When Priorities Are Misplaced, A Spiritual Reflection on Facing Modern Anxiety

عِنْدَمَا تُوضَعُ الْأَوْلَوِيَّاتُ فِي غَيْرِ مَحَلِّهَا: تَأَمُّلٌ رُوحِيٌّ فِي مُوَاجَهَةِ الْقَلَقِ الْمُعَاصِرِ

Mutiara hikmah yang sangat terkenal dari kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari.

اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِّنَ لَكَ، وَتَقْصِيرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَلِيلٌ عَلَى اِنْطِمَاسِ الْبَصِيرَةِ مِنْكَ

“Kesungguhamnu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu (oleh Allah) dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dibebankan kepadamu, itu merupakan tanda butanya bashirah (mata batin)”

Dalam memahami konsep rezeki dan ibadah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan pedoman yang sangat jelas di dalam Al-Qur’an:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ, مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أن يُطْعِمُونِ, إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ  

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) [2]

Menurut Imam Ath-Thabari dan ulama tafsir lainnya, ayat ini diturunkan untuk menegaskan tujuan utama penciptaan manusia dan jin, yaitu hanya untuk beribadah kepada Allah. Ayat ini juga berfungsi sebagai penenang bagi hamba-Nya bahwa rezeki telah dijamin oleh Allah. Manusia tidak perlu cemas atau menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk mengejar urusan duniawi yang telah dijamin (yaitu rezeki).

Rasulullah SAW bersabda :

أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا، وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik. Sesungguhnya jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya, meskipun ia terlambat mendapatkannya. Maka bertakwalah kepada Allah, carilah dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram.” (HR. Ibnu Majah, no. 2144 dan Ibnu Hibban) [3]

Hadis ini disampaikan oleh Rasulullah SAW untuk menenangkan jiwa para sahabat yang terkadang merasa khawatir mengenai masa depan dan rezeki mereka. Nabi SAW menegaskan bahwa rezeki sudah ditetapkan oleh Allah. Oleh karena itu, tugas manusia adalah berusaha dengan cara yang halal (ijmalu fi ath-thalab) tanpa harus meninggalkan kewajiban utamanya yaitu beribadah.

Syekh Muhammad bin Ibrahim ibn ‘Abbad ar-Rundi

Dalam kitab Ghaitsul Mawahib al-‘Aliyyah (Syarah Al-Hikam), beliau menjelaskan bahwa seorang hamba yang menghabiskan seluruh waktunya untuk mengejar rezeki yang telah dijamin, padahal ia melalaikan ibadah yang diperintahkan, menunjukkan bahwa hatinya tertutup oleh dunia. Ia lebih percaya kepada usahanya sendiri dibandingkan kepada janji Allah. [4]

Syekh Ahmad Zarruq

Dalam kitab Syarh al-Hikam, beliau menegaskan bahwa bashirah (mata batin) seseorang menjadi redup atau buta ketika ia tertipu oleh ilusi bahwa dirinya sendirilah yang mendatangkan rezeki. Sebaliknya, orang yang sadar (bashirah-nya terbuka) akan meyakini bahwa Allahlah Sang Penjamin, sehingga ia bisa menyeimbangkan antara ikhtiar yang wajar dan ibadah yang khusyuk. [5]

KH. Sholeh Darat (Ulama Nusantara)

Dalam kitab Syarah Al-Hikam berbahasa Jawa (Kitab Al-Mursyidul Amin atau sejenisnya), beliau mengajarkan bahwa sifat hirsh (terlalu berambisi terhadap dunia/rezeki) akan merusak keikhlasan ibadah. Beliau menekankan pentingnya tawakal agar manusia tidak diperbudak oleh rezeki yang sebenarnya telah diatur oleh-Nya. [6]

Hikmah di atas adalah pengingat spiritual agar kita tidak tertukar dalam memprioritaskan kehidupan:

Perkara yang dijamin (Rezeki): Tidak perlu dikejar dengan cara yang melampaui batas hingga melupakan akhirat.

Perkara yang dituntut (Ibadah dan Amal Shalih): Harus disungguh-sunggahi karena itulah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Novelty: Hikmah Ibnu Atha’illah terletak pada dekonstruksi kesadaran manusia yang keliru memprioritaskan pengejaran rezeki yang telah dijamin hingga melalaikan ibadah. Dengan mengubah fokus dari mengontrol hasil duniawi menjadi menjalankan ibadah, paradigma ini membebaskan manusia dari ilusi kontrol dan kecemasan hustle culture, sehingga mampu memulihkan kejernihan mata batin (bashirah) serta menghadirkan ketenangan sejati.

Referensi

[1]: Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Al-Hikam al-‘Atha’iyyah (Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah), hlm. 45. [2]: Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari), jilid 21, hlm. 530. [3]: Imam Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Kitab At-Tijarah, Bab Al-Iqtishad fi al-Thalab, Hadis No. 2144. [4]: Syekh Muhammad bin Ibrahim ibn ‘Abbad ar-Rundi, Ghaitsul Mawahib al-‘Aliyyah fi Syarh al-Hikam (Beirut: Darul Fikr, 1999), hlm. 78-79. [5]: Syekh Ahmad Zarruq, Syarh al-Hikam al-Atha’iyyah (Kairo: Dar al-Ma’arif), hlm. 112. [6]: KH. Sholeh Darat, Syarh Al-Hikam (Kajian tasawuf Nusantara), hlm. 89.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment