كَشْفُ أَسْرَارِ الْمَوَاقِيتِ الْخَمْسِ, لِمَاذَا قَلَّلَ اللهُ أَعْدَادَهَا وَضَاعَفَ أَمْدَادَهَا
Untaian hikmah dari Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam.
الصَّلَاةُ مَحَلُّ الْمُنَاجَاةِ، وَمَعْدِنُ الْمُصَافَاةِ، تَتَّسِعُ فِيهَا مَيَادِينُ الْأَسْرَارِ، وَتُشْرِقُ فِيهَا شَوَارِقُ الْأَنْوَارِ. عَلِمَ وُجُودَ الضَّعْفِ مِنْكَ فَقَلَّلَ أَعْدَادَهَا، وَعَلِمَ احْتِيَاجَكَ إِلَى فَضْلِهِ فَكَثَّرَ أَمْدَادَهَا.
“Shalat adalah tempat bermunajat (berdialog dengan Allah) dan sumber penyucian hati (keikhlasan). Di dalam shalat, terbentang luas medan rahasia-rahasia Ilahi, dan terbit darinya cahaya-cahaya makrifat. Allah mengetahui adanya kelemahan dalam dirimu, maka Dia menyedikitkan jumlah rakaatnya. Dan Dia mengetahui kebutuhanmu akan karunia-Nya, maka Dia memperbanyak limpahan bantuan (pahala dan pertolongan)-Nya.” [1]
Hikmah di atas bersandar pada firman Allah SWT mengenai fungsi shalat sebagai media dzikir dan penenang jiwa:
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku..” (QS. Thaha [20]: 14) [2]
Secara khusus, ayat ini diturunkan ketika Nabi Musa as. pertama kali menerima wahyu di Lembah Tuwa. Allah memerintahkan shalat sebagai sarana utama makhluk berkomunikasi langsung dengan Khalik-Nya tanpa perantara, agar hati senantiasa terjaga dalam kesadaran tauhid. [3]
Mengenai potongan hikmah “Dia menyedikitkan jumlahnya dan melipatgandakan bantuannya,” hal ini merujuk langsung pada peristiwa Isra Mikraj:
وَحَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى التُّجِيبِيُّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ كَانَ أَبُو ذَرٍّ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ” فُرِجَ سَقْفُ بَيْتِي وَأَنَا بِمَكَّةَ فَنَزَلَ جِبْرِيلُ صلى الله عليه وسلم فَفَرَجَ صَدْرِي ثُمَّ غَسَلَهُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ جَاءَ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مُمْتَلِئٍ حِكْمَةً وَإِيمَانًا فَأَفْرَغَهَا فِي صَدْرِي ثُمَّ أَطْبَقَهُ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي فَعَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ فَلَمَّا جِئْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا قَالَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – لِخَازِنِ السَّمَاءِ الدُّنْيَا افْتَحْ . قَالَ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا جِبْرِيلُ . قَالَ هَلْ مَعَكَ أَحَدٌ قَالَ نَعَمْ مَعِيَ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم . قَالَ فَأُرْسِلَ إِلَيْهِ قَالَ نَعَمْ فَفَتَحَ – قَالَ – فَلَمَّا عَلَوْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَإِذَا رَجُلٌ عَنْ يَمِينِهِ أَسْوِدَةٌ وَعَنْ يَسَارِهِ أَسْوِدَةٌ – قَالَ – فَإِذَا نَظَرَ قِبَلَ يَمِينِهِ ضَحِكَ وَإِذَا نَظَرَ قِبَلَ شِمَالِهِ بَكَى – قَالَ – فَقَالَ مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالاِبْنِ الصَّالِحِ – قَالَ – قُلْتُ يَا جِبْرِيلُ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا آدَمُ صلى الله عليه وسلم وَهَذِهِ الأَسْوِدَةُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ نَسَمُ بَنِيهِ فَأَهْلُ الْيَمِينِ أَهْلُ الْجَنَّةِ وَالأَسْوِدَةُ الَّتِي عَنْ شِمَالِهِ أَهْلُ النَّارِ فَإِذَا نَظَرَ قِبَلَ يَمِينِهِ ضَحِكَ وَإِذَا نَظَرَ قِبَلَ شِمَالِهِ بَكَى – قَالَ – ثُمَّ عَرَجَ بِي جِبْرِيلُ حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الثَّانِيَةَ . فَقَالَ لِخَازِنِهَا افْتَحْ – قَالَ – فَقَالَ لَهُ خَازِنُهَا مِثْلَ مَا قَالَ خَازِنُ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَفَتَحَ ” . فَقَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ فَذَكَرَ أَنَّهُ وَجَدَ فِي السَّمَوَاتِ آدَمَ وَإِدْرِيسَ وَعِيسَى وَمُوسَى وَإِبْرَاهِيمَ – صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ – وَلَمْ يُثْبِتْ كَيْفَ مَنَازِلُهُمْ غَيْرَ أَنَّهُ ذَكَرَ أَنَّهُ قَدْ وَجَدَ آدَمَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – فِي السَّمَاءِ الدُّنْيَا وَإِبْرَاهِيمَ فِي السَّمَاءِ السَّادِسَةِ . قَالَ ” فَلَمَّا مَرَّ جِبْرِيلُ وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِإِدْرِيسَ – صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ – قَالَ مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالأَخِ الصَّالِحِ – قَالَ – ثُمَّ مَرَّ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا فَقَالَ هَذَا إِدْرِيسُ – قَالَ – ثُمَّ مَرَرْتُ بِمُوسَى – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – فَقَالَ مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالأَخِ الصَّالِحِ – قَالَ – قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا مُوسَى – قَالَ – ثُمَّ مَرَرْتُ بِعِيسَى فَقَالَ مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالأَخِ الصَّالِحِ . قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ – قَالَ – ثُمَّ مَرَرْتُ بِإِبْرَاهِيمَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – فَقَالَ مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالاِبْنِ الصَّالِحِ – قَالَ – قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا إِبْرَاهِيمُ ” . قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي ابْنُ حَزْمٍ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ وَأَبَا حَبَّةَ الأَنْصَارِيَّ كَانَا يَقُولاَنِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” ثُمَّ عَرَجَ بِي حَتَّى ظَهَرْتُ لِمُسْتَوًى أَسْمَعُ فِيهِ صَرِيفَ الأَقْلاَمِ ” . قَالَ ابْنُ حَزْمٍ وَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” فَفَرَضَ اللَّهُ عَلَى أُمَّتِي خَمْسِينَ صَلاَةً – قَالَ – فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ حَتَّى أَمُرَّ بِمُوسَى فَقَالَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ مَاذَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ – قَالَ – قُلْتُ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسِينَ صَلاَةً . قَالَ لِي مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَرَاجِعْ رَبَّكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ تُطِيقُ ذَلِكَ – قَالَ – فَرَاجَعْتُ رَبِّي فَوَضَعَ شَطْرَهَا – قَالَ – فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – فَأَخْبَرْتُهُ قَالَ رَاجِعْ رَبَّكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ تُطِيقُ ذَلِكَ – قَالَ – فَرَاجَعْتُ رَبِّي فَقَالَ هِيَ خَمْسٌ وَهْىَ خَمْسُونَ لاَ يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَىَّ – قَالَ – فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ رَاجِعْ رَبَّكَ . فَقُلْتُ قَدِ اسْتَحْيَيْتُ مِنْ رَبِّي – قَالَ – ثُمَّ انْطَلَقَ بِي جِبْرِيلُ حَتَّى نَأْتِيَ سِدْرَةَ الْمُنْتَهَى فَغَشِيَهَا أَلْوَانٌ لاَ أَدْرِي مَا هِيَ – قَالَ – ثُمَّ أُدْخِلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا فِيهَا جَنَابِذُ اللُّؤْلُؤِ وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ ” .
