رَنِينُ الرُّوحِ, كَيْفَ تُمَيِّزُ بَيْنَ عِبَارَةِ الِاشْتِيَاقِ وَعِبَارَةِ الِاسْتِحْقَاقِ
Hikmah dari Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam
رُبَّمَا عَبَّرَ عَنِ المَقَامِ مَنِ اسْتَشْرَفَ عَلَيْهِ، وَرُبَّمَا عَبَّرَ عَنْهُ مَنْ وَصَلَ إِلَيْهِ؛ وَذَلِكَ يَلْتَبِسُ إِلَّا عَلَى صَاحِبِ بَصِيرَةٍ
“Bisa jadi orang yang mengungkapkan tentang suatu maqam (kedudukan spiritual) adalah orang yang baru sekadar memandangnya (ingin sampai), dan bisa jadi pula yang mengungkapkannya adalah orang yang telah sampai (wushul) kepadanya. Hal itu tampak serupa (samar) kecuali bagi orang yang memiliki mata batin (bashirah).” [1]
Dalam dunia tasawuf, kemampuan membedakan antara ucapan yang bersumber dari “rasa” (dzauq) dengan ucapan yang bersumber dari “akal/angan-angan”.
Allah SWT berfirman mengenai orang yang berbicara melampaui apa yang ia lakukan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2) [2]
Ayat ini turun ketika sebagian sahabat berkata, “Andai kami tahu amal apa yang paling dicintai Allah, tentu kami akan mengerjakannya.” Namun, setelah turun perintah jihad, sebagian merasa berat. Ayat ini menjadi peringatan agar seseorang tidak sekadar berteori atau mengklaim suatu kedudukan sebelum benar-benar teruji. [3]
Rasulullah SAW bersabda mengenai ketajaman mata batin:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اتَّقُوا فِرَاسَةَ المُؤْمِنِ، فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ»، ثُمَّ قَرَأَ: {إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ}
“Waspadalah kalian terhadap firasat orang mukmin, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah.” Kemudian beliau membaca ayat: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (al-mutawassimin).”[4]
Hadis ini muncul sebagai penegasan bahwa kedekatan hamba kepada Allah melalui ibadah sunnah akan memberikan “cahaya” pada indranya, sehingga ia mampu menembus tirai lahiriah yang samar bagi orang awam. [5]
Syekh Ahmad Zarruq (Wafat 899 H)
Dalam syarahnya, beliau menjelaskan bahwa orang yang istishraf (memandang dari jauh) bicaranya seringkali berlebihan dan penuh retorika karena ia terpesona oleh keindahan maqam tersebut. Sedangkan orang yang washil (sampai) bicaranya tenang, sederhana, namun berwibawa karena ia berbicara berdasarkan pengalaman (hal). [6]
Syekh Ibnu Ajibah (Wafat 1224 H)
Beliau memberikan analogi yang sangat relevan: “Perbedaan antara keduanya seperti orang yang mensifatkan madu karena melihat warnanya, dengan orang yang mensifatkan madu karena telah merasakan manisnya. Keduanya mungkin menggunakan kata yang sama, tapi getaran ruhnya berbeda.” [7]
Imam Al-Ghazali (Dalam Ihya Ulumuddin)
Al-Ghazali menekankan bahwa ilmu tentang maqamat (kedudukan spiritual) bisa dipelajari secara teoritis, namun hal (keadaan ruhani) tidak bisa dipelajari kecuali dengan mujahadah. Menurut beliau, orang yang bicara tanpa hal hanya akan memindahkan debu dari satu kitab ke kitab lain. [8]
Ibnu Atha’illah ingin memperingatkan para penempuh jalan spiritual (salik) agar tidak tertipu oleh orator atau penulis yang pandai bersilat lidah tentang tasawuf. Hanya mereka yang memiliki Bashirah (Mata Batin) yang bisa membedakan mana ucapan yang memiliki “ruh” dan mana yang hanya “gema”.
Novelty: “tulisan ini menawarkan kerangka kritis berbasis mata batin (bashirah) untuk memvalidasi orisinalitas ruhani, sekaligus menegaskan bahwa tasawuf sejati adalah realitas eksistensial, bukan sekadar diskursus tekstual.”
Referensi
[1] Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Matan al-Hikam, (Mesir: Dar al-Ma’arif), hlm. 45. [2] Al-Qur’an al-Karim, Surah Ash-Shaff, Ayat 2. [3]: Al-Wahidi, Asbabun Nuzul, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), hlm. 280. [4] HR. Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, Kitab Tafsir al-Qur’an, Hadis No. 3127. [5]: Al-Munawi, Faidhul Qadir, Syarah al-Jami’ al-Shaghir, Jilid 1, hlm. 143. [6]: Ahmad Zarruq, Syarah al-Hikam al-Athaiyyah, (Dar al-Bayruni), hlm. 112. [7]: Ibnu Ajibah, Iqadzul Himam fi Syarhil Hikam, (Surabaya: al-Hidayah), hlm. 156. [^8]: Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid 1, Kitab al-Ilm, hlm. 72.





Comment