True bliss lies in union with Allah, and true torment lies in separation from Him

النَّعِيمُ فِي الوِصَالِ بِاللهِ، وَالعَذَابُ فِي الانْفِصَالِ عَنِ اللهِ

Mutiara hikmah dari kitab Al-Hikam karya Syeikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari,

النَّعِيمُ وَإِنْ تَنَوَّعَتْ مَظَاهِرُهُ إِنَّمَا هُوَ بِشُهُودِهِ وَاقْتِرَابِهِ، وَالْعَذَابُ وَإِنْ تَنَوَّعَتْ مَظَاهِرُهُ إِنَّمَا هُوَ لِوُجُودِ حِجَابِهِ. فَسَبَبُ الْعَذَابِ وُجُودُ الْحِجَابِ، وَإِتْمَامُ النَّعِيمِ بِالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِ اللهِ الْكَرِيمِ.

“Kenikmatan sejati itu, kendati bermacam bentuknya, sesungguhnya hanyalah dengan menyaksikan dan mendekat kepada Allah. Dan azab itu, walau beragam jenisnya, sesungguhnya hanyalah disebabkan adanya hijab (penghalang) dengan-Nya. Maka, sebab azab adalah adanya hijab, dan sempurnanya nikmat adalah dengan memandang wajah Allah Yang Maha Mulia.” Allah SWT berfirman:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)

Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang kafir dan pendusta yang menolak kebenaran ayat-ayat Allah. Imam Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mereka terhijab dari rahmat dan kemuliaan melihat Allah sebagai bentuk hukuman paling berat.¹

Tentang Memandang Wajah Allah sebagai Nikmat Tertinggi, Allah SWT berfirman:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus: 26)

Menurut penafsiran para sahabat dan diperkuat hadis Nabi, yang dimaksud dengan “Al-Husna” adalah surga, dan “Ziyadah” (tambahan) adalah melihat wajah Allah SWT.²

Rasulullah SAW bersabda:

 إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ.

“Apabila penduduk surga telah masuk surga, Allah berfirman: ‘Apakah kalian ingin Aku tambah sesuatu?’ Mereka menjawab: ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Nabi bersabda: ‘Lalu Allah membuka hijab (penghalang), maka tidak ada pemberian yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada Tuhan mereka’.” (HR. Muslim)³

Hadis ini disampaikan Rasulullah SAW untuk memotivasi para sahabat bahwa kenikmatan fisik di surga (makanan, bidadari, istana) tidak ada bandingannya dengan kelezatan ruhani saat memandang Allah (Ru’yatullah).

Syeikh Ibnu Ajiba (Pensyarah AlHikam)

Beliau menjelaskan bahwa bagi kaum Arifin (orang yang mengenal Allah), neraka itu bukan tentang api, melainkan tentang keterhijaban dari Allah. Sebaliknya, surga bukan tentang sungai susu, tapi tentang kedekatan dengan Sang Pencipta.”Siksa yang paling pedih bagi pecinta adalah perpisahan (hijab), dan nikmat paling agung bagi perindu adalah perjumpaan (musyahadah).”⁴

Imam Al-Ghazali (Ihya Ulumuddin)

Dalam kitab Mahabbah, Al-Ghazali menyatakan bahwa kelezatan melihat wajah Allah di akhirat adalah buah dari benih makrifat di Dunia. Barangsiapa yang tidak mengenal Allah di Dunia, dia akan terhijab di akhirat.⁵

Syeikh Zarruq (Ulama Syadziliyah)

Beliau menekankan bahwa “hijab” muncul karena syahwat dan ketergantungan pada selain Allah (aghyar). Selama hati masih terpaku pada Dunia, ia berada dalam “azab” meskipun secara lahiriah ia sedang bersenang-senang.⁶

Bagi seorang murid, fokus utama adalah membersihkan hati agar hijab tersingkap (Kasyf). Karena sehebat apa pun nikmat dunia, jika hati jauh dari Allah, ia tetap akan merasa hampa dan sesak (azab).

Novelty: Kebahagiaan sejati bukanlah kemewahan dunia, melainkan lapangnya hati saat terhubung dengan Tuhan. Penderitaan terdalam adalah “hijab” (penghalang ruhani) yang membuat jiwa merasa hampa meski bergelimang harta. Sebaliknya, kenikmatan tertinggi adalah musyahadah, kemampuan jiwa memandang keagungan Allah dalam setiap peristiwa, sehingga surga bukan lagi sekadar janji masa depan, melainkan ketenangan nyata yang dirasakan saat ini juga.

Referensi

¹ At-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Jilid 24, hal. 291. ² As-Suyuthi, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, hal. 124. ³ Shahih Muslim, Kitab al-Iman, Bab Isbat Ru’yatul Mu’minin Rabbahum, Hadis No. 181.Ibnu Ajiba, Iqadh al-Himam fi Syarh al-Hikam, hal. 156.Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Jilid 4, hal. 312.Syeikh Zarruq, Syarh al-Hikam al-Atha’iyyah, hal. 89.

pendaftaran Sertifikasi Halal

Comment