-3. Penggunaan ayat perlindungan (Mu’awwidzatain) adalah inti dari praktik pembersihan spiritual untuk mengalihkan ketergantungan masyarakat dari kekuatan mistis ke kekuatan Allah.[4] HR. Bukhari No. 39. Hadis ini menjadi pedoman bagi para da’i awal untuk menyebarkan Islam dengan cara yang merangkul dan tidak memberatkan masyarakat awam. [5] HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599. Menjelaskan esensi perjuangan Syekh Subakir sebagai bentuk spiritual cleansing (pembersihan batin) sebelum menanamkan nilai-nilai keimanan.





Comment