The Acculturation of Sunan Kalijaga’s Da’wah: Islamicizing Culture, Culturizing Islam

lenterareligi.com_Sunan Kalijaga (Raden Said) dikenal sebagai figur “begawan” dakwah yang menggunakan pendekatan Al-Hikmah dan Mau’izhatul Hasanah. Beliau tidak serta-merta menghapus tradisi lama, melainkan memodifikasinya menjadi sarana tauhid. Strategi ini sejalan dengan firman Allah SWT:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS. An-Nahl [16]: 125)¹

Tradisi Kupatan (Bakda Kupat)

Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi “Bakda Kupat” seminggu setelah Idul Fitri. Secara filosofis, Kupat berasal dari bahasa Jawa Ngaku Lepat (mengakui kesalahan).

Modifikasi: Beliau mengubah simbolisme sesaji menjadi sedekah makanan.

Kandungan Islam: Mengajarkan sifat pemaaf dan silaturahmi, sebagaimana diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari No. 6138 & Muslim No. 2557)²

Tahlilan dan Kenduri

Sebelum Islam masuk, masyarakat Nusantara memiliki tradisi kirim doa untuk leluhur dengan ritual yang terkadang berseberangan dengan nilai tauhid. Sunan Kalijaga membelokkan substansinya:

Modifikasi: Mengganti mantra-mantra lama dengan kalimat thayyibah (Tahlil, Tasbih, Tahmid) serta pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Kandungan Islam: Mendoakan sesama Muslim yang telah wafat, sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami…'” (QS. Al-Hasyr [59]: 10)³

Wayang Kulit dan Gamelan

Sunan Kalijaga memodifikasi bentuk wayang agar tidak menyerupai manusia secara nyata guna menghindari larangan pembuatan patung/berhala. Beliau juga menyisipkan nilai Islam dalam lakonnya, seperti Jimat Kalimasada yang diartikan sebagai “Kalimat Syahadat“.

Modifikasi: Dakwah dilakukan melalui pertunjukan seni di mana penonton tidak dipungut biaya, melainkan cukup “membayar” dengan membaca dua kalimat syahadat.

Sekaten dan Grebeg

Tradisi ini digunakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Istilah “Sekaten” diyakini berasal dari kata Syahadatain (dua kalimat syahadat). Gamelan Kyai Guntur Madu ditabuh untuk menarik massa agar berkumpul di depan masjid guna mendengarkan syiar agama.⁴

Landasan Teologis Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Upaya akulturasi ini berakar pada misi utama Islam sebagai pembawa kasih sayang bagi semesta:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 107)

Tafsir Singkat: Rahmat di sini mencakup karunia dan petunjuk. Islam hadir bukan hanya untuk kaum Muslimin, namun manfaat etik, hukum, dan kedamaiannya harus dirasakan oleh seluruh makhluk, termasuk lingkungan hidup sekitar.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa misi utamanya adalah menyempurnakan kemuliaan karakter manusia:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad No. 8952 & Al-Bazzar No. 8949)⁵

Pentingnya menebar kasih sayang juga ditekankan dalam hadis berikut:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Kasihilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan mengasihimu.” (HR. Abu Dawud No. 4941 & Tirmidzi No. 1924)⁶

Kiprah Sunan Kalijaga membuktikan bahwa Islam tidak datang untuk menghancurkan identitas bangsa, melainkan untuk menyempurnakannya. Dengan prinsip Al-Muhafadzatu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik), beliau berhasil menjadikan Islam sebagai “Rahmatan lil ‘Alamin” di tanah Jawa.

Refrensi

¹ Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: PT Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), hal. 281. ² Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Hadis No. 6138; Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Hadis No. 2557. ³ Hamka, Tafsir Al-Azhar Jilid 9, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), hal. 332. ⁴ Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, (Depok: Pustaka IIMaN, 2016), hal. 235-240. ⁵ Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Hadis No. 8952; Al-Bazzar, Musnad Al-Bazzar, Hadis No. 8949. ⁶ Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Hadis No. 4941; At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Hadis No. 1924.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment