تَفْكِيكُ الْأَنَا فِي الْعِبَادَةِ؛ نَحْوَ حَقِيقَةِ الْمَحَبَّةِ التَّجَرُّدِيَّةِ مِنْ مَنْظُورِ كِتَابِ الْحِكَمِ
Untaian hikmah dari kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari, tentang hakikat cinta sejati (Mahabbah):
لَيْسَ الْمُحِبُّ الَّذي يَرْجو مِنْ مَحْبوبِهِ عِوَضاً أَوْ يَطْلُبُ مِنْهُ غَرَضاً، فَإِنَّ الْمُحِبَّ مَنْ يَبْذُلُ لَكَ، لَيْسَ الْمُحِبُّ مَنْ تَبْذُلُ لَهُ.
“Bukanlah seorang pecinta sejati, ia yang masih mengharapkan imbalan dari kekasihnya atau menuntut suatu tujuan tertentu. Karena sesungguhnya, pecinta itu adalah yang berkorban untukmu, bukan yang menuntut pengorbananmu.” [1]
Allah SWT berfirman mengenai sifat hamba-hamba-Nya yang mulia:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا . إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Sambil berkata): ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih’.” (QS. Al-Insan: 8-9).
Menurut penafsiran Ibnu Abbas, ayat ini turun berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah radhiyallahu ‘anhuma yang memberikan jatah buka puasa mereka selama tiga hari berturut-turut kepada orang miskin, yatim, dan tawanan, meski mereka sendiri sangat membutuhkannya. [2]
Rasulullah SAW bersabda mengenai manisnya iman yang didasari cinta murni:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا…
“Tiga perkara yang jika ada pada seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: (salah satunya) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya…” (HR. Bukhari No. 16 dan Muslim No. 43). [3]
Hadis ini disampaikan Nabi untuk menekankan bahwa iman bukan sekadar status hukum, melainkan rasa (dzauq) yang hanya muncul jika cinta kepada Allah telah mengalahkan kepentingan pribadi (pamrih).
Syekh Ibnu Ajibah (W. 1224 H)
Dalam kitab Iqadzul Himam, beliau menjelaskan bahwa siapa yang menyembah Allah karena mengharap surga atau takut neraka, maka secara hakiki ia mencintai “dirinya sendiri” atau “pemberian Tuhan”, bukan mencintai “Tuhan” itu sendiri. Pecinta sejati adalah yang fana’ (lebur) dari kepentingannya. [4]
Imam Al-Ghazali (W. 505 H)
Dalam Ihya Ulumuddin, beliau membagi tingkatan cinta. Tingkatan tertinggi adalah cinta karena Dzat-Nya semata (Al-Hubb lillah), bukan karena manfaat yang diterima hamba. Beliau berkata: “Cinta yang bergantung pada tujuan akan hilang dengan hilangnya tujuan tersebut.” [5]
Rabi’ah Al-Adawiyah
Tokoh sufi wanita ini sangat masyhur dengan doanya yang mencerminkan kutipan di atas: “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena harap surga, tutuplah pintu surga bagiku. Tapi jika aku menyembah-Mu karena cinta pada-Mu, maka janganlah Engkau haramkan aku melihat Keindahan-Mu yang Abadi.”
Novelty : “Pemikiran Ibnu Atha’illah dalam hikmah ini terletak pada Dekonstruksi Ego dalam Ibadah, di mana beliau merombak paradigma transaksional (amal demi pahala) menjadi sebuah hubungan eksistensial yang murni. Beliau menawarkan perspektif bahwa Allah adalah “Pecinta Sejati” yang memberi tanpa butuh (Al-Ghani), sehingga seorang hamba yang beribadah tanpa pamrih sesungguhnya telah meniru sifat mulia ini dan naik ke derajat “Kekasih Allah”. Melalui konsep ini, beliau menegaskan bahwa menyisipkan “tujuan pribadi” (gharad) dalam ibadah merupakan bentuk halus dari kesyirikan terhadap hakikat cinta sejati, yang sejatinya sama sekali tidak menyisakan ruang untuk selain-Nya.”
Referensi
[1]: Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Al-Hikam, (Kairo: Dar al-Ma’arif), hal. 67. [2]: Al-Wahidi, Asbabun Nuzul, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), hal. 458. [3]: Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab Halawat al-Iman, No. Hadis 16. [4]: Ibnu Ajibah, Iqadzul Himam fi Syarh al-Hikam, (Surabaya: Al-Hidayah), hal. 212. [5]: Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid 4, (Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi), hal. 302.





Comment