“Anas bin Malik melaporkan: Abu Dharr biasa menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Atap rumahku dibelah ketika aku di Mekkah dan Jibril turun dan membuka hatiku dan kemudian mencucinya dengan air Zamzam. Dia kemudian membawa sebuah baskom emas yang penuh dengan hikmah dan iman dan setelah mengosongkannya ke dalam dadaku, dia menutupnya. Kemudian dia menggenggam tanganku dan membawaku naik ke langit, dan ketika kami sampai di langit yang terendah, Jibril berkata kepada penjaga langit yang terendah: ‘Buka.’ Dia bertanya siapa yang ada di sana? Dia menjawab: ‘Ini Jibril.’ Dia bertanya lagi apakah ada orang bersamanya. Dia menjawab: ‘Ya, ini Muhammad bersamaku.’ Dia ditanya apakah dia diutus, dia (Jibril) menjawab: ‘Ya.’ Kemudian dia membuka (pintu). Ketika kami naik ke langit yang terendah (aku melihat) seorang lelaki duduk dengan kelompok di sebelah kanan dan kelompok di sebelah kirinya. Ketika dia melihat ke kanan, dia tertawa dan ketika dia melihat ke kiri, dia menangis. Dia berkata: ‘Selamat datang kepada nabi yang saleh dan anak yang saleh.’ Aku bertanya kepada Jibril siapa dia dan dia menjawab: ‘Dia adalah Adam (semoga keselamatan tercurah kepadanya) dan kelompok ini di sebelah kanan dan di sebelah kirinya adalah jiwa keturunannya. Mereka yang di sebelah kanannya adalah penghuni surga dan kelompok yang di sebelah kirinya adalah penghuni neraka; jadi ketika dia melihat ke kanan, dia tertawa, dan ketika dia melihat ke kiri, dia menangis. Kemudian Jibril membawaku naik ke langit kedua. Dia meminta penjaganya untuk membuka (pintunya), dan penjaganya menjawab dengan cara yang sama seperti penjaga langit yang terendah telah berkata. Dia (membukanya). Anas bin Malik berkata: Dia (Nabi yang Mulia) menyebutkan bahwa dia menemukan di langit Adam, Idris, Isa, Musa, dan Ibrahim (semoga keselamatan tercurah kepada mereka semua), tetapi dia tidak memastikan tentang sifat tempat tinggal mereka kecuali bahwa dia menemukan Adam di langit yang terendah dan Ibrahim di langit yang keenam. Ketika Jibril dan Rasulullah SAW melewati Idris (semoga keselamatan tercurah kepadanya) dia berkata: ‘Selamat datang kepada nabi yang saleh dan saudara yang saleh.’ Dia (penutur) berkata: Dia kemudian melanjutkan dan berkata: ‘Siapa dia?’ Jibril menjawab: ‘Ini Idris.’ Kemudian aku melewati Musa (semoga keselamatan tercurah kepadanya) dan dia berkata: ‘Selamat datang kepada nabi yang saleh dan saudara yang saleh.’ Aku berkata kepada (Jibril): ‘Siapa dia?’ Dia menjawab: ‘Ini Musa.’ Kemudian aku melewati Isa dan dia berkata: ‘Selamat datang kepada nabi yang saleh dan saudara yang saleh.’ Aku berkata (kepada Jibril): ‘Siapa dia?’ Dia menjawab: ‘Ini Isa, putra Maryam.’ Dia (Rasulullah) berkata: Kemudian aku pergi kepada Ibrahim (semoga keselamatan tercurah kepadanya). Dia berkata: ‘Selamat datang kepada nabi yang saleh dan anak yang saleh.’ Aku bertanya: ‘Siapa dia?’ Dia (Jibril) menjawab: ‘Ini Ibrahim.’ Ibn Shihab berkata: Ibn Hazm memberitahuku bahwa Ibn Abbas dan Abu Habba Al-Ansari biasa berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Kemudian dia membawaku naik hingga aku dibawa ke tempat yang tinggi di mana aku mendengar suara pena.’ Ibn Hazm dan Anas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Kemudian Allah mewajibkan lima puluh shalat bagi umatku dan aku kembali dengan itu dan melewati Musa. Musa (semoga keselamatan tercurah kepadanya) berkata: ‘Apa yang diperintahkan Tuhanmu kepada umatmu?’ Aku berkata: ‘Lima puluh shalat telah diwajibkan kepada mereka.’ Musa (semoga keselamatan tercurah kepadanya) berkata: ‘Kembali kepada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan mampu menanggung beban ini.’ Kemudian aku kembali kepada Tuhanku dan Dia mengurangi sebagian darinya. Aku kemudian pergi kembali kepada Musa (semoga keselamatan tercurah kepadanya) dan memberitahunya tentang hal itu. Dia berkata: ‘Kembali kepada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan mampu menanggung beban ini.’ Aku kemudian kembali kepada Tuhanku dan Dia berkata: ‘Mereka lima dan pada saat yang sama lima puluh, dan apa yang telah dikatakan tidak akan diubah.’ Aku kemudian kembali kepada Musa dan dia berkata: ‘Kembali kepada Tuhanmu.’ Aku berkata: ‘Aku merasa malu kepada Tuhanku.’ Jibril kemudian membawaku hingga kami sampai di Sidratul Muntaha. Banyak warna menutupi itu yang aku tidak tahu. Kemudian aku diizinkan masuk ke surga dan melihat di dalamnya kubah-kubah dari mutiara, dan tanahnya adalah misk.” (HR. Muslim) [4]
Hadis ini muncul sebagai dialog pasca-perjalanan mikraj Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha. Latar belakangnya adalah sifat kasih sayang Allah (Rahman dan Rahim) yang mengukur kelemahan fisik umat akhir zaman, namun tetap ingin memenuhi kebutuhan spiritual mereka akan pahala yang besar. [5]
Syekh Ibnu Abbad ar-Rundhi (Syarah Al-Hikam)
Dalam kitabnya Ghaitsul Mawahib al-Aliyyah, beliau menjelaskan: “Shalat dijadikan tempat munajat karena shalat menggugurkan pandangan kepada makhluk. Ketika hamba takbir (Allahu Akbar), ia telah melempar dunia ke belakang punggungnya. Di situlah tirai (hijab) hati tersingkap, sehingga Asrar (rahasia ketuhanan) terpancar ke dalam ruhaninya.” [6]
Imam al-Ghazali (Ihya Ulumuddin)
Sufi agung bermazhab Syafi’i ini menekankan sisi khasyiah (takut dan takzim) dalam shalat: “Shalat adalah timbangan. Barangsiapa memenuhinya dengan sempurna (khusyuk dan hadir hati), maka ia akan menerima balasan yang sempurna. Cahaya (Anwar) yang dimaksud Ibnu Atha’illah adalah tersingkapnya keagungan Allah di dalam hati orang yang shalat, yang tidak bisa didapatkan melalui ibadah lahiriah semata.” [7]
Syekh Ahmad Zarruq (Ulama Maliki & Tokoh Thariqah Syadziliyah)
Beliau menambahkan dimensi praktis thariqah: “Sifat malas dan lemah adalah watak dasar jasad. Allah menyedikitkan jumlah shalat menjadi 5 waktu agar jasad tidak jenuh, namun Allah memberikan Amdad (suplai spiritual) setara 50 shalat agar ruh tidak kelaparan.” [8]
Novelty: pemikiran Ibnu Atha’illah dalam hikmah ini merubah paradigma beribadah dari Formalisme-Legalistik (Fikih Sentris) menuju Transformasi-Spiritual (Sufistik-Transformatif)
Referensi
[1] Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Matn al-Hikam, (Kairo: Dar al-Ma’arif, t.th.), hlm. 34. [2] Al-Qur’anul Karim, Surah Thaha, Ayat 14. [3] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an (Tafsir ath-Thabari), (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005), Jilid 16, hlm. 152. [4] Shahih Muslim, Kitab al-Iman, Bab al-Isra’ bi Rasulillah, No. Hadis 163. [5] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Kairo: Dar al-Hadits, 2011), Jilid 1, hlm. 548. [6] Ibnu Abbad ar-Rundhi, Ghaitsul Mawahib al-Aliyyah fi Syarh al-Hikam al-Atha’iyyah, (Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1970), Jilid 1, hlm. 128. [7] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, t.th.), Jilid 1, hlm. 159. [8] Ahmad Zarruq, Syarh al-Hikam al-Atha’iyyah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2007), hlm. 89.





Comment